Ambisi politik Joko Widodo pasca-masa jabatan kepresidenannya kini memasuki babak baru yang krusial, di mana sang mantan Presiden Ke-7 RI tersebut secara terbuka menyatakan komitmennya untuk membawa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menembus ambang batas parlemen pada Pemilu 2029 mendatang. Dalam sebuah pernyataan yang mengguncang peta politik nasional, Wakil Sekretaris Jenderal DPP PSI, Andi Saiful Haq, menganalogikan posisi politik Jokowi saat ini layaknya megabintang sepak bola Lionel Messi sebelum berhasil mengangkat trofi Piala Dunia, sebuah kiasan yang menggambarkan bahwa meski Jokowi telah meraih segala puncak kekuasaan eksekutif, ia masih membutuhkan satu kemenangan legislatif yang murni di bawah arahan strategisnya untuk menyempurnakan warisan politiknya. Perhelatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI 2026 di Makassar menjadi momentum deklarasi total bagi Jokowi untuk mengerahkan segala pengaruh dan basis massanya demi memastikan partai berlambang bunga mawar tersebut menduduki kursi di Senayan, sekaligus membuktikan bahwa “Jokowi Effect” tetap menjadi variabel penentu utama dalam dinamika elektoral Indonesia melampaui masa jabatannya.
Analogi Messi: Melengkapi Kepingan Puzzle Karier Politik yang Belum Paripurna
Analogi yang dilontarkan oleh Andi Saiful Haq bukan sekadar pemanis retorika politik, melainkan sebuah refleksi mendalam terhadap perjalanan karier politik Joko Widodo yang sangat fenomenal namun dianggap masih memiliki satu celah kosong yang signifikan. Seperti halnya Lionel Messi yang telah mengoleksi berbagai gelar juara di level klub bersama Barcelona dan meraih beragam penghargaan individu Ballon d’Or namun sempat diragukan kebesarannya sebelum menjuarai Piala Dunia 2022 di Qatar, Jokowi pun telah menapaki tangga kekuasaan dari tingkat paling bawah hingga posisi tertinggi di republik ini dengan sukses yang luar biasa. Dimulai dari kepemimpinan di tingkat kota sebagai Wali Kota Solo selama dua periode, berlanjut ke kursi Gubernur DKI Jakarta, hingga memenangkan dua kali pemilihan presiden secara berturut-turut pada 2014 dan 2019, rekam jejak eksekutif Jokowi nyaris tanpa cacat dalam hal kemenangan elektoral langsung. Namun, bagi internal PSI, kemenangan-kemenangan tersebut dirasa belum lengkap secara simbolis jika belum dibarengi dengan keberhasilan membangun sebuah kekuatan legislatif yang secara ideologis dan operasional sepenuhnya terafiliasi dengan visi besar pembangunan yang ia rintis, sebuah capaian yang kini diproyeksikan akan terwujud melalui PSI pada tahun 2029.
Sejarah mencatat bahwa kemenangan besar yang diraih oleh PDI Perjuangan selama satu dekade terakhir memang beriringan dengan masa keemasan elektoral Joko Widodo, namun narasi yang berkembang di internal partai maupun publik seringkali tidak memberikan kredit penuh kepada sang mantan wali kota Solo tersebut sebagai arsitek tunggal kemenangan. Meskipun berbagai lembaga survei kredibel secara konsisten menunjukkan bahwa pengaruh personal Jokowi merupakan faktor dominan yang mendongkrak perolehan suara partai hingga mencapai posisi back-to-back sebagai pemenang pemilu, dominasi kepemimpinan struktural di dalam tubuh PDI Perjuangan seringkali mengaburkan kontribusi individualnya. Dalam banyak kesempatan, posisi Jokowi diposisikan sebagai “petugas partai” ketimbang pemimpin yang membawa gerbongnya sendiri menuju kemenangan. Hal inilah yang mendasari munculnya kebutuhan akan sebuah wadah politik baru di mana pengaruh Jokowi dapat terukur secara transparan dan absolut tanpa bayang-bayang figur politik lain. Kemenangan legislatif di masa lalu dianggap sebagai kemenangan mesin partai besar yang sudah mapan sejak era Orde Baru, sehingga bagi Jokowi, membawa partai yang relatif baru dan non-parlemen seperti PSI menuju Senayan akan menjadi pembuktian pamungkas bahwa kekuatan elektoralnya mampu menciptakan sejarah baru secara mandiri.
Strategi Rakernas Makassar dan Operasi Politik Total Menuju 2029
















