Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini melontarkan instruksi strategis yang berpotensi mengubah lanskap investasi nasional, menargetkan peningkatan signifikan pada Return on Assets (ROA) lembaga pengelola investasi negara, PT Danantara Investment Management, hingga mencapai angka 7 persen. Instruksi ini disampaikan dalam forum bergengsi Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, menandai sebuah ambisi besar untuk mengoptimalkan kinerja aset negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih substansial. Permintaan ini bukan sekadar angka, melainkan sebuah mandat untuk mengarahkan investasi pada proyek-proyek berimbal hasil tinggi, yang secara inheren memiliki standar investasi yang lebih ketat dan berpotensi memberikan keuntungan lebih besar bagi negara. Tantangan ini secara langsung ditujukan kepada Danantara, sebuah entitas yang memegang peranan krusial dalam pengelolaan dana investasi strategis. Menanggapi arahan Presiden, jajaran Bank Himbara (Himpunan Bank Milik Negara) menyatakan kesiapannya untuk bekerja keras dan mencari strategi inovatif demi mencapai target ambisius tersebut, menunjukkan sinergi antara pemerintah dan BUMN dalam mencapai tujuan ekonomi nasional.
Mendalami Target ROA 7 Persen: Sebuah Lompatan Strategis
Target ROA sebesar 7 persen yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto untuk PT Danantara Investment Management merupakan sebuah lompatan strategis yang signifikan. ROA, atau Return on Assets, adalah rasio profitabilitas yang mengukur seberapa efektif suatu perusahaan dalam menghasilkan laba dari total aset yang dimilikinya. Peningkatan ROA dari angka sebelumnya (yang diasumsikan lebih rendah dari 7%) menjadi 7 persen ini mengindikasikan adanya dorongan kuat untuk meningkatkan efisiensi operasional, produktivitas aset, dan pada akhirnya, profitabilitas lembaga pengelola investasi tersebut. Angka 7 persen ini dapat dianggap sebagai tolok ukur kinerja yang menantang, namun juga realistis jika strategi yang tepat diterapkan. Presiden secara eksplisit meminta Danantara untuk fokus pada proyek-proyek yang memiliki potensi imbal hasil tinggi, yang seringkali juga berarti proyek dengan skala lebih besar, teknologi lebih maju, atau sektor-sektor ekonomi yang sedang berkembang pesat dan memiliki daya saing global. Ini bukan sekadar target keuangan, melainkan sebuah penegasan visi ekonomi yang mengedepankan kualitas investasi dan optimalisasi sumber daya negara.
Dalam konteks ini, Bank Himbara, yang terdiri dari bank-bank BUMN seperti BRI, BNI, Mandiri, dan BTN, memiliki peran penting dalam mendukung pencapaian target ini. Sebagai institusi keuangan yang memiliki jaringan luas dan kapasitas penyaluran dana yang besar, Bank Himbara diharapkan dapat berkolaborasi dengan Danantara dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan mendanai proyek-proyek strategis yang sesuai dengan kriteria berimbal hasil tinggi. Pernyataan dari perwakilan BRI, Bapak Herry, yang menekankan komitmen untuk mencari strategi yang tepat, serta komentar singkat namun padat dari Nixon, “Kerja keras lah pokoknya,” mencerminkan kesadaran akan besarnya tantangan sekaligus tekad untuk memberikan yang terbaik. Ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya menetapkan target, tetapi juga memastikan adanya langkah konkret dan komitmen dari para pemangku kepentingan untuk mencapainya. Kinerja positif yang telah ditunjukkan oleh Danantara dan Himbara pada periode sebelumnya menjadi landasan keyakinan Presiden untuk menetapkan target yang lebih tinggi lagi, mendorong mereka untuk terus berinovasi dan berkinerja lebih baik.
Strategi dan Tantangan dalam Mencapai 7 Persen ROA
Mencapai target ROA 7 persen bukanlah tugas yang mudah dan memerlukan serangkaian strategi yang matang serta antisipasi terhadap berbagai tantangan. Pertama, Danantara perlu melakukan diversifikasi portofolio investasi secara cermat. Fokus pada proyek high return bukan berarti mengabaikan manajemen risiko. Analisis kelayakan yang mendalam, studi pasar yang komprehensif, dan pemilihan mitra strategis yang terpercaya akan menjadi kunci. Sektor-sektor yang berpotensi menawarkan imbal hasil tinggi meliputi teknologi finansial (fintech), energi terbarukan, infrastruktur digital, industri hilirisasi sumber daya alam, serta sektor manufaktur bernilai tambah tinggi. Selain itu, Danantara juga perlu mengeksplorasi instrumen investasi yang lebih inovatif, baik di pasar domestik maupun internasional, yang dapat memberikan imbal hasil kompetitif.
Tantangan terbesar yang dihadapi adalah bagaimana mengidentifikasi proyek-proyek yang benar-benar memiliki potensi high return namun tetap dalam koridor risiko yang dapat dikelola. Hal ini membutuhkan tim analis investasi yang kompeten, memiliki pemahaman mendalam tentang tren global, dan mampu memprediksi pergerakan pasar. Selain itu, koordinasi yang erat dengan regulator dan lembaga pemerintah terkait, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian BUMN, dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), akan sangat penting untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi dan menciptakan iklim investasi yang kondusif. Kolaborasi dengan Bank Himbara juga menjadi elemen krusial. Bank-bank Himbara dapat berperan sebagai sumber pendanaan awal, mitra dalam analisis kredit, serta penyedia layanan perbankan yang mendukung operasional proyek-proyek investasi Danantara. Sinergi ini diharapkan dapat mempercepat proses investasi dan meminimalkan hambatan birokrasi.
Lebih lanjut, efisiensi internal Danantara juga perlu terus ditingkatkan. Optimalisasi struktur organisasi, penerapan teknologi informasi yang mutakhir dalam pengelolaan aset, serta pengembangan sumber daya manusia yang kompeten akan berkontribusi pada penurunan biaya operasional dan peningkatan produktivitas. Pengelolaan kinerja aset yang ada secara optimal juga menjadi prioritas. Ini mencakup evaluasi berkala terhadap aset-aset yang sudah ada, apakah masih memberikan imbal hasil yang diharapkan atau perlu dilakukan restrukturisasi, divestasi, atau revaluasi. Dengan demikian, target ROA 7 persen bukan hanya tentang mencari proyek baru, tetapi juga tentang memaksimalkan potensi dari aset yang sudah dimiliki.
Presiden Prabowo Subianto, melalui instruksnya ini, tidak hanya menuntut angka, tetapi juga mendorong sebuah transformasi dalam cara pengelolaan investasi negara. Ini adalah panggilan untuk bergerak maju, berani mengambil peluang, dan berinovasi demi kemajuan ekonomi bangsa. Respons positif dari Bank Himbara menunjukkan bahwa tantangan ini diterima dengan semangat kolaborasi dan kerja keras. Ke depan, publik akan menantikan bagaimana strategi-strategi konkret akan diimplementasikan oleh Danantara dan bagaimana sinergi dengan Bank Himbara akan membuahkan hasil yang signifikan, membawa Indonesia menuju kemandirian ekonomi yang lebih kuat dan sejahtera.

















