Di tengah geliat pesat ekonomi digital Indonesia yang terus berakselerasi, sebuah langkah strategis signifikan baru saja diukir dalam lanskap pembiayaan digital tanah air. PT Bank DBS Indonesia, salah satu bank terkemuka dengan komitmen kuat terhadap inovasi dan inklusi keuangan, secara resmi mengumumkan peningkatan pendanaan channeling kepada Kredivo, platform kredit digital terkemuka, menjadi Rp 3 triliun. Peningkatan monumental ini, yang merupakan bagian integral dari kolaborasi strategis jangka panjang yang telah terjalin sejak tahun 2020, ditujukan untuk secara substansial memperkuat pertumbuhan kredit ritel di seluruh pelosok negeri, khususnya di kota-kota tier 2 dan 3, sekaligus menjawab lonjakan permintaan pasar yang tak terbendung. Keputusan ini tidak hanya mencerminkan kepercayaan Bank DBS Indonesia terhadap kinerja penyaluran kredit Kredivo yang konsisten, tetapi juga menegaskan visi bersama kedua entitas untuk memajukan inklusi keuangan melalui solusi pembiayaan yang mudah diakses, aman, dan terjangkau bagi jutaan masyarakat Indonesia yang selama ini mungkin belum terlayani secara optimal oleh sistem perbankan konvensional.
Kolaborasi Jangka Panjang dan Pertumbuhan Kredit Ritel yang Konsisten
Kemitraan antara PT Bank DBS Indonesia dan Kredivo bukanlah hal baru, melainkan sebuah perjalanan kolaboratif yang telah berlangsung selama lebih dari setengah dekade, menunjukkan komitmen kuat dan sinergi yang efektif antara lembaga keuangan tradisional dan inovator teknologi finansial. Melfrida Gultom, Consumer Banking Director PT Bank DBS Indonesia, menguraikan secara detail evolusi pendanaan ini. Sejak awal kerja sama pada tahun 2020, limit pendanaan dimulai dari angka Rp 300 miliar. Angka ini kemudian meningkat secara progresif, mencerminkan performa positif dan kebutuhan pasar yang terus berkembang. Pada tahun yang sama, pendanaan naik menjadi Rp 500 miliar. Kemudian, pada tahun 2021, limit pendanaan melonjak menjadi Rp 1 triliun, dan terus meningkat menjadi Rp 2 triliun pada tahun 2022. Puncaknya, dengan peningkatan terbaru ini, target pendanaan sebesar Rp 3 triliun diharapkan tercapai pada akhir tahun 2025. Lonjakan signifikan dalam pendanaan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan nyata dari kinerja penyaluran kredit Kredivo yang konsisten dan terukur, serta respons terhadap permintaan pasar yang terus tumbuh secara eksponensial di sektor kredit ritel.
Bagi Bank DBS Indonesia, peningkatan pendanaan ini memiliki makna strategis yang mendalam. Sebagai mitra terpercaya, Kredivo mendukung strategi Bank DBS Indonesia dalam memperluas ekosistem kredit ritel. Ini dilakukan dengan menghadirkan solusi finansial yang adaptif dan relevan dengan kebutuhan zaman, sehingga memberikan manfaat luas bagi masyarakat. Dalam konteks ini, Bank DBS Indonesia melihat inovasi bukan hanya sebagai penerapan teknologi canggih, tetapi sebagai metode fundamental untuk menjembatani kesenjangan kebutuhan finansial masyarakat. “Bagi kami, inovasi bukan sekadar teknologi, tetapi cara untuk menjembatani kebutuhan finansial masyarakat, maka itu kami sangat antusias bekerja sama dengan Kredivo yang selama ini kerap memperluas akses kredit digital di Indonesia,” kata Melfrida Gultom dalam pernyataan yang dilaporkan baru-baru ini. Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi Bank DBS Indonesia untuk tidak hanya menyediakan layanan perbankan, tetapi juga menjadi fasilitator bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat melalui kemitraan strategis.
Memperluas Akses Kredit Digital ke Kota Tier 2 dan 3: Pilar Inklusi Keuangan
Di sisi Kredivo, penambahan pendanaan channeling ini menjadi katalisator penting untuk mendorong ekspansi layanan ke wilayah-wilayah yang selama ini sering terabaikan oleh layanan kredit formal perbankan. Umang Rustagi, Co-Founder & President Director Kredivo Indonesia, menjelaskan bahwa pendanaan ini akan difokuskan untuk memperluas jangkauan layanan ke lebih banyak kota tier 2 dan 3 di seluruh Indonesia. Wilayah-wilayah ini, meskipun memiliki potensi pertumbuhan ekonomi yang besar dan populasi yang signifikan, seringkali masih menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan kredit formal. Data dari Laporan Perilaku Pengguna PayLater Indonesia 2024 secara jelas mendukung strategi ini, menunjukkan bahwa 53,6 persen pengguna Kredivo saat ini berasal dari kota tier 2 dan 3. Angka ini tidak hanya mencerminkan tingginya kebutuhan akan layanan kredit digital di daerah-daerah tersebut, tetapi juga adopsi yang kuat dari masyarakat terhadap solusi finansial yang inovatif.

















