Kisah Rina Rakhman, seorang wanita yang berjuang melawan depresi selama empat tahun, menemukan jalan keluar dan makna hidup baru melalui adopsi anjing di Bali, mencerminkan tren yang lebih luas dari meningkatnya keterikatan emosional manusia dengan hewan peliharaan yang memicu gelombang pertumbuhan bisnis terkait di Pulau Dewata. Keputusan Rina untuk berhenti mengonsumsi tujuh pil penenang setiap hari, yang diresepkan psikiater, dan menggantinya dengan kehadiran enam ekor anjing kesayangannya—dari ras Kintamani lokal hingga Rottweiler—menjadi bukti nyata kekuatan penyembuhan dari hubungan antarspesies. Ia menggambarkan bagaimana anjing-anjingnya mengisi kekosongan yang tidak pernah ia sadari, memberikan dukungan emosional saat menghadapi konflik, dan secara fundamental mengubah perspektifnya tentang tanggung jawab, dari yang sebelumnya cenderung menghindar menjadi pribadi yang lebih tertahan dan peduli.
Perjalanan Rina dari Bandung ke Bali bersama keluarganya menandai titik balik dalam hidupnya. Keputusannya untuk memelihara anjing, dimulai dari anjing lokal Kintamani yang tidak bertuan, kemudian berkembang hingga memiliki enam ekor anjing dari berbagai ras, menunjukkan komitmen mendalam. Ia tidak hanya menemukan kedamaian batin, tetapi juga merasakan peningkatan rasa tanggung jawab. “Yang pasti, saya juga menjadi lebih bertanggung jawab. Dulu, ketika ada konflik, saya kabur. Sejak punya anjing, saya harus menahan diri demi merawat dan menjaga mereka,” ungkapnya, menyoroti bagaimana kewajiban merawat hewan peliharaan telah membentuk karakternya menjadi lebih kuat dan stabil. Lingkungan tempat tinggalnya pun menyambut baik kehadiran anjing-anjingnya, menciptakan suasana harmonis dan tanpa masalah dengan tetangga.
Namun, kecintaan pada anjing ini datang dengan konsekuensi finansial yang tidak sedikit. Rina mengaku merogoh kocek setidaknya Rp15 juta setiap bulan untuk memenuhi kebutuhan dasar anjing-anjingnya, termasuk makanan berkualitas, obat kutu, obat cacing, dan vitamin. Biaya-biaya tak terduga seperti jasa pelatih anjing, pengasuh saat keluarga bepergian, perawatan salon, hingga rekreasi ke taman bermain anjing, semakin menambah beban pengeluaran. Situasi serupa juga dialami oleh Nanda Yuliana Putri, seorang warga Bali yang memelihara anjing pertamanya pada Juni 2020. Nanda bahkan rela menyisihkan Rp10 juta hingga Rp15 juta per bulan untuk anjingnya, Yuppi, meskipun penghasilannya tidak lebih dari Rp20 juta per bulan. Baginya, kebutuhan Yuppi adalah prioritas utama, mencerminkan ikatan emosional yang mendalam dan rasa bersalah jika ia menikmati kemewahan sementara anjingnya tidak mendapatkan perawatan yang layak. “Enggak ada yang mencintai dan membutuhkan aku seperti Yuppi, anjingku. Makanya, kalau aku makan enak, tapi anjing aku enggak makan layak, aku merasa bersalah. Jadi, kebutuhan Yuppi prioritasku,” tuturnya.
Dampak Ekonomi: Bisnis Pet Shop dan Layanan Anjing Berkembang Pesat
Kisah-kisah seperti Rina dan Nanda bukan sekadar cerita personal, melainkan cerminan dari fenomena ekonomi yang lebih luas di Bali. Tingginya kesadaran dan kesediaan pemilik hewan peliharaan, atau yang akrab disapa “pawrent,” untuk mengeluarkan biaya demi kesejahteraan anjing kesayangan mereka telah mendorong pertumbuhan bisnis yang signifikan di sektor kebutuhan hewan peliharaan, yang dikenal sebagai pet shop, serta klinik dokter hewan. Meskipun data resmi mengenai jumlah pet shop di Bali masih terbatas, observasi lapangan menunjukkan kepadatan yang cukup tinggi; di area Badung dan Denpasar, toko-toko ini dapat ditemui dengan jarak sekitar dua kilometer. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar Bali siap menyerap berbagai produk dan layanan yang ditujukan untuk hewan peliharaan.
Salah satu pelaku bisnis yang merasakan langsung dampak positif ini adalah Tasha, pendiri BorknChew, sebuah toko yang mengkhususkan diri pada camilan bernutrisi untuk anjing. Tasha mengamati bahwa komunitas pemilik anjing di Bali sangat suportif dan memiliki kesadaran tinggi terhadap kesehatan hewan peliharaan mereka. Konsumen tidak hanya mencari harga terendah, tetapi juga memperhatikan kualitas bahan dan nutrisi yang terkandung dalam produk. “Komunitas pemilik anjing sangat suportif dan sadar kesehatan hewan peliharaan mereka. Mereka tidak mencari yang termurah, tetapi juga membaca label kemasan dan bertanya soal bahan yang digunakan,” terang Tasha. Konsep “affordable premium” yang diusung BorknChew terbukti berhasil menjembatani kesenjangan antara kebutuhan akan nutrisi berkualitas tinggi dan harga yang terjangkau. Keberhasilan ini terbukti dari pertumbuhan penjualan BorknChew yang mencapai 250% dalam waktu 16 bulan sejak beroperasi, mendorong Tasha untuk membuka gerai fisik pertamanya di Bali setelah setahun berjualan daring.
Lebih dari sekadar makanan, peluang bisnis yang muncul dari kecintaan pada anjing juga merambah ke ranah layanan yang lebih luas. Bernadeta Mela, bersama rekannya, melihat celah ini dan mendirikan Paw Space, sebuah taman bermain anjing seluas 1.800 meter persegi di Denpasar. Fasilitas ini tidak hanya menyediakan area bermain, tetapi juga layanan salon anjing, pelatihan, penginapan, kolam renang khusus anjing, serta layanan antar-jemput. Mela berargumen bahwa anjing yang sehat dan bahagia membutuhkan lebih dari sekadar nutrisi; mereka memerlukan aktivitas fisik, sosialisasi, dan stimulasi mental. Selama dua tahun beroperasi, Paw Space telah menyaksikan peningkatan kesadaran pemilik anjing akan pentingnya kebugaran dan kesehatan mental hewan peliharaan mereka, yang berujung pada jadwal kunjungan rutin. “Di Kota Denpasar, meskipun Paw Space menjadi kebutuhan tersier bagi hewan peliharaan, namun potensi pasarnya luar biasa. Mereka [pemilik anjing] sadar dengan kesejahteraan anjing-anjing mereka. Mereka mau anjing mereka bisa bermain, berenang, berlarian, bersosialisasi, dan lain sebagainya,” paparnya. Paw Space mampu menarik rata-rata 20-30 ekor anjing pada hari biasa dan mencapai 100 ekor pada akhir pekan, dengan biaya kunjungan berkisar antara Rp200.000 hingga Rp900.000.
Georgia Kauten, pemilik taman bermain anjing Dogville di Badung, juga memulai usahanya dari kecintaannya pada hewan, yang telah ia pelihara sejak usia 10 tahun melalui pelatihan kuda dan anjing. Pengalaman bekerja di taman bermain anjing sebelumnya memberinya inspirasi untuk menciptakan konsep yang berbeda di Dogville. Tempat ini tidak hanya menawarkan area bermain bebas tali kekang, tetapi juga kafe dan ruang kerja daring bagi pemilik anjing, serta acara-acara khusus yang memfasilitasi sosialisasi antara pemilik dan anjing mereka. “Kami ingin Dogville bisa melahirkan komunitas yang sehat dari pertemuan anjing dan para pemilik anjing,” jelas Georgia. Bisnis ini menunjukkan bahwa ada berbagai model bisnis yang dapat dikembangkan, bahkan yang lebih kecil dan berbasis komunitas, seperti yang dijalani oleh Wahyu Isa, seorang pemandu wisata gunung yang menawarkan jasa pengasuh anjing dan mengajak anjing berjalan-jalan. Dengan tarif Rp100.000-Rp150.000 per jam untuk jalan-jalan dan Rp150.000-Rp200.000 untuk pengasuhan di rumah, Isa berhasil menopang ekonominya di perantauan melalui promosi dari mulut ke mulut.
Nasib Berbeda: Ancaman Rabies dan Perjuangan Anjing Liar
Di tengah berkembangnya bisnis dan perhatian terhadap kesejahteraan anjing peliharaan, nasib anjing-anjing liar di Bali justru sangat berbeda dan memprihatinkan. Hewan-hewan ini hidup berkeliaran, berjuang mencari makan dari sisa-sisa yang diberikan orang yang lalu lalang, rentan terhadap penyakit, ancaman peracunan, dan yang paling mengkhawatirkan, penularan rabies. Data dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali menunjukkan peningkatan kasus kematian manusia akibat rabies, mencapai 12 orang hingga Oktober 2025, naik dari tujuh kasus pada 2024 dan sembilan kasus pada 2023. Fenomena ini sangat terkait dengan populasi anjing di Bali yang mencapai 565.737 ekor, jumlah tertinggi di Indonesia, yang menjadi sumber utama penularan rabies sejak 2008.
Nurul Hadiristiyantri, Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, menyoroti bahwa masalah utama terletak pada cara pemeliharaan. Banyak rumah tangga di Bali memelihara anjing namun dengan cara dilepasliarkan dan kemungkinan tidak divaksinasi, sehingga meningkatkan risiko penularan penyakit, terutama rabies. Hingga 20 Oktober 2025, tercatat 375 kasus anjing positif rabies. Sebagai respons, pemerintah telah melakukan vaksinasi darurat dan menerapkan kebijakan eliminasi terhadap anjing yang menunjukkan gejala rabies, kontak erat dengan anjing rabies, atau anjing liar yang dianggap agresif atau berbahaya oleh masyarakat setempat. Kriteria eliminasi ini bersifat selektif dan tertarget untuk mencegah penyebaran lebih luas.
Namun, tidak semua anjing liar bernasib buruk. Sebagian dari mereka diselamatkan oleh para penyayang hewan, salah satunya adalah Yayasan BAWA (Bali Animal Welfare Association). Organisasi ini berdedikasi pada penyelamatan, perlindungan, dan peningkatan kualitas hidup anjing terlantar, khususnya ras asli Bali seperti Kintamani dan anjing kampung. Cynthia, Event Fund Raising Communication Coordinator Yayasan BAWA, menjelaskan bahwa fasilitas mereka disebut “rumah aman” atau pusat rehabilitasi dan adopsi, bukan sekadar penampungan. Di sini, hewan yang mengalami penyiksaan dan penganiayaan dirawat hingga pulih secara fisik dan mental, kemudian dibantu untuk kembali mempercayai manusia sebelum siap diadopsi. Proses ini meliputi vaksinasi, sterilisasi, dan pencarian keluarga baru yang penyayang. Program utama BAWA mencakup penyelamatan, rehabilitasi, dan penempatan kembali hewan, didukung oleh edukasi, vaksinasi, dan sterilisasi massal, yang semuanya bertujuan untuk meningkatkan kesadaran akan kesejahteraan anjing dan advokasi hak-hak hewan untuk diperlakukan dengan baik, penuh kasih sayang, dan dihargai.
Perhatian terhadap kesehatan anjing, baik peliharaan maupun liar, secara inheren berkaitan erat dengan bidang kesehatan hewan. Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Bali, Dewa Made Anom, melihat adanya peningkatan minat yang luar biasa terhadap profesi dokter hewan. Ia mengenang masa lalu ketika jurusan kedokteran hewan di Universitas Udayana memiliki peminat yang sedikit, namun kini persaingan masuk sangat ketat, mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan hewan. Kesadaran ini juga menarik minat investor untuk merambah bisnis layanan kesehatan hewan, terbukti dari menjamurnya klinik dan praktik dokter hewan di Denpasar dan Badung. PDHI Bali mencatat lebih dari 1.500 dokter hewan terdaftar, jumlah tertinggi kedua di Indonesia setelah Jakarta. Untuk memastikan kualitas layanan dan mencegah praktik yang tidak sehat, PDHI Bali telah bekerja sama dengan pemerintah setempat dalam menata klinik dan praktik dokter hewan, termasuk dalam proses perizinan dan rekomendasi, demi menjamin pelayanan kesehatan yang optimal bagi hewan kesayangan.











