Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, pada Senin (2/3/2026) lalu, hadir dalam sebuah acara silaturahmi dan buka puasa bersama yang diselenggarakan oleh Majelis Kaum Betawi (MKB) di Masjid Jami Tangkuban Perahu, Jakarta Selatan. Momen sakral ini tidak hanya menjadi ajang untuk mempererat tali persaudaraan, tetapi juga menjadi panggung bagi orang nomor satu di ibu kota ini untuk menyampaikan visi besarnya: mengembalikan dan memperkuat jiwa serta roh Betawi sebagai identitas utama Jakarta. Dalam pidatonya yang berapi-api, Pramono Anung secara tegas menyatakan keinginannya agar Betawi tidak hanya menjadi sekadar catatan sejarah atau warisan budaya yang tersimpan di museum, melainkan menjadi denyut nadi yang terasa dalam setiap aspek kehidupan kota metropolitan ini. Ia meyakini, dengan mengusung identitas Betawi sebagai roh utama, partisipasi aktif masyarakat Betawi akan semakin terasa dampaknya bagi kemajuan Jakarta secara keseluruhan.
Pramono Anung, meskipun secara geografis lahir di Kediri, Jawa Timur, mengungkapkan adanya kedekatan emosional dan spiritual yang mendalam dengan budaya Betawi. Ia bahkan secara satir menyatakan merasa lebih ‘Betawi’ dibandingkan sebagian masyarakat Betawi itu sendiri, sebuah ungkapan yang mencerminkan betapa ia telah meresapi dan mengagumi kekayaan budaya lokal ini. Pernyataan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah komitmen untuk mewujudkan visi tersebut dalam praktik nyata. Ia menekankan bahwa penguatan identitas Betawi tidak boleh berhenti pada tataran simbolis atau dokumentasi tertulis semata. Sebaliknya, ia menuntut agar nilai-nilai dan praktik kebudayaan Betawi terintegrasi secara substantif dalam setiap kebijakan pemerintahan dan kegiatan resmi yang diselenggarakan di Jakarta. Bagi Pramono, kebetawian haruslah menjadi sebuah realitas yang dapat dirasakan dan diamati langsung oleh masyarakat di lapangan, bukan hanya sekadar konsep di atas kertas.
Integrasi Budaya Betawi dalam Keseharian Pemerintahan
Salah satu langkah konkret yang telah diambil oleh Gubernur Pramono Anung untuk mengimplementasikan visinya adalah dengan mengadopsi pakaian adat Betawi dalam berbagai acara resmi di Balai Kota. Inisiatif ini menjadi simbol penghormatan yang tinggi terhadap budaya lokal dan menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melestarikan warisan nenek moyang. Ia menjelaskan bahwa kini, ketika menghadiri acara-acara kebudayaan, kegiatan-kegiatan resmi, bahkan hingga acara pelantikan, seluruh jajaran di Balai Kota diwajibkan mengenakan busana khas Betawi. Tradisi penggunaan jas dan pakaian formal lainnya mulai ditinggalkan, digantikan oleh keanggunan kebaya encim, kebaya Betawi, dan berbagai pilihan busana adat lainnya. Perubahan ini bukan sekadar tren mode, melainkan sebuah pernyataan kebijakan yang kuat untuk menempatkan budaya Betawi pada posisi terhormat dan sentral dalam citra pemerintahan ibu kota.
Lebih jauh lagi, Pramono Anung memanfaatkan forum silaturahmi dengan Majelis Kaum Betawi ini untuk menyampaikan harapannya agar para tokoh Betawi dapat senantiasa bersatu padu dan memegang teguh peran krusial mereka dalam menjaga kelestarian budaya Jakarta. Ia secara khusus menyoroti figur mantan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo atau yang akrab disapa Bang Foke, sebagai contoh teladan dalam kemampuannya mempersatukan berbagai elemen masyarakat Betawi. Pramono Anung berpandangan bahwa era perpecahan di kalangan tokoh Betawi seharusnya telah berakhir. Ia meyakini bahwa tidak ada tokoh lain yang memiliki kapasitas sekuat Bang Foke dalam merajut kembali keutuhan dan solidaritas di antara komunitas Betawi. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya persatuan dan kolaborasi antar tokoh untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam melestarikan dan memajukan budaya Betawi.
Mempamerkan Budaya Betawi ke Kancah Internasional
Dalam kesempatan yang sama, Gubernur Pramono Anung juga mengungkapkan ambisi besarnya untuk memperkenalkan kekayaan budaya Betawi ke panggung dunia. Ia bertekad agar tradisi dan keunikan Betawi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat lokal, tetapi juga dapat diapresiasi oleh komunitas internasional. Visi ini diwujudkan melalui rencana penyelenggaraan berbagai acara kebudayaan yang dirancang khusus untuk memamerkan pesona Betawi kepada khalayak global. Salah satu contoh nyata dari upaya ini adalah rencana penyelenggaraan acara bertajuk “Betawi Night” yang dijadwalkan akan digelar saat kunjungan kenegaraan Presiden Kazakhstan, Kassym-Jomart Tokayev, ke Jakarta pada bulan Juni mendatang. Acara ini diharapkan menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kekayaan seni, musik, kuliner, dan tradisi Betawi kepada tamu negara, sekaligus meningkatkan citra Jakarta sebagai kota yang kaya akan warisan budaya.
Pramono Anung menegaskan kembali komitmennya untuk menjadikan Jakarta sebagai kota yang tidak hanya modern dan dinamis, tetapi juga memiliki akar budaya yang kuat. Dengan menempatkan identitas Betawi sebagai roh utama, ia berharap Jakarta dapat menawarkan pengalaman yang unik dan otentik bagi warganya maupun para wisatawan. Ia percaya bahwa dengan merangkul dan mempromosikan budaya Betawi secara masif, Jakarta akan memiliki daya tarik tersendiri di mata dunia. Upaya ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk membangun Jakarta sebagai kota global yang tidak melupakan identitas lokalnya, sebuah perpaduan harmonis antara kemajuan zaman dan kelestarian warisan budaya. Melalui berbagai inisiatif yang digagasnya, Pramono Anung berupaya menanamkan kebanggaan akan budaya Betawi dalam diri setiap warga Jakarta, serta membukakan pintu bagi apresiasi global terhadap khazanah budaya yang tak ternilai harganya ini.

















