Perayaan Tahun Baru Imlek, yang pada tahun 2026 akan jatuh pada tanggal 17 Februari, bukan sekadar momen pergantian kalender, melainkan sebuah tapestry kaya akan tradisi, makna, dan harapan. Di tengah semaraknya lampion merah dan doa-doa untuk tahun yang lebih baik, hidangan kuliner memegang peranan sentral sebagai jembatan yang menghubungkan generasi, mempererat tali silaturahmi, dan mengundang keberuntungan. Setiap sajian yang terhidang di meja makan keluarga Tionghoa di seluruh dunia, dari pangsit hingga mi panjang, bukan hanya memanjakan lidah, tetapi juga menyimpan filosofi mendalam, menjadi simbol doa dan aspirasi untuk kemakmuran, umur panjang, kesehatan, dan keharmonisan di tahun yang baru. Inilah mengapa setiap hidangan dipersiapkan dengan penuh perhatian, bukan hanya sebagai makanan, melainkan sebagai manifestasi harapan yang kuat untuk masa depan.
Tradisi kuliner Imlek ini, meskipun memiliki inti yang sama, menunjukkan variasi menarik tergantung pada wilayah geografis, negara, dan latar belakang keluarga. Namun, benang merah yang menyatukan semuanya adalah keyakinan bahwa makanan tradisional Tahun Baru Imlek memiliki sifat sangat simbolis, hampir selalu terhubung dengan harapan akan kemakmuran yang melimpah, umur panjang yang berkah, dan keberuntungan yang tak terhingga. Peter Som, seorang pakar gaya hidup dan penulis buku “Family Style”, menegaskan bahwa setiap hidangan adalah metafora visual dan rasa untuk doa-doa yang dipanjatkan. Lebih dari sekadar mengisi perut, jamuan Imlek menjadi cara merayakan tahun baru dengan penuh makna, doa, dan kebersamaan, di mana setiap gigitan adalah cara sederhana merayakan kebersamaan dan mengundang keberuntungan di tahun yang baru. Mari kita selami lebih dalam ragam hidangan yang tak boleh absen dari perayaan Imlek, dan makna di baliknya.
Hidangan Pembawa Keberuntungan: Simbolisme dalam Setiap Sajian
Pangsit (Jiaozi)
Salah satu hidangan yang paling ikonik dan tak terpisahkan dari perayaan Imlek adalah pangsit, yang dikenal sebagai jiaozi dalam bahasa Mandarin atau mandoo dalam bahasa Korea. Kehadirannya di meja makan Imlek memiliki makna yang sangat mendalam, terutama terkait dengan kekayaan dan kemakmuran. Annie Shi, salah satu penulis The King Cookbook, menjelaskan bahwa bentuk pangsit yang menyerupai batangan emas tradisional Tiongkok kuno, yang disebut yuanbao, menjadikannya simbol kuat untuk menarik lebih banyak kemakmuran di tahun yang baru. Keyakinan ini mendorong banyak keluarga untuk membuat dan menyantap pangsit dalam jumlah besar, dengan harapan bahwa semakin banyak pangsit yang dimakan, semakin besar pula kekayaan yang akan terkumpul di tahun mendatang.
Pangsit umumnya terdiri dari kulit adonan tipis yang membungkus isian beragam. Meskipun sebagian besar diisi dengan daging babi cincang, variasi isian bisa sangat luas, termasuk udang, kol, daun bawang, atau sayuran lainnya, yang semuanya dicincang halus dan dibumbui dengan rempah-rempah khas. Proses pembuatan pangsit seringkali menjadi aktivitas keluarga yang melibatkan semua anggota, mulai dari menguleni adonan, mencincang isian, hingga melipat kulit pangsit menjadi bentuk yang sempurna. Momen kebersamaan ini tidak hanya menghasilkan hidangan lezat, tetapi juga mempererat ikatan keluarga dan menanamkan nilai-nilai tradisi kepada generasi muda. Ada pula kepercayaan bahwa menyembunyikan koin keberuntungan di salah satu pangsit akan membawa nasib baik ekstra bagi siapa pun yang menemukannya.
Ikan Utuh
Hidangan ikan utuh, seringkali dikukus dengan bumbu jahe dan daun bawang, merupakan simbol kuat dari kelimpahan dan keberuntungan yang tak terputus. Dalam bahasa Mandarin, kata “ikan” (鱼, yú) memiliki pelafalan yang mirip dengan kata “surplus” atau “melimpah” (余, yú), menjadikan hidangan ini representasi visual dari harapan untuk memiliki “lebih dari cukup” di tahun yang baru. Aspek krusial dari penyajian ikan ini adalah harus dalam keadaan utuh, dari kepala hingga ekor, tanpa dipotong atau dibagi. Sophia Tsao, pemilik generasi kedua dari Po Wing Hong Food Market di New York City, sekaligus pembicara di Museum Tionghoa di Amerika, menegaskan bahwa menyajikan ikan yang tidak utuh dipercaya dapat membawa kesialan, karena melambangkan sesuatu yang tidak lengkap atau terputus.
Kepala ikan melambangkan awal yang baik, sementara ekornya melambangkan akhir yang sempurna, sehingga penyajian utuh memastikan kelengkapan dan keberuntungan dari awal hingga akhir tahun. Uniknya, ada tradisi di mana ikan tidak dimakan seluruhnya. “Meninggalkan sebagian ikan di piring melambangkan bahwa Anda memiliki lebih dari cukup, sebuah kelimpahan yang akan terus berlanjut,” jelas Tsao. Ini adalah simbol visual yang kuat, menunjukkan bahwa keluarga tersebut tidak kekurangan dan memiliki rezeki yang berlimpah, sehingga tidak perlu menghabiskan semuanya. Hidangan ikan utuh ini menjadi pengingat akan pentingnya bersyukur atas rezeki yang telah diberikan dan harapan untuk terus diberkahi di masa depan.
Mi Panjang (Changshou Mian)
Mi panjang, yang di beberapa daerah di Tiongkok dikenal sebagai changshou mian, adalah hidangan esensial lain yang melambangkan umur panjang. Filosofi di balik hidangan ini sangat sederhana namun kuat: semakin panjang mi yang disantap, semakin panjang pula umur yang diharapkan. Oleh karena itu, mi ini disajikan tanpa dipotong, dan penting bagi siapa pun yang memakannya untuk mencoba menyantapnya sepanjang mungkin tanpa memutusnya. “Semakin panjang semakin baik!” kata Tsao, menekankan pentingnya mempertahankan panjang mi sebagai simbolisasi umur yang tak terputus.
Cara penyajian mi panjang ini bervariasi tergantung daerah dan preferensi keluarga. Beberapa resep populer melibatkan tumisan dengan jamur shitake, daun bawang segar, serta irisan daging babi yang gurih. Ada pula yang menyajikannya dalam kuah kaldu hangat. Terlepas dari variasi penyajiannya, esensi mi panjang sebagai doa untuk hidup yang panjang dan sehat tetap menjadi inti dari hidangan Imlek ini. Ini adalah pengingat untuk menghargai setiap momen kehidupan dan berharap untuk tahun-tahun yang lebih banyak lagi bersama orang-orang terkasih.
Buah Jeruk
Buah-buahan, khususnya jeruk mandarin, merupakan bagian penting dari hidangan dan dekorasi Tahun Baru Imlek. Sophia Tsao menjelaskan bahwa jeruk mandarin secara khusus dianggap sebagai pembawa keberuntungan. Bentuknya yang bulat sempurna melambangkan keberlanjutan, kebulatan, dan kesempurnaan, mirip dengan sekantong uang atau koin emas. Warna oranye atau keemasan dari jeruk ini juga secara langsung diasosiasikan dengan emas dan kekayaan, sehingga sering disajikan sebagai dekorasi di atas meja, ditata bertumpuk tinggi untuk melambangkan timbunan emas dan kemakmuran yang melimpah.
Tidak hanya buahnya, daun-daun yang masih menempel pada tangkai jeruk juga memiliki makna simbolis tersendiri. Daun-daun tersebut melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan yang terus tumbuh dan berkembang. Memberikan jeruk mandarin sebagai hadiah juga merupakan tradisi yang umum, di mana tindakan ini melambangkan harapan pemberi agar penerima diberkahi dengan kekayaan dan keberuntungan. Bahkan, dalam bahasa Kanton, kata untuk jeruk (桔, gat) terdengar mirip dengan kata “keberuntungan” (吉, gat), semakin memperkuat asosiasinya dengan hal-hal baik.
Makanan Manis dan Kue Keberuntungan
Perayaan Imlek tidak akan lengkap tanpa berbagai jenis makanan manis yang melambangkan awal tahun yang “manis” dan penuh kebahagiaan. Salah satu yang paling dikenal adalah puding beras ketan, seringkali dihiasi secara artistik dengan delapan jenis manisan atau buah kering, biji-bijian, atau kacang-kacangan yang berbeda. Angka delapan (八, bā) sendiri adalah angka keberuntungan dalam budaya Tionghoa, karena pelafalannya mirip dengan kata “kekayaan” atau “kemakmuran” (发, fā).
Selain itu, ada juga nampan permen berbentuk lingkaran yang terbagi dalam delapan bagian, sering disebut “Tray of Togetherness” atau “Prosperity Box”. Setiap bagian berisi jenis permen yang berbeda, dan lingkaran itu sendiri melambangkan kebulatan, kesinambungan, dan kebersamaan keluarga, seperti yang dijelaskan Tsao. Jon Kung menambahkan bahwa setiap jenis permen dalam nampan ini juga memiliki makna spesifik: “Akar teratai yang dikandikan melambangkan keterkaitan keluarga, biji labu merah melambangkan pengumpulan kekayaan, [dan] jeruk melambangkan kemakmuran.” Hidangan manis ini menjadi simbol harapan untuk kehidupan keluarga yang harmonis dan rezeki yang berlimpah sepanjang tahun.
Di antara makanan manis yang paling populer adalah nian gao, sebuah kue yang terbuat dari tepung beras ketan dan gula merah. Kue ini memiliki tekstur kenyal dan lengket, dan namanya sendiri, “nian gao” (年糕), adalah homofon untuk “tahun tinggi” atau “semakin tinggi setiap tahun” (年高), melambangkan peningkatan dan kemajuan dalam segala aspek kehidupan, baik itu karier, pendidikan, maupun kekayaan. Seperti dilansir dari Good Housekeeping, menyantap nian gao adalah cara untuk berharap agar setiap tahun membawa kemajuan dan kesuksesan yang lebih besar. Hidangan-hidangan manis ini tidak hanya memanjakan lidah, tetapi juga memperkuat keyakinan akan masa depan yang cerah dan penuh berkah.
Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini

















