Federasi Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) baru-baru ini menghadapi konsekuensi finansial yang signifikan dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) menyusul serangkaian pelanggaran serius selama penyelenggaraan Piala Asia Futsal 2026 di Jakarta. Sanksi berupa denda sebesar USD 14.000, atau setara dengan sekitar Rp 235-236 juta, dijatuhkan kepada PSSI karena kegagalan dalam memastikan keamanan dan ketertiban di dua venue utama, Indonesia Arena dan Jakarta International Velodrome. Keputusan ini, yang wajib dilunasi dalam waktu 30 hari sejak diterbitkan, telah diterima sepenuhnya oleh PSSI tanpa rencana untuk mengajukan banding, menegaskan komitmen federasi terhadap kepatuhan regulasi dan tanggung jawabnya atas perkembangan futsal di tanah air.
Rincian denda yang dijatuhkan oleh AFC menunjukkan berbagai insiden yang mengindikasikan adanya celah dalam protokol keamanan dan manajemen acara. Pelanggaran pertama melibatkan denda sebesar USD 3.000 karena adanya individu yang masuk ke area akses terkontrol tanpa akreditasi yang sah. Kejadian ini menyoroti kelemahan dalam sistem pengawasan akses, yang krusial untuk menjaga integritas operasional dan keamanan area sensitif. Selanjutnya, insiden seorang suporter yang berhasil masuk ke lapangan memicu denda tambahan USD 3.000. Pelanggaran semacam ini tidak hanya mengganggu jalannya pertandingan tetapi juga menimbulkan risiko serius bagi keselamatan pemain, ofisial, dan suporter itu sendiri.
Pelanggaran paling substansial, dengan denda USD 5.000, terjadi karena kegagalan PSSI untuk memastikan keamanan stadion selama pertandingan penting antara Indonesia dan Korea Selatan di Indonesia Arena. Insiden ini mengindikasikan adanya kegagalan sistemik dalam manajemen kerumunan dan penegakan keamanan di salah satu venue utama, yang berpotensi membahayakan ribuan penonton. Tidak hanya itu, saat laga antara Iran dan Afghanistan, PSSI juga didenda USD 3.000 karena gagal menjaga ketertiban setelah lima penonton berhasil masuk ke lapangan. Serangkaian insiden ini secara kolektif mencerminkan kurangnya kontrol yang ketat terhadap lingkungan pertandingan, sebuah aspek fundamental dalam penyelenggaraan turnamen internasional.
PSSI Akui dan Terima Sanksi Tanpa Banding
Anggota Komite Eksekutif (Exco) PSSI, Arya Sinulingga, mengonfirmasi secara langsung penerimaan sanksi denda ini. Dalam pernyataannya di Jakarta pada Senin (9/2), Arya menegaskan bahwa PSSI tidak akan mengajukan banding terhadap keputusan AFC. “Benar, ya. Paling enggak supaya tahu, kan yang kena PSSI, denda,” ujar Arya, memberikan penekanan bahwa sanksi tersebut secara langsung ditujukan kepada federasi induk. Sikap PSSI untuk tidak mengajukan banding menunjukkan pengakuan atas pelanggaran yang terjadi dan kesediaan untuk memikul tanggung jawab atas insiden tersebut. Ini juga mencerminkan upaya PSSI untuk menjaga hubungan baik dengan AFC dan mematuhi regulasi yang telah ditetapkan.
“Ya diterima. Diterima dari AFC. Jadi, supaya netizen kan banyak enggak ngerti ya kalau futsal itu di bawah PSSI. Kadang-kadang ini, ini makanya perlu ada literasi bola gitu. Literasi-literasi sepak bola. Bahwa yang namanya futsal itu under-nya PSSI gitu. Tahu lah, pembiayaan aja kita biayai kok. Futsal yang kemarin [Piala Asia] kan kita biayain, besar lho kita biayain,” lanjut Arya. Penjelasan ini sangat krusial, mengingat masih banyak masyarakat yang belum memahami struktur organisasi olahraga di Indonesia. Arya memanfaatkan kesempatan ini untuk memberikan edukasi publik, menegaskan bahwa Federasi Futsal Indonesia (FFI) secara struktural merupakan anggota dan berada di bawah naungan PSSI. Ini berarti segala bentuk tanggung jawab, termasuk sanksi dan pembiayaan, pada akhirnya akan diemban oleh PSSI sebagai federasi induk. Pernyataan mengenai pembiayaan yang besar untuk futsal juga menyoroti komitmen finansial PSSI terhadap pengembangan olahraga ini.
Memperkuat Literasi Sepak Bola dan Tanggung Jawab Federasi
Penegasan Arya Sinulingga mengenai posisi futsal di bawah PSSI bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah pesan penting untuk meningkatkan “literasi sepak bola” di kalangan masyarakat. Banyak penggemar olahraga mungkin hanya mengenal PSSI sebagai induk sepak bola lapangan besar, tanpa menyadari bahwa cabang olahraga lain seperti futsal juga berada dalam lingkup tanggung jawabnya. Dengan adanya sanksi ini, PSSI secara tidak langsung mengedukasi publik tentang cakupan tugas dan kewenangannya yang lebih luas. Hal ini penting untuk membangun pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana tata kelola olahraga di Indonesia berjalan, termasuk alokasi sumber daya dan penanganan masalah. Tanggung jawab PSSI tidak hanya sebatas pada tim nasional sepak bola, tetapi juga mencakup pembinaan, pengembangan, dan kepatuhan regulasi untuk futsal, yang seringkali menuntut investasi finansial dan operasional yang tidak sedikit, seperti yang diungkapkan Arya.
Sanksi dari AFC ini bukan hanya sekadar denda finansial, tetapi juga menjadi pengingat keras bagi PSSI dan seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya standar internasional dalam penyelenggaraan acara olahraga. Kegagalan dalam memastikan keamanan dan ketertiban tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga dapat merusak reputasi Indonesia sebagai tuan rumah acara olahraga internasional di masa depan. PSSI, dengan menerima sanksi ini tanpa banding, menunjukkan keseriusan dalam mengatasi masalah dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan. Ini adalah kesempatan bagi federasi untuk meninjau ulang dan memperkuat protokol keamanan, manajemen kerumunan, dan sistem akreditasi guna memastikan bahwa insiden serupa tidak terulang di turnamen-turnamen mendatang. Pelajaran dari Piala Asia Futsal 2026 ini diharapkan dapat menjadi katalisator untuk peningkatan kualitas penyelenggaraan acara olahraga di Indonesia secara keseluruhan, demi kenyamanan dan keamanan semua pihak yang terlibat.

















