Sebuah terobosan monumental dalam infrastruktur transportasi dan pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan segera terwujud dengan kehadiran Kelok 23. Jalur baru yang revolusioner ini, yang merupakan bagian integral dari Jalur Jalan Lintas Selatan (JJLS), dirancang untuk merevolusi cara wisatawan dan masyarakat umum menjelajahi keindahan pesisir selatan DIY. Kelok 23 secara spesifik merujuk pada segmen krusial yang membentang dari Kecamatan Kretek di Kabupaten Bantul, yang terkenal dengan Pantai Parangtritis yang legendaris, hingga mencapai Girijati di Kabupaten Gunungkidul. Pembangunan ruas sepanjang hampir 6 kilometer ini telah menyerap investasi anggaran sebesar Rp 341 miliar dan diproyeksikan untuk membuka tirai operasionalnya pada pertengahan tahun 2026, sebuah target waktu yang dipilih secara strategis setelah gelombang arus mudik dan balik libur Lebaran.
Lebih dari sekadar infrastruktur jalan biasa, Kelok 23 menjanjikan pengalaman berkendara yang tak tertandingi. Pengendara akan dimanjakan oleh panorama spektakuler Samudra Hindia yang membentang luas di sepanjang rute. Pemandangan pantai selatan yang memukau ini tidak hanya akan memperkaya pengalaman visual, tetapi juga secara signifikan memangkas waktu tempuh menuju berbagai destinasi pantai yang ikonik, baik di wilayah Bantul maupun Gunungkidul. Kemudahan akses ini diharapkan dapat mendorong peningkatan kunjungan wisatawan dan pada gilirannya, memacu pertumbuhan ekonomi di kedua kabupaten.
Progres Pembangunan dan Target Operasional
Menurut informasi terkini yang disampaikan oleh Koordinator Lapangan 1.2 Satker Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) DIY, Sukiswandi, pada hari Rabu, 21 Januari 2026, progres pembangunan ruas Kelok 23 telah mencapai tahap yang sangat matang, yaitu sebesar 89,3 persen. Tahap-tahap krusial yang masih menjadi fokus utama saat ini meliputi penyelesaian pembangunan jalan sepanjang 1,9 kilometer yang berada di wilayah Girijati, Kabupaten Gunungkidul. Selain itu, pembangunan sebuah jembatan dengan panjang 40 meter juga menjadi prioritas, bersamaan dengan proses pengaspalan akhir yang akan memberikan sentuhan final pada kualitas permukaan jalan. Menariknya, segmen Kelok 23 yang berada di teritorial Kabupaten Bantul telah rampung 100 persen, menunjukkan komitmen kuat dari kedua belah pihak untuk mewujudkan proyek ambisius ini. Namun, untuk mewujudkan operasionalisasi Kelok 23 secara keseluruhan, penyelesaian di sisi Gunungkidul tetap menjadi prasyarat mutlak.
Sukiswandi optimis bahwa target pembukaan ruas Kelok 23 untuk umum dapat terealisasi pada bulan Juli 2026. Periode ini dipilih untuk memastikan bahwa seluruh aspek konstruksi telah selesai dan teruji keamanannya, serta untuk menghindari potensi gangguan aktivitas pasca-pembukaan yang dapat disebabkan oleh tingginya volume kendaraan pasca-libur Lebaran. Kepastian jadwal ini memberikan harapan baru bagi masyarakat dan pelaku industri pariwisata yang telah lama menantikan kehadiran jalur penghubung yang strategis ini.
Potensi Kelok 23 sebagai Magnet Wisata Baru
Keberadaan Kelok 23 tidak hanya dipandang sebagai sebuah koridor transportasi logistik dan mobilitas masyarakat semata. Jauh melampaui fungsi utamanya, Kelok 23 diproyeksikan akan menjelma menjadi sebuah magnet pariwisata baru yang mampu menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara. Dinas pariwisata dari Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul telah menunjukkan kesiapan mereka dengan mengidentifikasi dan menyiapkan belasan titik strategis di sepanjang jalur ini untuk dikembangkan menjadi destinasi unggulan. Salah satu potensi yang sangat menarik adalah optimalisasi Gua Jepang, sebuah situs bersejarah yang kaya akan nilai edukasi dan narasi masa lalu, yang dipersiapkan untuk menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung.
Dengan desain jalan yang sengaja dibuat berkelok-kelok dan mengarah langsung menghadap Samudra Hindia, Kelok 23 menawarkan sebuah perspektif baru dalam industri pariwisata Yogyakarta. Pengalaman berkendara yang unik ini, dipadukan dengan pemandangan alam yang memukau, diprediksi akan menjadi daya tarik utama yang membedakan Kelok 23 dari jalur-jalur lain. Hal ini sejalan dengan visi untuk menyajikan wajah baru pariwisata Yogyakarta yang inovatif dan menawarkan pengalaman yang tak terlupakan bagi setiap pengunjung. Kehadiran jalur ini diharapkan dapat memperkuat citra DIY sebagai destinasi wisata yang dinamis dan terus berinovasi.
Menanggapi potensi besar Kelok 23, Sekretaris Komisi C DPRD DIY, Koeswanto, menekankan pentingnya pengawasan yang ketat terhadap seluruh tahapan proyek. Ia menegaskan bahwa pembangunan harus senantiasa berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku dan mematuhi standar keamanan tertinggi. “Jalur baru destinasi ini sangat dinanti masyarakat, jadi musti benar-benar aman sebelum dibuka untuk umum. Aspek keamanan terpenuhi dan pembangunan tidak melanggar ketentuan yang berlaku,” ujar Koeswanto, menggarisbawahi pentingnya keselamatan sebagai prioritas utama. Ia juga mengingatkan masyarakat untuk tetap bersabar menunggu pembukaan resmi, meskipun kendaraan kecil sudah diizinkan melintas dalam kondisi darurat. Hal ini dikarenakan masih adanya aktivitas alat berat dan pengerjaan dinding tebing (bore pile) yang berpotensi menimbulkan risiko bagi pengendara yang tidak berhati-hati.
Koeswanto lebih lanjut menjelaskan bahwa akses baru ini memiliki nilai strategis yang luar biasa dalam meningkatkan konektivitas antara Kabupaten Bantul dan Kabupaten Gunungkidul, dua wilayah yang secara geografis berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Dengan beroperasinya Kelok 23 secara penuh, diharapkan waktu tempuh menuju berbagai pantai ikonik di Gunungkidul dapat terpangkas secara signifikan. Lebih dari itu, jalur ini diprediksi akan menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi yang kuat, terutama melalui peningkatan investasi lahan di sekitar area jalur tersebut. Fenomena maraknya investasi lahan ini mengindikasikan optimisme para pelaku ekonomi terhadap potensi pengembangan kawasan pasca-pembangunan Kelok 23. Dengan demikian, Kelok 23 bukan hanya sekadar infrastruktur jalan, melainkan sebuah investasi jangka panjang bagi kemajuan pariwisata dan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.


















