Mempawah, Kalimantan Barat – Sebuah megaproyek hilirisasi bauksit bernilai miliaran dolar Amerika Serikat tengah digarap di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, menandai ambisi besar Indonesia untuk bertransformasi menjadi pemain global dalam industri aluminium. Proyek terintegrasi yang dikelola oleh MIND ID, sebuah holding company Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sektor pertambangan, ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam domestik, tetapi juga diproyeksikan akan membuka ribuan lapangan kerja baru dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global material strategis abad ke-21. Proyek ini, yang melibatkan pembangunan smelter alumina dan aluminium, merupakan bagian dari komitmen nasional untuk mendorong industrialisasi dan mengurangi ketergantungan pada impor, sekaligus mendukung transisi energi yang semakin masif.
Proyek monumental ini, dengan total nilai investasi diperkirakan mencapai US$ 3 miliar atau setara dengan Rp 50 triliun, merupakan salah satu dari enam proyek strategis yang diinisiasi oleh Daya Anagata Nusantara (Danantara) dan diresmikan pada hari Jumat, 6 Februari 2026. Chief Executive Officer Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menggarisbawahi signifikansi proyek ini sebagai langkah krusial dalam mewujudkan hilirisasi industri bauksit di Indonesia. “Hilirisasi di bidang smelter alumina dan aluminium nilainya kurang lebih US$ 3 miliar (sekitar Rp 50 triliun),” ujar Rosan saat ditemui di Wisma Danantara, Jakarta. Investasi sebesar ini mencerminkan skala dan ambisi proyek yang diharapkan dapat memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi daerah dan nasional.
Peran Strategis MIND ID dan Anak Perusahaannya
Pelaksanaan proyek hilirisasi bauksit ini dipercayakan kepada sejumlah BUMN pertambangan terkemuka yang berada di bawah naungan MIND ID. PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum), PT Bukit Asam Tbk, dan PT Antam Tbk menjadi garda terdepan dalam menggarap berbagai aspek proyek ini. PT Bukit Asam Tbk, misalnya, akan bertanggung jawab penuh atas pembangunan infrastruktur energi yang vital bagi operasional smelter, mengingat sumber energi utama yang akan digunakan berasal dari batu bara. Integrasi ini memastikan bahwa seluruh rantai nilai, mulai dari penambangan, pengolahan, hingga produksi aluminium, dapat dikelola secara efisien dan terpadu di dalam negeri.
Direktur Utama MIND ID, Maroef Sjamsoeddin, menekankan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fasilitas industri, melainkan sebuah momentum penting untuk menentukan arah pembangunan nasional di masa depan. Lebih dari sekadar peningkatan nilai ekonomi, proyek ini diproyeksikan akan menjadi lokomotif penciptaan lapangan kerja baru yang substansial, serta mentransformasi Indonesia dari sekadar pasar penjualan produk aluminium menjadi produsen aluminium yang diperhitungkan di kancah global. “Aluminium adalah material strategis pada abad ke-21 yang memiliki peran penting dalam sektor transportasi, energi terbarukan, konstruksi, industri pertahanan, dan teknologi hijau,” ungkap Maroef dalam sambutannya, menegaskan urgensi Indonesia untuk menguasai industri ini.
Detail Proyek Smelter dan Peningkatan Kapasitas Produksi
Secara spesifik, proyek ini mencakup pembangunan sebuah smelter aluminium modern di Mempawah dengan nilai investasi mencapai Rp 40,6 triliun. Fasilitas ini dirancang untuk memiliki kapasitas produksi sebesar 600 ribu ton aluminium per tahun. Keberadaan smelter ini diprediksi akan menyerap tenaga kerja sebanyak 1.370 orang, memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian lokal melalui penciptaan lapangan kerja.
Maroef Sjamsoeddin juga merinci rencana pengembangan industri aluminium terpadu yang sedang berjalan. Saat ini, Inalum telah mengoperasikan satu smelter aluminium di Kuala Tanjung, Sumatera Utara, dengan kapasitas produksi 275 ribu ton per tahun. Kapasitas ini akan ditingkatkan secara signifikan menjadi 900 ribu ton per tahun, seiring dengan pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) fase kedua yang juga dikerjakan oleh Inalum dan Antam melalui PT Borneo Alumina Indonesia. SGAR fase pertama sendiri telah memiliki kapasitas produksi alumina sebesar 1 juta ton per tahun.
Dengan selesainya pengembangan SGAR fase kedua, total kapasitas produksi alumina Indonesia akan melonjak menjadi 2 juta ton per tahun. Peningkatan kapasitas ini membutuhkan pasokan bijih bauksit yang masif, yaitu sebesar 6 juta ton per tahun. Kebutuhan bahan tambang ini akan dipenuhi dari area Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang dikuasai oleh PT Antam Tbk di Kabupaten Mempawah dan Kabupaten Landak, memastikan ketersediaan bahan baku yang terjamin dan mendukung keberlanjutan operasional industri.

















