Ringkasan Berita:
- WHO mengonfirmasi satu kematian akibat virus Nipah di Bangladesh, namun menilai risiko penyebaran internasional tetap rendah dan belum perlu pembatasan perjalanan atau perdagangan.
- Pasien adalah perempuan usia 40–50 tahun yang diduga terpapar setelah mengonsumsi getah kurma mentah.
- Virus Nipah tergolong langka tetapi mematikan, dengan tingkat kematian tinggi dan belum ada obat atau vaksin khusus.
Dunia kesehatan global kembali dihadapkan pada ancaman zoonosis mematikan setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi satu kasus kematian akibat infeksi virus Nipah di Bangladesh. Insiden tragis ini melibatkan seorang perempuan berusia 40 hingga 50 tahun dari Divisi Rajshahi yang meninggal dunia pada akhir Januari 2026, diduga kuat setelah mengonsumsi getah kurma mentah yang terkontaminasi. Meskipun demikian, WHO, melalui laporan resminya pada 3 Februari 2026, menegaskan bahwa risiko penyebaran virus ini ke tingkat internasional masih tergolong rendah, sehingga tidak ada rekomendasi untuk pembatasan perjalanan atau perdagangan. Kasus ini kembali menyoroti urgensi pengawasan ketat terhadap penyakit langka namun sangat fatal ini, yang hingga kini belum memiliki obat atau vaksin spesifik.

















