Jakarta, 19 Januari 2026 – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa nilai tukar rupiah akan kembali menguat seiring berjalannya waktu. Pernyataan optimis ini disampaikan di Kompleks Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di Jakarta pada Senin, 19 Januari 2026, sebuah forum penting yang sering menjadi panggung bagi pengumuman kebijakan strategis dan pernyataan resmi pemerintah. Kehadiran Purbaya di hadapan publik dan media di lokasi tersebut menggarisbawahi urgensi dan perhatian pemerintah terhadap fluktuasi mata uang domestik yang belakangan menjadi sorotan tajam di pasar finansial dan masyarakat luas. Keyakinan sang Menteri mencerminkan pandangan makroekonomi pemerintah yang melihat pelemahan rupiah sebagai fenomena sementara, bukan indikasi fundamental ekonomi yang rapuh.
Pernyataan tersebut muncul sebagai respons langsung terhadap pergerakan rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat dalam beberapa waktu terakhir. Pada penutupan perdagangan Senin sore, 19 Januari 2026, rupiah tercatat ditutup melemah signifikan sebesar 68 poin, mencapai level Rp 16.955 per dolar AS. Angka ini menunjukkan depresiasi dari posisi sebelumnya yang berada di level Rp 16.896 per dolar AS, mengindikasikan tekanan jual yang cukup kuat di pasar valuta asing. Pelemahan ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku usaha, investor, dan masyarakat umum, mengingat dampaknya terhadap harga barang impor, inflasi, serta beban utang luar negeri. Sementara itu, Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, memberikan proyeksi jangka pendek yang kurang menggembirakan. Ia memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak fluktuatif cenderung melemah, diperkirakan berada di kisaran Rp 16.950 hingga Rp 16.980 per dolar AS pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Prediksi ini menambah nuansa kehati-hatian di pasar, menyoroti ketidakpastian yang masih membayangi pergerakan mata uang domestik dalam waktu dekat.
Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar rupiah pada dasarnya sangat bergantung pada fundamental ekonomi yang kuat dan stabil. Untuk memperkuat argumentasinya, ia menyoroti kinerja gemilang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang pada perdagangan sore hari yang sama, ditutup di level tertinggi sepanjang sejarah, mencapai 9.133,87. Penguatan IHSG ini, menurut Purbaya, adalah indikator krusial yang menandakan adanya aliran dana asing yang substansial masuk ke pasar domestik. Ia berargumen bahwa mustahil penguatan IHSG yang sedemikian rupa hanya didorong oleh kekuatan investor dalam negeri semata. Masuknya modal asing ini, yang sering disebut sebagai capital inflow, menjadi sinyal positif kepercayaan investor global terhadap prospek ekonomi Indonesia, meskipun di tengah tekanan pelemahan rupiah. Fundamental ekonomi yang dimaksud Purbaya meliputi berbagai aspek makro seperti pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang solid, tingkat inflasi yang terkendali, surplus neraca perdagangan, serta cadangan devisa yang memadai. Faktor-faktor inilah yang diyakini Purbaya akan menjadi jangkar bagi penguatan rupiah dalam jangka panjang, terlepas dari volatilitas jangka pendek.
Menepis Spekulasi dan Menjaga Independensi Bank Sentral
Lebih lanjut, Purbaya juga secara tegas menyinggung adanya spekulasi yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan potensi ancaman terhadap independensi Bank Indonesia (BI). Spekulasi ini muncul setelah pengumuman mengenai Wakil Menteri Keuangan Thomas Aquinas Muliatna Djiwandono yang masuk dalam bursa calon Deputi Gubernur Bank Indonesia. Kekhawatiran publik dan pasar adalah bahwa penunjukan pejabat dari lingkaran pemerintahan dapat mengikis otonomi bank sentral dalam merumuskan dan melaksanakan kebijakan moneter, yang pada gilirannya dapat berdampak negatif pada kredibilitas dan stabilitas mata uang. Menanggapi kekhawatiran ini, Purbaya dengan lugas menyatakan, “Saya pikir enggak akan begitu. Nanti begitu insyaf juga langsung menguat lagi rupiah, karena pondasi ekonominya kita akan jaga.” Pernyataan ini mencerminkan upaya pemerintah untuk meredakan kekhawatiran pasar, menekankan komitmen untuk menjaga independensi BI dan memastikan bahwa keputusan moneter tetap didasarkan pada pertimbangan ekonomi yang objektif, bukan intervensi politik. Kepercayaan terhadap independensi bank sentral adalah pilar vital bagi stabilitas finansial dan kepercayaan investor, dan pemerintah berupaya keras untuk mempertahankan persepsi tersebut.
Strategi Komprehensif untuk Fondasi Ekonomi yang Kuat
Untuk memastikan bahwa pondasi ekonomi tetap kokoh dan resilient, Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan serangkaian strategi komprehensif yang akan diimplementasikan. Pertama, pemerintah akan memastikan likuiditas sistem finansial tercukupi. Likuiditas yang memadai sangat penting untuk menjaga kelancaran transaksi ekonomi, mendukung penyaluran kredit, dan mencegah gejolak di pasar uang. Kedua, pemerintah akan mengakselerasi program belanja pada awal tahun ini. Percepatan belanja pemerintah, terutama untuk proyek-proyek infrastruktur dan program-program sosial, diharapkan dapat menggerakkan sektor riil secara signifikan. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan efek pengganda ekonomi, meningkatkan permintaan domestik, dan mendorong pertumbuhan lapangan kerja. Ketiga, Purbaya menekankan pentingnya mengeliminasi hambatan atau debottleneck yang selama ini membebani para pengusaha dan investor. Hambatan ini bisa berupa birokrasi yang berbelit, perizinan yang lama, atau regulasi yang tidak efisien. Dengan menghilangkan hambatan-hambatan tersebut, diharapkan iklim investasi dan usaha menjadi lebih kondusif, mendorong ekspansi bisnis dan penciptaan nilai ekonomi.
Purbaya menegaskan bahwa pendekatan yang diambil adalah holistik dan terkoordinasi. “Kamu akan perbaiki suplai, demand, ekonomi investasi, kebijakan moneter, kebijakan fiskal, semuanya kita jalankan,” ujar Purbaya, menggarisbawahi cakupan luas dari intervensi pemerintah. Perbaikan di sisi suplai mencakup peningkatan kapasitas produksi dan efisiensi rantai pasok, sementara perbaikan di sisi demand berfokus pada stimulasi konsumsi domestik dan ekspor. Aspek ekonomi investasi


















