Catatan redaksi: Bunuh diri bukan jalan keluar persoalan kehidupan, segera cari pertolongan atau klik www.healing119.id.
Bandung diguncang tragedi memilukan pada Selasa pagi, ketika seorang pelajar berusia 17 tahun berinisial RM, warga Kota Cimahi, ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari Flyover Prof. Mochtar Kusumaatmadja, yang lebih dikenal sebagai Flyover Pasupati. Insiden tragis ini, yang terjadi di kawasan Tamansari, Kota Bandung, segera menarik perhatian publik dan aparat kepolisian, yang kini tengah mendalami motif di balik keputusan fatal yang diambil remaja tersebut. Awalnya ditemukan tanpa identitas, korban kemudian berhasil diidentifikasi, memicu penyelidikan lebih lanjut oleh Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polrestabes Bandung untuk mengungkap seluruh fakta di balik peristiwa tragis ini.
Detik-Detik Penemuan dan Kesaksian Warga Setempat
Peristiwa nahas tersebut terjadi sekitar pukul 07.00 WIB, saat suasana kota masih beranjak ramai. Tubuh korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan, tergeletak tak bernyawa di area yang tidak terduga: di sekitar kandang ayam milik warga yang terletak persis di bawah struktur megah Flyover Pasupati. Lokasi jatuhnya yang spesifik berada di kawasan Tamansari, sebuah area yang cukup padat dan sering dilewati warga, menambah kengerian insiden ini. Hasil pemeriksaan awal menunjukkan korban mengalami luka parah di bagian kepala, mengindikasikan dampak benturan keras akibat terjun dari ketinggian yang ekstrem.
Salah satu saksi mata kunci dalam peristiwa ini adalah Nesah, seorang warga setempat yang memiliki warung tak jauh dari lokasi kejadian. Nesah menceritakan momen mengerikan saat ia pertama kali menyadari adanya insiden tersebut. Pagi itu, Nesah sedang sibuk di warungnya, hendak mencuci piring, ketika pandangannya tertuju ke arah atas flyover. Ia melihat kerumunan orang yang tak biasa, banyak warga berkumpul dan menatap ke bawah dengan ekspresi terkejut dan panik. Rasa penasaran bercampur firasat buruk mendorong Nesah untuk ikut melihat ke arah yang dituju kerumunan tersebut.
Dengan jantung berdebar, Nesah mengikuti arah pandang warga. Matanya kemudian menangkap pemandangan yang tak akan pernah ia lupakan: sebuah tubuh tergeletak di sekitar kandang ayam miliknya. “Saya lihat ke atas (Pasopati) kok banyak orang lagi lihat ke bawah, pas saya lihat di sekitar kandang ayam ternyata ada tubuh korban,” ujar Nesah dengan suara bergetar, mengingat kembali kengerian saat itu. Kaget dan syok, Nesah refleks berteriak histeris dan langsung berlari menjauh dari lokasi, mencoba mencerna pemandangan tragis yang baru saja disaksikannya. Kesaksian Nesah menjadi salah satu petunjuk awal bagi aparat kepolisian dalam merekonstruksi kronologi kejadian.
Identifikasi Korban dan Penyelidikan Mendalam oleh Kepolisian
Setelah penemuan jenazah, tim kepolisian dari Satreskrim Polrestabes Bandung segera bergerak cepat menuju lokasi. Dipimpin oleh Kapolsek Bandung Wetan, AKP Bagus Yudo, petugas langsung melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) secara menyeluruh. Proses olah TKP ini meliputi pengamanan area, pengumpulan barang bukti yang mungkin tertinggal di sekitar lokasi jatuhnya korban, serta dokumentasi visual dan forensik untuk mendapatkan gambaran detail mengenai insiden tersebut. Langkah awal ini sangat krusial untuk mengidentifikasi korban dan mencari petunjuk mengenai penyebab pasti kematian.
Awalnya, korban ditemukan tanpa identitas yang jelas, menimbulkan tantangan bagi aparat untuk mengungkap jati dirinya. Namun, berkat kerja keras dan koordinasi antarunit, identitas pria yang tewas tersebut akhirnya berhasil terungkap. Korban diketahui berinisial RM, seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang masih berusia 17 tahun dan merupakan warga Kota Cimahi. Pengungkapan identitas ini menjadi titik terang penting dalam penyelidikan, memungkinkan polisi untuk menghubungi keluarga korban dan mendalami latar belakang serta motif di balik tindakan fatal yang diduga dilakukan RM.

















