Presiden Prabowo Subianto secara resmi menegaskan komitmen strategis pemerintah untuk memperbesar skala operasional dan daya saing PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) di kancah internasional guna mengembalikan kejayaan maskapai nasional tersebut sebagai flag carrier yang disegani. Dalam pertemuan krusial yang berlangsung di Istana Negara pada Senin, 2 Februari 2026, Presiden Prabowo memanggil Direktur Utama Garuda Indonesia, Glenny Kairupan, untuk membahas peta jalan transformasi teknologi dan penguatan fundamental perusahaan di tengah tantangan finansial yang masih membayangi. Langkah ambisius ini diambil sebagai respons atas kondisi industri penerbangan global yang semakin kompetitif, di mana Garuda Indonesia ditargetkan tidak hanya sekadar bertahan, tetapi tumbuh menjadi pemain kunci yang mengadopsi inovasi terbaru untuk meningkatkan kapasitas produksi dan efisiensi operasional secara menyeluruh melalui dukungan penuh dari Badan Pengelola Investasi Danantara.
Namun, dalam keterangan resminya usai pertemuan tersebut, Glenny Kairupan menjelaskan bahwa saat ini belum terdapat rencana konkret terkait pembelian armada pesawat baru dalam waktu dekat. Fokus utama manajemen saat ini adalah melakukan koordinasi intensif terkait dengan integrasi teknologi mutakhir ke dalam sistem operasional maskapai. Glenny menekankan bahwa Presiden Prabowo secara spesifik meminta Garuda Indonesia untuk terus memantau dan mengikuti tren perkembangan teknologi dunia agar tidak tertinggal dari maskapai-maskapai global lainnya. Arahan ini menjadi sinyal kuat bahwa transformasi digital dan modernisasi sistem akan menjadi fondasi utama dalam upaya memperbesar skala bisnis GIAA, sebelum melangkah pada ekspansi fisik armada secara masif.
Restrukturisasi Permodalan dan Suntikan Dana Jumbo Melalui Danantara
Upaya memperbesar Garuda Indonesia bukan sekadar wacana, melainkan didukung oleh sokongan finansial yang sangat signifikan. Melalui Badan Pengelola Investasi Danantara, GIAA telah dipastikan mendapatkan suntikan dana jumbo sebesar Rp23,7 triliun. Dana segar ini diperoleh melalui aksi korporasi berupa private placement, yang menandai babak baru dalam struktur permodalan perusahaan. Wakil Direktur Utama Garuda Indonesia, Thomas Sugiarto Oentoro, menyebutkan bahwa dukungan finansial ini merupakan momen krusial bagi keberlangsungan dan pertumbuhan GIAA ke depan. Suntikan modal tersebut telah dialokasikan secara strategis untuk dua fokus utama: penyehatan armada Citilink dan pemeliharaan pesawat (maintenance) milik Garuda Indonesia guna meningkatkan kapasitas produksi yang selama ini terkendala oleh keterbatasan jumlah pesawat siap terbang.
Berikut adalah rincian alokasi dan target dari dukungan dana yang diterima oleh Garuda Indonesia:
| Komponen Utama | Deskripsi Alokasi Dana | Tujuan Strategis |
|---|---|---|
| Penyehatan Armada Citilink | Perbaikan dan reaktivasi pesawat yang sempat tidak beroperasi. | Meningkatkan pangsa pasar penerbangan domestik berbiaya rendah (LCC). |
| Pemeliharaan Pesawat GIAA | Peningkatan intensitas perawatan mesin dan komponen utama pesawat. | Menjamin keselamatan dan meningkatkan frekuensi penerbangan internasional. |
| Transformasi Teknologi | Investasi pada sistem manajemen penerbangan berbasis AI dan data. | Efisiensi biaya operasional dan peningkatan pengalaman pelanggan. |
| Penguatan Modal Kerja | Penyediaan likuiditas untuk operasional harian dan pembayaran kewajiban. | Menstabilkan arus kas perusahaan di tengah fluktuasi harga avtur. |
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya turut memberikan penjelasan mendalam mengenai hasil pertemuan di Kompleks Istana Kepresidenan. Menurut Teddy, Presiden Prabowo memiliki visi besar agar Garuda Indonesia memiliki jangkauan yang lebih luas dan kinerja yang jauh lebih perkasa dibandingkan periode-periode sebelumnya. “Kita ingin membesarkan Garuda Indonesia agar mampu bersaing secara global. Ini adalah instruksi langsung dari Bapak Presiden untuk memastikan maskapai nasional kita menjadi kebanggaan di mata dunia,” ujar Teddy saat menjawab pertanyaan wartawan. Visi ini mencakup perluasan rute-rute strategis dan peningkatan standar layanan yang harus sejalan dengan kemajuan teknologi penerbangan terkini.
Tantangan Finansial: Menghadapi Pembengkakan Kerugian di Kuartal III/2025
Meskipun mendapatkan dukungan modal yang masif, Garuda Indonesia masih harus berhadapan dengan realitas laporan keuangan yang menantang. Berdasarkan data terbaru, GIAA masih mencatatkan kinerja rugi yang cukup signifikan. Laporan keuangan menunjukkan bahwa perusahaan membukukan rugi bersih sebesar US$182,53 juta per kuartal III/2025. Angka ini menunjukkan pembengkakan kerugian sebesar 39,10% secara tahunan (year on year/YoY) jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, di mana rugi bersih tercatat sebesar US$131,22 juta. Kondisi ini menjadi tantangan berat bagi manajemen untuk membuktikan bahwa suntikan dana dari Danantara dapat segera membalikkan keadaan finansial perusahaan menjadi profitabel.
Beberapa faktor utama yang menyebabkan performa keuangan yang masih tertekan antara lain:
- Penurunan Pendapatan Usaha: Pendapatan usaha GIAA mengalami penurunan sebesar 6,7% YoY menjadi US$2,39 miliar per kuartal III/2025, turun dari posisi US$2,56 miliar pada kuartal III/2024.
- Beban Operasional yang Tinggi: Biaya pemeliharaan pesawat dan fluktuasi harga bahan bakar pesawat (avtur) tetap menjadi komponen pengeluaran terbesar yang menekan margin keuntungan.
- Kapasitas Produksi Terbatas: Jumlah pesawat yang siap beroperasi belum mencapai level optimal untuk memenuhi permintaan pasar yang mulai pulih pasca-pandemi.
- Persaingan Ketat: Munculnya maskapai-maskapai baru dan ekspansi agresif dari kompetitor regional memaksa Garuda untuk melakukan penyesuaian strategi harga yang berdampak pada pendapatan.
Transformasi Teknologi Sebagai Kunci Masa Depan
Dalam upaya mengatasi kerugian tersebut, Presiden Prabowo menekankan bahwa transformasi teknologi bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Dengan mengikuti tren teknologi dunia, Garuda Indonesia diharapkan dapat melakukan efisiensi pada pos-pos biaya yang selama ini tidak terkontrol. Misalnya, penggunaan teknologi analisis data besar (big data) untuk optimasi rute dan konsumsi bahan bakar, serta sistem pemeliharaan prediktif yang dapat mengurangi durasi pesawat berada di hanggar. Glenny Kairupan menyatakan bahwa arahan Presiden ini akan segera diterjemahkan ke dalam program kerja konkret yang akan diintegrasikan dengan rencana jangka panjang perusahaan dalam memperbesar skala bisnisnya.
Ke depan, strategi “memperbesar Garuda” ini akan sangat bergantung pada seberapa efektif dana Rp23,7 triliun tersebut dikelola untuk memperbaiki fundamental operasional. Dengan komitmen penuh dari Presiden Prabowo dan dukungan kelembagaan dari Danantara, Garuda Indonesia kini berada di persimpangan jalan menuju pemulihan total. Fokus pada pemeliharaan armada Citilink dan GIAA diharapkan dapat segera meningkatkan jumlah kursi tersedia (available seat kilometers), yang pada gilirannya akan mendongkrak pendapatan usaha dan menekan angka kerugian bersih di kuartal-kuartal mendatang. Transformasi ini menjadi ujian bagi manajemen Garuda Indonesia untuk membuktikan bahwa maskapai nasional ini layak mendapatkan kepercayaan besar dari pemerintah dan masyarakat Indonesia.

















