Menjelang datangnya bulan suci Ramadan dan perayaan Idulfitri, panggung mode Indonesia kembali bergemuruh dengan hadirnya sebuah gelaran prestisius yang mendefinisikan ulang tren busana muslim: Ramadan Pret-a-Porter. Acara eksklusif ini, yang berlangsung pada tanggal 14 hingga 15 Februari 2026, mengubah Menara Syariah di Pantai Indah Kapuk 2 (PIK2) menjadi pusat eksplorasi gaya, di mana para desainer terkemuka dan label modest fashion nasional berkolaborasi untuk menyajikan koleksi Lebaran yang tidak hanya modis, tetapi juga sarat akan karakter dan kualitas. Digelar sebagai sebuah ruang kurasi premium, Ramadan Pret-a-Porter tidak sekadar memamerkan busana, melainkan menciptakan pengalaman belanja personal yang mendalam, menegaskan pergeseran industri modest fashion menuju kematangan, eksklusivitas, dan sentuhan personal yang tak tertandingi.
Menara Syariah, yang dikenal sebagai salah satu ikon kawasan Islamic Financial Center (IFC) di PIK2, menjadi latar belakang yang sempurna untuk perhelatan mode ini. Arsitekturnya yang modern dan megah secara simbolis mencerminkan aspirasi industri modest fashion yang terus berkembang dan menembus batas. Dalam dua hari penyelenggaraannya, spektrum gaya yang dihadirkan benar-benar mencerminkan kematangan industri modest fashion nasional. Lebih dari sekadar ajang pameran, Ramadan Pret-a-Porter adalah sebuah pernyataan bahwa busana muslim di Indonesia telah mencapai level baru, di mana detail, diferensiasi, dan kualitas menjadi prioritas utama. Atmosfer yang terasa adalah intim, eksklusif, dan terarah, jauh dari hiruk-pikuk bazaar konvensional, menawarkan pengalaman yang lebih mendalam bagi para pencinta mode.
Evolusi Tren Modest Fashion: Dari Pastel ke Personal
Benang merah yang sangat kentara dalam gelaran Ramadan Pret-a-Porter tahun ini adalah dominasi warna pastel yang lebih tenang, siluet yang bersih, dan detail personal yang kaya. Tren ini menandakan sebuah evolusi signifikan dalam modest fashion, menjauh dari gaya yang terlalu mencolok atau seragam, menuju ekspresi diri yang lebih halus dan autentik. Warna-warna pastel, seperti dusty pink, soft mint, lavender, dan champagne, memberikan kesan elegan, menenangkan, dan abadi, sangat cocok untuk momen sakral seperti Lebaran. Palet warna ini juga menawarkan fleksibilitas tinggi, memungkinkan busana untuk dikenakan dalam berbagai kesempatan di luar hari raya, sejalan dengan kesadaran konsumen akan nilai investasi pada pakaian.
Siluet bersih, yang mengedepankan potongan minimalis namun tetap anggun, menjadi pilihan utama. Ini mencerminkan keinginan untuk kesederhanaan yang berkelas, di mana fokus beralih pada kualitas bahan dan jahitan, serta kenyamanan pemakai. Detail personal, seperti bordir tangan yang rumit, aplikasi payet yang tersembunyi, atau aksen lipit yang unik, menjadi pembeda antara satu koleksi dengan yang lain. Detail-detail ini bukan hanya hiasan, melainkan narasi visual yang menceritakan kisah di balik setiap busana, menjadikannya lebih dari sekadar pakaian, tetapi sebuah karya seni yang dapat dikenakan. Pendekatan ini secara langsung menjawab permintaan pasar akan busana yang lebih terkurasi, eksklusif, dan personal, di mana setiap pembeli dapat menemukan potongan yang benar-benar merepresentasikan gaya dan kepribadian mereka.
Karya Desainer Terkemuka dan Kekuatan Narasi Visual
Panggung runway Ramadan Pret-a-Porter menjadi saksi bisu parade visual dari tiga merek lokal terkemuka: Jenna & Kaia, Kami., dan Klamby, yang membuka gelaran hari pertama. Jenna & Kaia menonjolkan struktur modern dalam desain mereka, menciptakan busana yang kontemporer namun tetap mempertahankan esensi modest. Koleksi mereka seringkali menampilkan garis-garis tegas, potongan asimetris, dan penggunaan material inovatif yang memberikan kesan futuristik namun tetap elegan. Pendekatan ini menarik bagi perempuan modern yang menginginkan busana modest dengan sentuhan gaya perkotaan yang chic.
Sementara itu, Kami. dan Klamby mengedepankan motif naratif dalam palet warna dusty dan champagne. Kami. dikenal dengan motif-motif khasnya yang seringkali terinspirasi dari kekayaan budaya Indonesia atau elemen alam, yang kemudian diinterpretasikan ulang menjadi desain kontemporer. Koleksi mereka yang versatile, dengan potongan yang clean, menjadi favorit banyak pengunjung. Nabila Azzahra (27), seorang pengunjung yang datang khusus untuk memburu koleksi hijab terbaru, mengaku sangat menyukai koleksi Kami. “Potongannya clean dan bisa dipakai untuk berbagai suasana. Buat saya, itu penting agar tidak hanya sekali pakai,” ujarnya, menyoroti nilai fungsionalitas dan keberlanjutan. Klamby juga tidak kalah menarik dengan motif-motifnya yang puitis dan penuh cerita, seringkali menggunakan teknik printing digital untuk menciptakan detail yang presisi dan kaya warna, namun tetap dalam nuansa pastel yang lembut.
Baca Juga: Westlife dan Malam Emosional di NICE PIK2, Ketika Harmoni Bertemu Venue Sempurna
Selain ketiga merek tersebut, Ramadan Pret-a-Porter juga menampilkan desainer-desainer lain yang memberikan dimensi berbeda pada tren modest fashion. Ayu Dyah Andari, misalnya, menghadirkan detail bordir yang sangat intricate atau rumit, namun tetap wearable. Koleksinya dikenal dengan sentuhan kemewahan tradisional yang diadaptasi untuk gaya modern, di mana setiap jahitan bordir adalah bukti keahlian tangan yang luar biasa. Desain Ayu Dyah Andari seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang mencari busana Lebaran dengan nuansa kemewahan dan keanggunan klasik. Di sisi lain, Heart Troops menawarkan alternatif siluet yang lebih ekspresif, ditujukan bagi perempuan yang ingin tampil berbeda dan berani di hari raya. Koleksi mereka mungkin menampilkan potongan yang lebih dramatis, penggunaan warna yang lebih berani dalam konteks pastel, atau detail-detail yang menonjolkan individualitas pemakainya, memberikan pilihan bagi mereka yang ingin keluar dari zona nyaman namun tetap dalam koridor modest.
Area bazaar Ramadan Pret-a-Porter secara cermat dirancang untuk memperkuat konsep personal shopping. Ini bukan sekadar tempat untuk membeli, melainkan sebuah ruang interaktif di mana pengunjung dapat berdiskusi langsung mengenai styling dan layering dengan para ahli mode atau bahkan desainer itu sendiri. Konsep ini memungkinkan pembeli untuk mendapatkan saran personal tentang bagaimana memadupadankan busana, memilih aksesori yang tepat, atau bahkan menyesuaikan ukuran, sebelum memutuskan pembelian koleksi Lebaran. Pengalaman semacam ini sangat dihargai oleh konsumen modern yang mencari lebih dari sekadar transaksi, tetapi juga nilai tambah berupa edukasi dan personalisasi. Format intim, eksklusif, dan terarah ini memastikan bahwa setiap pengunjung merasa dihargai dan mendapatkan perhatian penuh, mengubah kegiatan berbelanja menjadi sebuah perjalanan eksplorasi gaya yang menyenangkan dan informatif.
Nabila Azzahra (27), pengunjung yang datang khusus memburu koleksi terbaru hijab, merasakan pengalaman yang transformatif. “Melihat koleksi bergerak di runway membantu saya membayangkan tampilannya saat silaturahmi,” katanya. Pernyataan Nabila menggarisbawahi pentingnya presentasi visual dalam mode, terutama untuk busana modest yang seringkali memerlukan imajinasi lebih untuk memvisualisasikan bagaimana sebuah potongan akan terlihat saat dikenakan. Runway show tidak hanya memamerkan pakaian, tetapi juga memberikan inspirasi styling dan menunjukkan bagaimana busana tersebut berinteraksi dengan gerakan tubuh, sebuah detail yang tidak bisa didapatkan dari melihat produk di rak toko.
Baca Juga: Gibran Dukung Menara Syariah PIK2 Jadi Pusat Ekonomi Islam Dunia
Dengan dukungan penuh dari PT Bank Syariah Nasional sebagai official bank partner, Ramadan Pret-a-Porter tidak hanya menjadi ajang mode, tetapi juga sebuah pernyataan strategis. Keterlibatan institusi keuangan syariah menunjukkan pengakuan terhadap potensi ekonomi dan pertumbuhan industri modest fashion, serta komitmen untuk mendukung ekosistemnya. Kemitraan ini memperlihatkan bahwa modest fashion kini bergerak ke arah yang lebih matang, terkurasi, personal, dan semakin sadar akan kualitas, tidak hanya dari sisi desain tetapi juga dari segi bisnis dan keberlanjutan. Kolaborasi antara Scarf Media dan PIK2 dalam menggelar acara ini, yang bersifat gratis dan terbuka untuk umum, semakin memperkuat posisinya sebagai destinasi wajib bagi para pencinta modest fashion yang mengutamakan detail dan diferensiasi, sekaligus menjadi barometer tren Lebaran di masa mendatang.
Baca Juga: 4.500 Buddhis Akan Berdoa Bersama di NICE PIK2, Dihadiri 3 Pemimpin Sakya Dunia

















