Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mempertahankan momentum positifnya dengan mendarat di zona hijau pada penutupan perdagangan Rabu (4/2/2026), meskipun pergerakannya dibayangi oleh tekanan jual yang cukup masif pada mayoritas saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kenaikan tipis sebesar 0,30 persen atau setara dengan tambahan 24,119 poin ini membawa indeks komposit ke level psikologis baru di posisi 8.146,717, sebuah pencapaian yang mencerminkan ketahanan pasar modal domestik di tengah fluktuasi ekonomi global. Fenomena unik terjadi pada perdagangan hari ini, di mana indeks secara agregat menguat namun didominasi oleh jumlah saham yang terkoreksi, menandakan bahwa motor penggerak utama pasar terkonsentrasi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar (big caps) dan sektor-sektor strategis seperti barang baku serta perbankan. Investor terlihat melakukan aksi pilih-pilih saham (stock picking) yang selektif, sementara nilai transaksi harian tetap terjaga di level yang cukup tinggi mencapai Rp 24,91 triliun, memberikan sinyal bahwa likuiditas pasar masih sangat memadai untuk menopang pergerakan indeks ke depan.
Dinamika Pergerakan Indeks: Dominasi Saham Blue-Chip di Tengah Tekanan Pasar
Meskipun IHSG ditutup menguat, data pasar menunjukkan adanya anomali pada kedalaman pasar (market breadth) yang cukup kontras. Tercatat sebanyak 391 saham mengalami penurunan harga, jauh melampaui jumlah saham yang berhasil menguat sebanyak 301 emiten, sementara 125 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Penguatan IHSG yang tetap bertahan di zona hijau ini sangat terbantu oleh performa indeks-indeks sektoral dan indeks saham unggulan lainnya. Indeks LQ45, yang merepresentasikan 45 saham paling likuid di bursa, justru mencatatkan kenaikan yang lebih signifikan dibandingkan IHSG, yakni melonjak 1,10 persen atau bertambah 9,067 poin menuju level 832,794. Kondisi serupa juga terlihat pada indeks IDX30 yang meningkat 0,79 persen ke posisi 433,26, serta indeks Sri-Kehati yang menguat tajam 1,21 persen ke level 384,37. Perbedaan performa antara IHSG dan indeks saham unggulan ini menunjukkan bahwa minat beli investor institusi saat ini sedang terfokus pada saham-saham dengan fundamental kokoh dan kapitalisasi pasar besar yang memiliki pengaruh signifikan terhadap bobot indeks secara keseluruhan.
Salah satu pilar utama yang menjaga IHSG tetap kokoh adalah sektor barang baku yang menjadi motor penggerak utama sepanjang sesi perdagangan. Dukungan tambahan juga mengalir dari sektor perindustrian yang terpantau menguat 0,72 persen, disusul oleh sektor transportasi dan logistik yang naik tipis 0,17 persen. Di sisi lain, sektor teknologi mencatatkan kenaikan marginal sebesar 0,03 persen, yang meskipun kecil, tetap berkontribusi dalam menjaga stabilitas indeks. Namun, optimisme ini tidak merata di seluruh sektor, karena sektor siklikal justru mengalami kejatuhan yang cukup dalam sebesar 4,02 persen. Penurunan tajam pada sektor ini menjadi beban utama bagi IHSG dan menjelaskan mengapa jumlah saham yang memerah jauh lebih banyak dibandingkan yang menghijau. Investor nampaknya mulai mengalihkan aset mereka dari sektor-sektor yang sensitif terhadap siklus ekonomi menuju sektor yang lebih defensif atau yang memiliki katalis positif dari kebijakan makroekonomi terbaru.
Analisis Performa Saham Unggulan dan Lonjakan Top Gainers
Dalam jajaran saham berkapitalisasi besar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tampil sebagai salah satu pemimpin pasar dengan kenaikan harga sebesar 1,96 persen, yang membawa harga sahamnya ke level Rp 7.800 per lembar. Kenaikan BBCA ini memberikan dampak psikologis yang besar bagi pasar mengingat bobotnya yang sangat dominan terhadap IHSG. Selain perbankan, saham-saham seperti PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BBTN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) juga masuk dalam radar investor sebagai jajaran top gainers yang menopang indeks. Namun, keberhasilan ini harus berhadapan dengan koreksi yang dialami oleh raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM) yang merosot 3,48 persen ke posisi Rp 3.330, serta PT Astra International Tbk (ASII) yang melemah 1,84 persen menjadi Rp 6.675 per saham. Tekanan pada TLKM dan ASII ini menjadi penyeimbang yang mencegah IHSG untuk melaju lebih tinggi lagi pada perdagangan sore ini.
Di pasar reguler, beberapa saham lapis kedua dan ketiga menunjukkan performa yang sangat impresif dengan lonjakan harga yang mencapai batas atas atau mendekati Auto Reject Atas (ARA). Martina Berto Tbk (MBTO) memimpin jajaran top gainers dengan kenaikan fantastis sebesar 34,51 persen atau naik 49 poin ke level 191. Di posisi kedua, Nusantara Almazia Tbk (NZIA) menyusul dengan penguatan 34,31 persen ke posisi 137. Wahana Inti Makmur Tbk (NASI) juga mencatatkan lonjakan signifikan sebesar 26,71 persen ke level 185. Tidak ketinggalan, Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU) dan Maja Agung Latexindo Tbk (SURI) masing-masing menguat 18,07 persen dan 14,47 persen. Aktivitas perdagangan secara keseluruhan berlangsung sangat masif dengan frekuensi transaksi mencapai 2.867.752 kali. Total volume saham yang berpindah tangan tercatat sebanyak 44,470 miliar lembar saham, yang menghasilkan nilai transaksi agregat sebesar Rp 24,91 triliun, sebuah angka yang menunjukkan gairah pasar yang tetap tinggi meskipun di tengah ketidakpastian.
Kondisi Makroekonomi dan Perbandingan Pasar Regional
Meskipun pasar saham domestik menunjukkan performa yang cukup tangguh, kondisi nilai tukar Rupiah memberikan catatan tersendiri bagi para pelaku pasar. Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS pada sore ini ditutup melemah sebesar 23,00 poin atau 0,14 persen ke level Rp 16.777. Pelemahan mata uang garuda ini disinyalir dipengaruhi oleh penguatan indeks Dolar AS secara global serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, The Fed, yang masih menjadi teka-teki bagi investor global. Tekanan pada Rupiah ini biasanya menjadi sentimen negatif bagi emiten yang memiliki eksposur utang dalam mata uang asing yang besar atau yang sangat bergantung pada bahan baku impor, namun sejauh ini IHSG masih mampu mengompensasi dampak tersebut melalui penguatan di sektor-sektor komoditas dan perbankan domestik.
Beralih ke kawasan Asia, pergerakan bursa saham regional menunjukkan hasil yang bervariasi (mixed) dengan kecenderungan menguat di beberapa pasar utama. Indeks Nikkei 225 di Jepang tercatat menjadi yang paling tertekan dengan penurunan signifikan sebesar 427,300 poin atau 0,78 persen ke level 54.293,398. Sebaliknya, pasar saham di China dan Hong Kong justru menunjukkan tren positif; Indeks SSE Composite di Shanghai melonjak 0,85 persen ke posisi 4.102,200, sementara Indeks Hang Seng di Hong Kong naik tipis 0,05 persen ke level 26.847,320. Di Asia Tenggara, Indeks Straits Times Singapura juga berhasil menguat 0,27 persen ke posisi 4.957,379. Perbedaan performa di bursa Asia ini mencerminkan respons investor terhadap rilis data ekonomi masing-masing negara serta dinamika geopolitik kawasan yang terus berkembang, di mana pasar Indonesia terlihat cenderung mengikuti tren penguatan yang terjadi di pasar China dan Singapura.
Secara keseluruhan, penutupan IHSG di level 8.146,717 pada hari ini memberikan gambaran tentang pasar yang sedang berada dalam fase konsolidasi namun tetap memiliki bias bullish yang kuat. Keberhasilan indeks bertahan di zona hijau meski jumlah saham yang turun lebih banyak menunjukkan adanya kekuatan beli yang terfokus pada saham-saham penggerak pasar (market movers). Ke depan, investor diharapkan tetap waspada terhadap volatilitas nilai tukar Rupiah dan rilis data inflasi domestik yang dapat mempengaruhi kebijakan moneter Bank Indonesia. Dengan nilai transaksi yang tetap solid di angka Rp 24 triliun lebih, pasar modal Indonesia masih memiliki daya tarik yang kuat bagi investor asing maupun domestik untuk terus melakukan akumulasi pada saham-saham dengan valuasi yang masih atraktif dan prospek pertumbuhan laba yang menjanjikan di tahun 2026 ini.

















