- Tekanan Mental Kronis: Korban mengalami trauma akibat insiden kekerasan fisik (pemukulan) yang pernah terjadi sebelumnya, yang memengaruhi keberaniannya untuk melapor.
- Ancaman yang Intens: Teman-teman sebaya korban mengonfirmasi bahwa pelaku sering memberikan intimidasi verbal yang membuat korban merasa tidak aman.
- Upaya Menyelamatkan Diri: ZAAQ sempat mencoba menjauh dan memutus komunikasi dengan pelaku karena merasa hubungan mereka sudah tidak sehat (toxic).
- Kepribadian yang Polos: Usia korban yang masih 14 tahun membuatnya tidak mampu mendeteksi potensi bahaya fatal dari konflik pertemanan remaja.
Karakter pelaku juga menjadi sorotan dalam penyelidikan ini. Berdasarkan keterangan yang diperoleh keluarga dari lingkungan sekolah pelaku di Garut, YA dikenal sebagai pribadi yang kerap membuat masalah atau “banyak tingkah”. Reputasi buruk ini seolah menjadi sinyalemen awal adanya kecenderungan sosiopat atau perilaku menyimpang yang gagal terdeteksi atau tertangani sejak dini. Ketidakmampuan pelaku dalam mengelola emosi dan rasa sakit hati karena ditolak dalam pertemanan akhirnya meledak menjadi aksi kekerasan yang terencana di area eks Kampung Gajah yang luas dan terpencil.
Kronologi dan Motif: Sakit Hati Berujung Maut di Area Terbengkalai
Penyelidikan mendalam oleh Polres Cimahi berhasil mengungkap kronologi mengerikan di balik hilangnya nyawa ZAAQ. Pada hari kejadian, 9 Februari 2026, pelaku YA mengajak korban untuk bertemu. Dengan dalih ingin membicarakan masalah mereka secara baik-baik, YA menggiring korban masuk ke dalam kawasan eks objek wisata Kampung Gajah. Pemilihan lokasi ini bukan tanpa alasan; YA merasa area depan gerbang terlalu ramai oleh lalu lalang kendaraan dan orang, sehingga ia membutuhkan tempat yang lebih sunyi untuk mengeksekusi niatnya. Sementara itu, pelaku lainnya, APM, berperan menjaga situasi di luar dengan tetap bersiaga di atas sepeda motor.
Di dalam keheningan reruntuhan wahana wisata yang dulu berjaya tersebut, terjadi percekcokan hebat antara YA dan ZAAQ. Pelaku yang sudah tersulut emosi karena merasa dikhianati oleh keinginan korban untuk mengakhiri pertemanan, akhirnya melakukan tindakan kekerasan fatal. ZAAQ ditemukan tewas mengenaskan beberapa hari kemudian, tepatnya pada Jumat malam, 13 Februari 2026, setelah pihak keluarga dan kepolisian melakukan pencarian intensif. Penemuan jasad di area yang kini dianggap angker tersebut menyisakan trauma mendalam bagi warga sekitar dan keluarga yang tidak menyangka konflik remaja bisa berakhir dengan pembunuhan berencana.
| Detail Kasus | Informasi Terkait |
|---|---|
| Identitas Korban | ZAAQ (14 Tahun), Siswa SMPN 26 Bandung |
| Identitas Pelaku | YA (16 Tahun) sebagai eksekutor, APM (17 Tahun) membantu aksi |
| Lokasi Kejadian | Eks Area Wisata Kampung Gajah, Parongpong, KBB |
| Motif Utama | Dendam dan sakit hati karena korban ingin memutus pertemanan |
| Waktu Penemuan | Jumat, 13 Februari 2026 (Malam Hari) |
Kepolisian resor Cimahi kini telah menetapkan YA dan APM sebagai tersangka. Meskipun keduanya masih dikategorikan sebagai anak di bawah umur, beratnya tindak pidana yang dilakukan membuat proses hukum tetap berjalan dengan pengawasan ketat. Polisi terus mendalami apakah ada unsur perencanaan yang lebih matang (premeditated murder) mengingat pemilihan lokasi yang sangat spesifik dan pembagian peran di antara kedua pelaku. Kasus ini juga memicu diskusi luas di kalangan pemerhati anak dan psikolog forensik mengenai fenomena kekerasan remaja yang kian ekstrem. Banyak pihak mendesak agar sistem deteksi dini terhadap perilaku perundungan di sekolah dan lingkungan rumah diperkuat, agar tanda-tanda tekanan mental seperti yang dialami ZAAQ dapat segera diintervensi sebelum terlambat.
Keluarga korban kini hanya bisa berharap agar keadilan ditegakkan seadil-adilnya bagi ZAAQ. Mereka menekankan pentingnya bagi para orang tua untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku anak-anak mereka. Perubahan sekecil apa pun, seperti menjadi lebih pendiam, menunjukkan gejala trauma, atau bercerita tentang ancaman dari teman, harus ditanggapi dengan serius dan tidak dianggap sebagai angin lalu. Tragedi di Kampung Gajah ini menjadi pengingat pahit bahwa di balik kepolosan usia remaja, terdapat potensi konflik yang jika tidak dikelola dengan benar, dapat berujung pada hilangnya nyawa dan masa depan yang hancur sia-sia.

















