Kebocoran devisa negara dalam skala masif terus menghantui sektor kesehatan Indonesia, di mana angka fantastis mencapai Rp 160 triliun atau setara dengan US$ 10 miliar menguap ke luar negeri setiap tahunnya akibat preferensi masyarakat untuk mendapatkan layanan medis di mancanegara. Fenomena ini menjadi sorotan tajam Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, yang menegaskan bahwa ketergantungan masyarakat terhadap rumah sakit di negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Thailand, hingga Korea Selatan bukan sekadar masalah kesehatan, melainkan ancaman serius terhadap kedaulatan ekonomi dan kemandirian sains nasional. Dalam agenda peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) pada Jumat, 13 Februari 2026, pemerintah secara resmi memetakan strategi besar untuk mereformasi standar layanan medis domestik agar mampu bersaing di level internasional dan menghentikan aliran modal yang seharusnya dapat memperkuat infrastruktur kesehatan di dalam negeri.
Krisis kepercayaan masyarakat terhadap sistem kesehatan nasional ini dipandang sebagai sebuah ironi besar bagi dunia kedokteran Indonesia. Di tengah pertumbuhan jumlah fakultas kedokteran yang cukup signifikan, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pasien kelas menengah ke atas masih cenderung memilih terbang ke Penang atau Singapura untuk prosedur medis yang sebenarnya bisa dilakukan di dalam negeri. Brian Yuliarto menekankan bahwa angka Rp 160 triliun tersebut merupakan potensi ekonomi yang hilang (lost opportunity) yang sangat besar. Dana sebesar itu, jika dikelola di dalam negeri, mampu membangun ratusan rumah sakit modern dengan teknologi mutakhir serta membiayai riset medis yang transformatif. Oleh karena itu, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah bagaimana meningkatkan standar layanan hingga mencapai level global, sehingga masyarakat tidak lagi merasa perlu mencari alternatif pengobatan di luar perbatasan negara.
Kemandirian Medis: Strategi Membendung Arus Devisa dan Peningkatan Hospitality
Salah satu pilar utama dalam transformasi ini adalah mewujudkan kemandirian sistem kesehatan nasional. Brian membeberkan bahwa kemandirian tidak hanya berarti memiliki gedung rumah sakit yang megah, tetapi juga mencakup kedaulatan dalam penyediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten serta teknologi medis yang mumpuni. Ketergantungan pada layanan luar negeri harus dipangkas melalui pembenahan aspek fundamental, mulai dari kurikulum pendidikan kedokteran hingga budaya pelayanan di rumah sakit. Hal ini selaras dengan keresahan yang sering disampaikan oleh berbagai pihak, termasuk Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Habuwono, yang menyoroti bahwa salah satu alasan utama pasien Indonesia “melarikan diri” ke luar negeri adalah masalah hospitality atau keramahan serta pengalaman pasien (patient experience) yang dianggap jauh lebih baik di rumah sakit internasional.
Selain masalah pelayanan, aspek teknis seperti keberadaan “pusat unggulan” (center of excellence) menjadi kunci krusial. Selama ini, Indonesia dinilai masih kekurangan fasilitas kesehatan yang memiliki spesialisasi mendalam yang diakui secara global. Pemerintah, melalui kolaborasi lintas kementerian, kini tengah mendorong rumah sakit pendidikan untuk tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga menjadi pusat rujukan internasional. Upaya ini didukung oleh pandangan tokoh politik seperti Pramono Anung yang mengamini adanya kekurangan dalam pelayanan fasilitas kesehatan milik pemerintah, terutama dalam hal efisiensi dan kenyamanan pasien. Dengan memperbaiki kualitas layanan dari sisi sumber daya manusia dan teknologi, diharapkan arus devisa yang mengalir ke luar negeri dapat ditekan secara signifikan, sehingga ekonomi domestik tetap terjaga stabilitasnya.
Transformasi Pendidikan Spesialis dan Peran Strategis Muhammadiyah
Dalam upaya mempercepat pemenuhan kebutuhan dokter spesialis di Indonesia, peran organisasi besar seperti Muhammadiyah melalui jejaring Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA) menjadi sangat vital. Peluncuran 24 Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) baru di lingkungan PTMA merupakan langkah konkret untuk menjawab kelangkaan dokter spesialis yang selama ini menjadi salah satu pemicu antrean panjang dan ketidakpuasan pasien di dalam negeri. Brian Yuliarto memberikan apresiasi tinggi terhadap kontribusi Muhammadiyah, namun ia juga memberikan peringatan keras agar pengembangan program studi spesialis ini tidak terjebak dalam orientasi komersialisasi pendidikan semata. Fokus utama harus tetap pada kualitas, integritas, dan pengabdian kepada kemanusiaan.
Pendidikan dokter spesialis di bawah naungan PTMA diharapkan mampu melahirkan tenaga medis yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki etika profesi yang tinggi. Brian menekankan bahwa tujuan akhir dari program ini adalah membangun lebih banyak rumah sakit yang kompetitif secara global. Dengan adanya 24 PPDS yang tersebar di tujuh kampus unggulan, termasuk Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), hingga Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), distribusi dokter spesialis diharapkan dapat lebih merata ke seluruh pelosok tanah air. Langkah ini dipandang sebagai solusi inklusif untuk meningkatkan aksesibilitas layanan kesehatan berkualitas bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali.
Membangun Ekosistem Kesehatan yang Berdaya Saing Global
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agus Taufiqurrohman, menegaskan bahwa penambahan puluhan program spesialis ini adalah bagian dari komitmen organisasi untuk menghadirkan solusi atas persoalan bangsa. Menurutnya, pendidikan dokter spesialis bukan sekadar mencetak gelar, melainkan sebuah bentuk pengabdian untuk menjawab tantangan kesehatan melalui penguatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Muhammadiyah ingin memastikan bahwa setiap lulusan PPDS dari jaringan mereka memiliki daya saing yang setara dengan lulusan luar negeri, sehingga mampu meyakinkan masyarakat bahwa kualitas dokter dalam negeri tidak kalah hebat dibandingkan dokter di Singapura atau Korea Selatan.
Untuk mencapai visi tersebut, diperlukan sinergi yang kuat antara sektor pendidikan, pemerintah, dan industri kesehatan. Langkah strategis yang diambil meliputi:
- Peningkatan Fasilitas Laboratorium: Memastikan setiap kampus PTMA memiliki fasilitas riset medis yang mutakhir untuk mendukung inovasi di bidang kedokteran spesialis.
- Kolaborasi Internasional: Menjalin kemitraan dengan institusi medis global untuk pertukaran pengetahuan dan standarisasi layanan medis.
- Penguatan Budaya Melayani: Mengintegrasikan nilai-nilai hospitality dalam kurikulum pendidikan kedokteran untuk meningkatkan kenyamanan dan kepercayaan pasien.
- Digitalisasi Layanan Kesehatan: Mendorong penggunaan teknologi medis berbasis AI dan data besar untuk diagnosis yang lebih akurat dan efisien.
Dengan strategi yang komprehensif ini, Indonesia optimis dapat mengubah wajah sistem kesehatannya dalam beberapa tahun ke depan. Targetnya bukan hanya sekadar mengurangi angka masyarakat yang berobat ke luar negeri, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai destinasi wisata medis (medical tourism) di kawasan regional. Jika potensi ekonomi sebesar Rp 160 triliun tersebut dapat dikelola dan diputar di dalam negeri, maka sektor kesehatan akan menjadi salah satu motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan, sekaligus memastikan bahwa setiap warga negara mendapatkan hak atas layanan kesehatan terbaik di tanah airnya sendiri.

















