SUARA tabuhan tambur, gong, dan simbal yang menggelegar tiba-tiba memecah keheningan malam, membuyarkan konsentrasi ratusan warga yang tengah menikmati kemeriahan suasana menyambut perayaan Tahun Baru Imlek 2026 di kawasan strategis Solo, membentang dari depan Pasar Gede hingga pelataran Balai Kota. Peristiwa mengejutkan ini terjadi pada Sabtu malam, 14 Februari 2026, menciptakan momen tak terduga yang sontak menarik perhatian seluruh hadirin. Kehadiran tiga barongsai yang tampil memukau, dengan gerakan lincah dan warna-warni yang memikat, menjadi magnet utama yang menghidupkan perayaan Imlek di jantung Kota Surakarta, sekaligus menjadi perwujudan nyata dari semangat kebhinekaan yang digaungkan oleh DPC PDI Perjuangan Kota Solo sebagai penyelenggara acara. Perhelatan akbar ini tidak hanya menjadi ajang hiburan semata, tetapi juga sarat makna, menampilkan kekayaan budaya dan komitmen untuk merawat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Pertunjukan Barongsai: Simbol Keberagaman dan Semangat Kebhinekaan
Di tengah semaraknya perayaan Imlek, tiga sosok barongsai yang mempesona, masing-masing berbalut warna biru, kuning, dan ungu yang kontras, mulai unjuk kebolehan di pelataran plaza Balai Kota Solo. Tarian mereka yang dinamis dan penuh energi, diiringi oleh irama tabuhan tambur, dentuman gong, dan gemerincing simbal yang menghentak, berhasil menciptakan atmosfer yang begitu hidup dan menggugah semangat. Setiap gerakan barongsai, dari liukan kepala yang ekspresif hingga lompatan yang mengagumkan, memancarkan kegembiraan dan vitalitas. Pertunjukan ini tidak hanya memukau mata, tetapi juga menyentuh hati para penonton dari berbagai usia. Anak-anak kecil, yang awalnya mungkin sedikit ragu dan bersembunyi di balik punggung orang tua mereka karena terkejut oleh kemunculan mendadak barongsai, segera berubah menjadi riang gembira. Keberanian mereka teruji ketika “kepala singa” yang penuh warna itu mendekat, mengangguk ramah, bahkan seolah mengedipkan mata, mengundang tawa riang dan interaksi yang hangat. Perpaduan warna-warna cerah yang mencolok dari barongsai, berpadu harmonis dengan gemerlap cahaya lampu malam, menjadikan atraksi ini sebagai titik fokus utama di tengah kerumunan warga yang antusias.
Bagi sebagian besar warga yang hadir, terutama yang berasal dari luar Solo, menyaksikan pertunjukan barongsai secara langsung di depan Balai Kota Solo merupakan pengalaman yang benar-benar baru dan tak terlupakan. Khoirunnisa, seorang gadis cilik berusia 8 tahun yang datang dari Sukoharjo bersama keluarganya, mengungkapkan rasa terkejutnya yang bercampur dengan kebahagiaan. “Saya baru pertama kali lihat barongsai tampil persis di depan Balai Kota Solo. Tadi sempat kaget karena tiba-tiba ramai suara tambur, tapi ternyata seru sekali,” tuturnya dengan mata berbinar, menggambarkan betapa momen tersebut meninggalkan kesan mendalam baginya. Pengalaman ini, bagi Khoirunnisa dan banyak lainnya, menjadi bukti nyata bagaimana perayaan Imlek tidak hanya dirayakan oleh komunitas Tionghoa, tetapi juga menjadi bagian dari pesta rakyat yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, merayakan keberagaman budaya yang menjadi kekayaan bangsa.
Kehadiran tiga barongsai yang memukau ini tidak hanya sekadar hiburan visual, tetapi juga menjadi penanda penting dalam rangkaian perayaan Imlek di Kota Solo. Momen ini berhasil menambah nuansa kehangatan dan kebersamaan dalam suasana malam yang telah terasa semarak sejak sore hari, merentang dari kawasan Pasar Gede, melintasi kompleks Balai Kota Surakarta, hingga ke area Gladak. Kemeriahan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, yang menunjukkan komitmen bersama untuk merayakan Imlek sebagai bagian integral dari identitas budaya Kota Solo. Keberhasilan penyelenggaraan acara ini juga menegaskan peran penting seni pertunjukan tradisional dalam mempererat tali silaturahmi antarwarga dan memperkaya khazanah budaya lokal.
Makna Imlek dan Komitmen Merawat Kebhinekaan
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Solo, Aria Bima, yang turut hadir menyaksikan kemeriahan tersebut, memberikan penekanan penting mengenai makna Imlek bagi masyarakat Solo. Beliau menegaskan bahwa perayaan Imlek merupakan cerminan dari kekayaan budaya yang dimiliki oleh Kota Solo. “Imlek juga menjadi bagian dari kekayaan budaya Kota Solo,” ujar Aria Bima, menggarisbawahi pentingnya perayaan ini sebagai representasi keragaman yang ada di kota tersebut. Lebih lanjut, beliau menyampaikan harapan agar Tahun Baru Imlek, yang pada tahun 2026 ini dikenal sebagai Tahun Kuda Api, membawa limpahan keberkahan tidak hanya bagi individu, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Indonesia secara luas, dengan harapan terwujudnya kesejahteraan yang merata.
Lebih dari sekadar tontonan, pertunjukan barongsai dengan balutan warna-warni cerah yang memukau ini sarat akan makna simbolis. Ia menjelma menjadi representasi nyata dari persatuan dan kebersamaan yang terjalin antar berbagai golongan masyarakat di Kota Solo. Hal ini sejalan dengan tema yang diusung dalam perayaan tersebut, yaitu “Harmoni Nusantara dalam Kebhinekaan”. Aria Bima menekankan filosofi di balik pemilihan warna-warna yang ditampilkan. “Yang kita tampilkan bukan sekadar warna merah, hijau, atau kuning, melainkan warna pelangi yang lebih indah sebagai simbol pluralisme,” jelasnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa esensi dari perayaan ini adalah merayakan keragaman dalam segala aspeknya, bukan hanya dalam konteks etnis atau agama, tetapi juga dalam keunikan setiap individu yang membentuk mozaik masyarakat Indonesia. Komitmen untuk mengedepankan kepentingan bangsa dan negara, khususnya Kota Solo, menjadi landasan utama dalam setiap gelaran acara, memastikan bahwa semangat persatuan dan kebhinekaan senantiasa terjaga dan terus diperkuat.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari rangkaian perayaan Imlek yang diselenggarakan secara luas, mencakup area strategis mulai dari Pasar Gede, Balai Kota, hingga Gladak. Antusiasme ribuan warga yang memadati pusat kota untuk menyaksikan atraksi barongsai dengan gerakan lincah dan warna mencolok menjadi bukti nyata betapa acara ini berhasil menarik perhatian dan memberikan hiburan yang berkualitas. DPC PDI Perjuangan Kota Solo tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga turut memeriahkan suasana dengan membagikan ratusan angpao, sebuah tradisi yang selalu dinanti-nantikan, terutama oleh anak-anak. Pembagian angpao ini menjadi simbol kebahagiaan dan rezeki yang diharapkan dapat membawa keberuntungan di tahun yang baru. Kehadiran tiga barongsai dan pembagian angpao ini menjadi daya tarik utama yang membuat Balai Kota Solo ramai dikunjungi warga, menciptakan suasana kebersamaan dan apresiasi terhadap keragaman budaya yang menjadi identitas Kota Solo.

















