PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin pasar dalam industri investasi emas tanah air setelah berhasil mencatatkan kinerja bisnis yang sangat solid dan ekspansif sepanjang tahun buku 2025. Melalui integrasi layanan perbankan syariah yang inovatif, BSI melaporkan nilai transaksi emas yang menembus angka fantastis sebesar Rp 22,9 triliun, yang didorong oleh dua pilar utama yaitu produk Cicil Emas dan Gadai Emas. Lonjakan signifikan ini mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap instrumen emas sebagai aset aman (safe haven) di tengah dinamika ekonomi global, sekaligus menandai keberhasilan BSI dalam mentransformasi diri menjadi pusat ekosistem emas atau “Bank Emas” pertama di Indonesia. Dengan basis nasabah yang kini telah melampaui angka satu juta orang, emiten perbankan syariah terbesar di Indonesia ini optimis dapat melipatgandakan jangkauan pasarnya hingga mencapai dua juta nasabah pada tahun 2026 melalui diversifikasi produk dan penguatan literasi keuangan syariah di seluruh pelosok negeri.
Direktur Penjualan dan Distribusi BSI, Anton Sukarna, dalam keterangannya pada jumpa pers yang digelar Jumat, 6 Februari 2026, memaparkan secara mendalam bahwa pencapaian nilai transaksi Rp 22,9 triliun tersebut merupakan hasil dari sinergi yang kuat antara penetrasi pasar dan kebutuhan riil masyarakat akan proteksi nilai aset. Jika ditelaah lebih jauh, pertumbuhan bisnis emas BSI menunjukkan tren yang sangat agresif dengan kenaikan mencapai 78,60 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Produk Cicil Emas menjadi primadona utama dengan kontribusi sebesar Rp 12,89 triliun, mencatatkan pertumbuhan luar biasa hingga 101,23 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat kini semakin gemar menyisihkan pendapatan mereka untuk investasi jangka panjang melalui skema cicilan yang ringan dan sesuai prinsip syariah. Di sisi lain, layanan Gadai Emas juga tetap menunjukkan taji dengan menyumbangkan transaksi senilai Rp 10,02 triliun, tumbuh stabil di level 56,05 persen, yang membuktikan bahwa emas masih menjadi solusi likuiditas tercepat dan paling efisien bagi nasabah dalam memenuhi kebutuhan dana mendesak tanpa harus kehilangan kepemilikan aset mereka.
Ekosistem Bullion Bank dan Dominasi Pasar Emas Nasional
Keberhasilan BSI tidak hanya terbatas pada produk ritel konvensional, namun juga merambah ke sektor yang lebih strategis melalui pengembangan layanan Bullion Bank. Sepanjang tahun 2025, BSI mencatatkan volume penjualan emas fisik yang mencapai 2,2 ton, sebuah angka yang mempertegas dominasi perseroan dalam rantai pasok emas nasional. Anton Sukarna menjelaskan bahwa ekosistem emas BSI kini terbagi menjadi dua segmen besar yang saling melengkapi. Segmen pertama adalah produk non-bullion seperti Cicil Emas dan Gadai Emas yang telah melayani sekitar 640 ribu nasabah. Segmen kedua adalah lini bisnis bullion murni yang mencakup jasa penitipan emas (gold depository) serta transaksi jual beli emas secara langsung, yang kini telah merangkul sekitar 530 ribu nasabah. Jika digabungkan, total ekosistem nasabah emas BSI telah mencapai lebih dari 1,17 juta orang, sebuah basis massa yang sangat besar untuk terus menggerakkan roda bisnis fee-based income perseroan di masa depan.
Pertumbuhan masif di sektor emas ini secara langsung memberikan dampak positif terhadap kesehatan finansial konsolidasi BSI secara keseluruhan. Berdasarkan data laporan keuangan tahun 2025, BSI berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 7,57 triliun, mengalami pertumbuhan sebesar 8,02 persen secara tahunan. Kontribusi dari bisnis emas, terutama melalui pendapatan berbasis komisi (fee-based income), menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan laba tersebut di tengah tantangan margin bunga perbankan secara umum. Selain itu, total aset BSI juga ikut terkerek naik hingga menembus angka Rp 456 triliun, sebuah pencapaian yang menempatkan BSI sebagai salah satu institusi keuangan paling stabil dan berkelanjutan di Indonesia. Keberhasilan ini membuktikan bahwa model bisnis perbankan emas yang dijalankan BSI mampu menghasilkan pembiayaan yang sehat dan berkualitas tinggi, sekaligus memberikan nilai tambah bagi para pemegang saham dan nasabah.
Inovasi Produk dan Strategi Ekspansi Menuju 2026
Menatap tahun 2026, Bank Syariah Indonesia telah menyiapkan serangkaian inovasi strategis untuk terus memperluas dominasinya. Salah satu langkah konkret yang akan segera direalisasikan adalah peluncuran produk Simpanan Emas yang ditargetkan rampung dan diperkenalkan ke publik pada akhir Februari tahun ini. Produk ini dirancang untuk memberikan fleksibilitas lebih bagi nasabah dalam menabung emas dengan sistem digital yang terintegrasi. Saat ini, perseroan sedang berada dalam tahapan akhir persiapan teknis, yang mencakup penyempurnaan sistem pencatatan otomatis serta mekanisme pelaporan transparan yang melibatkan pihak ketiga independen guna menjamin keamanan dan akuntabilitas aset nasabah. Langkah ini diharapkan dapat menarik minat generasi muda atau milenial yang menginginkan kemudahan investasi emas hanya melalui aplikasi mobile banking BSI Mobile.
Selain pengembangan produk simpanan, BSI juga tengah proaktif menjajaki berbagai peluang pembiayaan berbasis emas dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian (prudential banking). Anton Sukarna menekankan bahwa dalam setiap ekspansi bisnis, BSI selalu mempertimbangkan aspek manajemen risiko yang ketat, kesiapan infrastruktur pasar, serta tata kelola perusahaan yang baik (Good Corporate Governance). Perseroan juga melihat adanya permintaan pasar yang sangat tinggi terhadap produk turunan dari bisnis bullion yang sudah berjalan. Oleh karena itu, BSI saat ini tengah mengajukan proses perizinan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk menghadirkan varian produk baru, seperti Gadai Emas dan Cicil Emas yang berbasis pada saldo Tabungan Emas untuk segmen ritel. Inovasi ini diprediksi akan menjadi pendobrak pasar karena memungkinkan nasabah untuk melakukan transaksi gadai atau cicil tanpa harus membawa fisik emas ke kantor cabang, melainkan cukup menggunakan saldo emas digital yang mereka miliki.
Melalui visi besar untuk menciptakan masyarakat yang sadar investasi, BSI berkomitmen untuk terus meningkatkan intensitas sosialisasi dan literasi terkait investasi emas. Perseroan meyakini bahwa dengan pemahaman yang lebih baik mengenai manfaat emas sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, masyarakat akan semakin terdorong untuk beralih ke model investasi yang lebih aman dan berkah sesuai syariah. Dengan dukungan jaringan kantor cabang yang luas di seluruh Indonesia serta platform digital yang mumpuni, BSI optimis bahwa target untuk mencapai 2 juta nasabah emas bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah realitas yang akan segera tercapai. Ke depan, bisnis emas akan tetap menjadi mesin pertumbuhan utama bagi BSI dalam mewujudkan ambisinya menjadi salah satu dari 10 bank syariah terbesar di dunia berdasarkan kapitalisasi pasar.

















