Mengawali tahun 2026 dengan momentum akselerasi yang signifikan, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berhasil memperkokoh posisinya sebagai lokomotif pembiayaan nasional melalui realisasi penyaluran kredit yang tumbuh impresif sebesar 15,62 persen secara tahunan (year on year/YoY) hingga mencapai angka Rp1.511,4 triliun pada Januari 2026. Pencapaian gemilang ini tidak hanya mencerminkan dominasi pasar bank berkode emiten BMRI tersebut, tetapi juga menegaskan perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi kerakyatan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif di tengah dinamika pasar global yang menantang. Berdasarkan laporan keuangan bulanan (bank only) yang dirilis perseroan, lonjakan penyaluran kredit ini menjadi katalis utama bagi ekspansi total aset yang kini menyentuh level Rp2.191,9 triliun, atau naik sebesar 13,96 persen YoY, sebuah angka yang merepresentasikan kualitas pertumbuhan yang tetap terjaga melalui fungsi intermediasi yang optimal sejak awal tahun.
Ekspansi Kredit dan Penguatan Aset: Pilar Utama Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Pertumbuhan kredit Bank Mandiri yang menembus angka 15,62 persen ini merupakan sebuah anomali positif di tengah upaya perbankan nasional dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan kualitas aset. Realisasi kredit sebesar Rp1.511,4 triliun tersebut menjadi bukti nyata bahwa Bank Mandiri secara aktif menyasar sektor-sektor produktif yang memiliki dampak pengganda (multiplier effect) besar terhadap perekonomian. Fokus perseroan tidak hanya tertuju pada segmen korporasi besar, namun juga merambah hingga ke akar rumput melalui pemberdayaan ekosistem Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai pelosok daerah. Dengan total aset yang kini mendekati angka Rp2.200 triliun, Bank Mandiri menunjukkan bahwa kapasitas modal dan likuiditasnya sangat mumpuni untuk mendukung agenda pembangunan nasional jangka panjang.
Direktur Finance & Strategy Bank Mandiri, Novita Widya Anggraini, menjelaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari sinergi yang terintegrasi antara strategi bisnis yang agresif namun terukur dengan pengelolaan risiko yang sangat disiplin. Menurutnya, pertumbuhan ini mempertegas komitmen perseroan dalam menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor yang menjadi tulang punggung ekonomi. Langkah strategis ini sejalan dengan visi pemerintah dalam memperkuat struktur ekonomi nasional melalui pembiayaan yang tepat sasaran. Bank Mandiri memastikan bahwa setiap rupiah yang disalurkan melalui kredit mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi kerakyatan, sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan internal melalui prinsip kehati-hatian yang ketat.
Struktur Pendanaan Solid dan Efisiensi Biaya Dana yang Kompetitif
Keberhasilan di sisi aset dan penyaluran kredit juga didukung oleh struktur pendanaan yang sangat solid. Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank Mandiri secara bank only pada Januari 2026 tercatat mencapai Rp1.635,5 triliun, tumbuh signifikan sebesar 17,29 persen secara tahunan. Pertumbuhan DPK yang melampaui pertumbuhan kredit ini menunjukkan tingginya kepercayaan masyarakat dan nasabah korporasi terhadap stabilitas Bank Mandiri. Strategi optimalisasi pendanaan yang dijalankan perseroan terfokus pada penguatan basis nasabah melalui berbagai inovasi layanan, sehingga mampu menarik likuiditas yang stabil di tengah persaingan perebutan dana di pasar perbankan.
Salah satu pencapaian krusial dalam struktur pendanaan ini adalah dominasi dana murah atau Current Account Saving Account (CASA). Rasio CASA Bank Mandiri berhasil terjaga di level yang sangat sehat, yakni 73 persen. Tingginya rasio dana murah ini menjadi kunci utama bagi efisiensi biaya dana atau Cost of Fund (CoF) perseroan. Dengan rasio CASA yang dominan, Bank Mandiri mampu menekan biaya bunga, yang pada akhirnya memberikan ruang lebih luas bagi bank untuk menyalurkan kredit dengan suku bunga yang kompetitif kepada masyarakat. Hal ini menciptakan siklus positif di mana efisiensi internal mendukung keterjangkauan akses keuangan bagi para pelaku usaha.
Profitabilitas dan Efisiensi Operasional: Memaksimalkan Kinerja Keuangan
Dari sisi profitabilitas, Bank Mandiri mencatatkan performa keuangan yang sangat meyakinkan pada awal tahun 2026. Laba bersih secara month to date (MTD) menunjukkan pertumbuhan positif dua digit, yang didorong oleh kenaikan pendapatan bunga bersih atau Net Interest Income (NII) sebesar 10,2 persen secara tahunan. Peningkatan NII ini merupakan hasil langsung dari ekspansi kredit yang masif serta kemampuan bank dalam mengelola margin bunga secara optimal. Selain itu, kinerja ini juga ditopang oleh penurunan biaya dana (CoF) sebesar 27 basis poin dibandingkan bulan sebelumnya, sehingga posisi CoF pada Januari 2026 berada pada level 2,06 persen, sebuah angka yang sangat kompetitif di industri perbankan tanah air.
Tidak hanya bergantung pada pendapatan bunga, Bank Mandiri juga sukses memperkuat struktur pendapatannya melalui Fee Based Income (FBI) yang bersifat recurring atau berkelanjutan. FBI Bank Mandiri tumbuh sebesar 16,1 persen YoY, yang mencerminkan semakin aktifnya nasabah dalam menggunakan berbagai layanan perbankan, mulai dari transaksi harian hingga layanan konsultasi keuangan. Penguatan FBI ini membuat struktur pendapatan perseroan menjadi lebih berimbang dan tidak hanya bergantung pada fluktuasi suku bunga pasar. Efektivitas pengelolaan biaya juga terlihat dari rasio Cost to Income Ratio (CIR) yang membaik secara signifikan menjadi 37,75 persen, turun 3,44 persen dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat berada di atas level 40 persen.
Digitalisasi sebagai Mesin Pertumbuhan: Transformasi Livin’ dan Kopra
Transformasi digital telah menjadi tulang punggung bagi pertumbuhan eksponensial Bank Mandiri dalam beberapa tahun terakhir. Pada Januari 2026, akselerasi transaksi melalui platform digital Livin’ by Mandiri mencatatkan pertumbuhan luar biasa sebesar 49,3 persen secara tahunan. Livin’ by Mandiri kini bukan sekadar aplikasi mobile banking, melainkan sebuah super app yang mengintegrasikan berbagai kebutuhan finansial dan gaya hidup nasabah ritel dalam satu genggaman. Di sisi lain, untuk segmen wholesale dan pelaku usaha, platform Kopra by Mandiri juga menunjukkan performa impresif dengan peningkatan aktivitas sebesar 27 persen YoY. Keberhasilan kedua platform ini membuktikan bahwa strategi digitalisasi Bank Mandiri telah diterima dengan sangat baik oleh berbagai segmen nasabah.
Selain layanan ritel dan wholesale, transaksi treasury Bank Mandiri juga mengalami lonjakan sebesar 33 persen secara tahunan. Hal ini sejalan dengan penguatan layanan transaksi digital dan solusi pengelolaan finansial menyeluruh yang ditawarkan kepada nasabah korporasi. Novita Widya Anggraini menekankan bahwa penguatan ekosistem digital ini bertujuan untuk menciptakan keunggulan kompetitif yang berkelanjutan serta memperluas inklusi keuangan di Indonesia. Melalui integrasi antara Livin’ untuk individu, Kopra untuk pebisnis, dan Livin’ Merchant untuk mendukung digitalisasi UMKM, Bank Mandiri menciptakan konektivitas yang kuat antarsegmen, memastikan setiap kebutuhan transaksi dapat terpenuhi secara lebih cepat, mudah, dan relevan.
Manajemen Risiko dan Kualitas Kredit yang Terjaga di Level Optimal
Meskipun melakukan ekspansi kredit yang cukup agresif, Bank Mandiri tetap mampu menjaga kualitas asetnya dengan sangat baik. Hal ini tercermin dari angka Cost of Credit (CoC) per Januari 2026 yang mencatatkan penurunan sebesar 21 basis poin secara tahunan menjadi 0,35 persen. Penurunan CoC ini mengindikasikan bahwa biaya yang harus dikeluarkan bank untuk mengantisipasi risiko gagal bayar semakin mengecil, yang merupakan hasil dari selektivitas tinggi dalam penyaluran kredit. Kedisiplinan dalam manajemen risiko ini menjadi fondasi utama bagi keberlanjutan bisnis Bank Mandiri dalam jangka panjang.
Kualitas kredit yang sehat juga dipertegas oleh rasio Non-Performing Loan (NPL) yang tetap terjaga stabil di level 0,97 persen, atau mengalami penurunan sebesar 3 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka NPL yang berada di bawah 1 persen ini merupakan pencapaian luar biasa bagi bank dengan skala aset sebesar Bank Mandiri, mengingat rata-rata industri seringkali berada di atas level tersebut. Kondisi ini mencerminkan bahwa meskipun bank sangat aktif menyalurkan pembiayaan, proses underwriting dan monitoring kredit tetap berjalan dengan standar yang sangat ketat, memastikan bahwa ekspansi yang dilakukan adalah ekspansi yang berkualitas.
Visi Strategis: Menjadi Bagian dari Ekosistem Danantara dan Pembangunan Nasional
Sebagai salah satu pilar utama dalam ekosistem Danantara, Bank Mandiri memiliki tanggung jawab besar untuk terus mengarahkan pembiayaannya pada sektor-sektor prioritas yang memiliki dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Fokus pada sektor energi terbarukan, infrastruktur strategis, dan hilirisasi industri menjadi bagian dari agenda besar perseroan. Melalui penguatan ekosistem yang terhubung dari hulu ke hilir, mulai dari perusahaan besar hingga pelaku UMKM yang menjadi pemasoknya, Bank Mandiri memastikan bahwa setiap lini bisnis saling mendukung untuk menciptakan nilai tambah yang luas bagi seluruh pemangku kepentingan.
Menutup keterangannya, Novita menyatakan optimisme yang tinggi terhadap prospek kinerja Bank Mandiri di sepanjang tahun 2026. Dengan fundamental yang solid, efisiensi operasional yang terus meningkat, serta strategi digital yang adaptif, Bank Mandiri yakin dapat mempertahankan momentum pertumbuhan yang sehat dan inklusif. Kolaborasi dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan akan terus diperkuat guna mendukung agenda pembangunan nasional, menjadikan Bank Mandiri bukan hanya sekadar lembaga keuangan, tetapi juga motor penggerak kesejahteraan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan.

















