Denpasar, Bali – Para pelancong dan warga lokal di Pulau Dewata diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan menjelang hari Minggu, 1 Februari 2026, menyusul prakiraan cuaca ekstrem yang dirilis oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar. Prediksi menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Bali akan diguyur hujan dengan intensitas bervariasi, mulai dari ringan hingga sangat lebat, disertai potensi angin kencang dan gelombang laut tinggi. Kondisi ini berpotensi memicu berbagai bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, sehingga persiapan matang menjadi krusial bagi siapa pun yang berencana beraktivitas di luar ruangan.
Prakiraan Hujan Intensif dan Peringatan Dini Bencana
Menurut analisis mendalam dari BMKG, pada Minggu, 1 Februari 2026, pola cuaca di Bali akan didominasi oleh sistem tekanan rendah yang membawa massa udara lembap, memicu pembentukan awan hujan di berbagai daerah. Sejumlah wilayah diproyeksikan akan mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Area-area tersebut meliputi ibu kota provinsi, Denpasar, serta kabupaten-kabupaten penting seperti Bangli, Buleleng, Gianyar, Jembrana, Karangasem, Klungkung, dan Tabanan. Intensitas hujan yang bervariasi ini menuntut kewaspadaan, terutama bagi mereka yang tinggal di dataran rendah atau area rawan genangan.
Secara khusus, Kabupaten Badung, yang dikenal sebagai pusat pariwisata dengan ikon seperti Kuta dan Seminyak, diperkirakan akan menghadapi kondisi cuaca yang lebih ekstrem dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat. Hujan dengan kategori “sangat lebat” didefinisikan sebagai curah hujan di atas 50 mm per jam atau 150 mm per hari, yang sangat berisiko menyebabkan banjir bandang dan genangan air yang meluas dalam waktu singkat. Referensi tambahan dari BMKG juga menunjukkan bahwa pada hari-hari sebelumnya, seperti 31 Januari 2026, beberapa kabupaten seperti Bangli, Gianyar, dan Klungkung telah berada dalam status siaga untuk hujan lebat hingga sangat lebat, mengindikasikan bahwa kondisi ini merupakan pola yang berkelanjutan dan memerlukan perhatian serius.
Melihat potensi curah hujan yang tinggi, BMKG mengeluarkan peringatan dini akan ancaman bencana hidrometeorologi. Masyarakat diimbau untuk sangat waspada terhadap kemungkinan terjadinya tanah longsor, terutama di daerah perbukitan dan lereng yang labil, seperti di wilayah Bangli dan Kintamani yang memiliki topografi bergelombang. Risiko banjir juga meningkat drastis, baik banjir luapan sungai maupun banjir rob di area pesisir, serta genangan air di perkotaan akibat drainase yang tidak mampu menampung volume air yang besar. Selain itu, angin kencang yang menyertai hujan lebat dapat menyebabkan pohon tumbang, merusak infrastruktur, dan membahayakan pengguna jalan. Oleh karena itu, persiapan seperti membawa payung atau jas hujan menjadi langkah preventif yang sangat dianjurkan, dan lebih penting lagi, memantau informasi terkini dari pihak berwenang.
Analisis Mendalam Kondisi Atmosfer dan Maritim
Kondisi atmosfer di Bali pada Minggu, 1 Februari 2026, menunjukkan suhu udara yang akan berkisar antara 23 hingga 32 derajat Celsius. Kisaran suhu ini, meskipun masih dalam kategori hangat, akan terasa lebih sejuk di beberapa daerah dataran tinggi seperti Kintamani. Tingkat kelembapan udara diprediksi sangat tinggi, yakni antara 60 hingga 95 persen. Kelembapan yang tinggi ini merupakan indikator kuat adanya uap air melimpah di atmosfer, yang menjadi bahan bakar utama bagi pembentukan awan cumulonimbus penyebab hujan lebat.
Pergerakan angin juga menjadi faktor penting dalam dinamika cuaca. Angin diproyeksikan berhembus dari arah Barat Daya menuju Barat dengan kecepatan yang cukup bervariasi, yakni antara 6 hingga 36 kilometer per jam. Kecepatan angin yang mencapai 36 km/jam ini sudah tergolong kencang dan berpotensi menimbulkan dampak signifikan. BMKG secara spesifik mengeluarkan peringatan dini angin kencang untuk wilayah Badung. Peringatan ini selaras dengan data referensi yang menunjukkan potensi angin kencang juga di Denpasar, Gianyar, dan Klungkung pada hari-hari sekitar tanggal tersebut. Angin kencang dapat menyebabkan kerusakan ringan pada struktur bangunan, menerbangkan benda-benda ringan, dan mengganggu aktivitas transportasi, terutama penerbangan dan penyeberangan laut. Masyarakat di daerah yang terdampak diimbau untuk mengamankan barang atau benda-benda di luar ruangan yang berpotensi terbawa angin, seperti jemuran, tenda, atau papan reklame.

















