Menjelang tibanya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah yang jatuh pada pertengahan Februari 2026, ribuan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta bersiap memadati kawasan pesisir selatan untuk melaksanakan tradisi Padusan sebagai simbol penyucian diri lahir dan batin. Ritual tahunan yang akan mencapai puncaknya pada Selasa, 17 Februari 2026, ini tidak hanya menjadi momentum spiritual yang sakral bagi umat Muslim di tanah Jawa, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi otoritas keamanan dan pariwisata setempat. Mengingat signifikansi budayanya, pemerintah daerah telah memusatkan rangkaian acara adat di Pantai Sundak, Kapanewon Tepus, Gunungkidul, dengan pengawasan ketat dari personel SAR lintas wilayah guna mengantisipasi lonjakan pengunjung yang diprediksi akan membeludak akibat berbarengan dengan libur panjang perayaan Imlek.
Tradisi Padusan, yang secara etimologis berasal dari kata “adus” atau mandi, merupakan warisan leluhur yang dilakukan untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual sebelum memasuki bulan puasa. Di Pantai Sundak, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul telah menyusun agenda yang sangat kental dengan nuansa spiritualitas Jawa. Prosesi ini tidak sekadar aktivitas mandi massal, melainkan sebuah rangkaian upacara yang dimulai dengan kenduri bersama sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Setelah itu, akan dilakukan prosesi siraman yang diikuti oleh para peserta, dan diakhiri dengan pelarungan ubarampe atau sesaji ke tengah samudera. Larungan ini dimaknai sebagai simbol membuang segala hal negatif dan kotoran batin agar umat dapat menjalankan ibadah puasa dengan hati yang bersih dan tenang.
Pusat Ritual dan Inovasi Fasilitas di Pantai Sundak
Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Gunungkidul, Hary Sukmono, menegaskan bahwa persiapan tahun ini dilakukan dengan lebih komprehensif dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Salah satu inovasi yang menonjol adalah penyediaan infrastruktur khusus berupa instalasi pancuran air sepanjang 20 meter yang ditempatkan tepat di depan amphitheater Pantai Sundak. Instalasi yang terbuat dari rangkaian paralon ini dirancang khusus untuk memudahkan para wisatawan melakukan prosesi mandi besar tanpa harus berdesakan, sekaligus berfungsi sebagai sarana bilas setelah mereka beraktivitas di air laut yang asin. Langkah ini diambil untuk memastikan kenyamanan pengunjung tetap terjaga meskipun jumlah massa diperkirakan akan mencapai ribuan orang dalam satu lokasi.
Kehadiran para pejabat daerah serta abdi dalem dari Keraton Yogyakarta dalam prosesi di Pantai Sundak menambah nilai sakralitas acara tersebut. Upacara adat direncanakan akan dimulai pada pukul 14.00 WIB, sebuah waktu yang dianggap ideal bagi masyarakat untuk berkumpul sebelum matahari terbenam. Hary Sukmono menjelaskan bahwa keterlibatan abdi dalem merupakan bentuk sinergi antara pemerintah kabupaten dengan institusi budaya tertinggi di Yogyakarta, guna memastikan bahwa pakem-pakem tradisi tetap terjaga di tengah modernisasi industri pariwisata. Selain itu, pemilihan Pantai Sundak sebagai pusat kegiatan juga bertujuan untuk memecah konsentrasi massa yang biasanya hanya tertuju pada pantai-pantai populer seperti Baron atau Parangtritis.
Namun, tantangan logistik pada Padusan tahun 2026 ini dipastikan akan lebih kompleks. Hal ini disebabkan oleh fenomena “double peak season”, di mana momen menjelang Ramadan bertepatan dengan libur panjang Tahun Baru Imlek. Kombinasi antara wisatawan religi yang ingin melakukan Padusan dan wisatawan umum yang memanfaatkan libur panjang menciptakan potensi kepadatan lalu lintas dan kerumunan di titik-titik wisata. Otoritas pariwisata telah memperingatkan bahwa akses menuju pantai-pantai di Gunungkidul kemungkinan besar akan mengalami kemacetan parah, sehingga masyarakat diimbau untuk datang lebih awal atau mencari alternatif lokasi lain yang lebih tenang.
Kesiagaan Total Personel SAR dan Antisipasi Cuaca Ekstrem
Menyikapi potensi risiko keselamatan yang meningkat, Satlinmas Rescue Istimewa (SRI) telah menyiagakan kekuatan penuh di sepanjang garis pantai selatan Yogyakarta. Di wilayah Gunungkidul sendiri, Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Pantai Baron, Marjono, menyatakan telah mengerahkan sedikitnya 63 personel yang akan disebar secara strategis. Berbeda dengan pola pengamanan biasa, para petugas kali ini diinstruksikan untuk tidak hanya berdiam diri di pos pantau, tetapi juga berbaur langsung di tengah kerumunan wisatawan di bibir pantai. Metode pengamanan “mobile” ini dianggap lebih efektif untuk memberikan peringatan dini secara langsung jika ada pengunjung yang terlalu berani berenang ke area palung atau daerah berbahaya lainnya.
Kesiagaan serupa juga terlihat di Kabupaten Bantul, di mana Tim SAR Pantai Parangtritis menyiagakan sekitar 100 personel tambahan. Parangtritis tetap menjadi magnet utama bagi warga dari wilayah Kota Yogyakarta dan sekitarnya untuk melakukan Padusan. Dengan jumlah personel yang mencapai satu abad tersebut, pengawasan akan difokuskan pada area-area yang memiliki arus balik mematikan (rip current). Tidak hanya di pantai, tim SAR juga memperluas jangkauan pengawasan hingga ke lokasi-lokasi lain yang sering dijadikan tempat Padusan, seperti kawasan Pantai Sadeng, Pantai Samas, Pantai Glagah di Kulon Progo, hingga area perairan darat seperti Waduk Sermo dan kawasan Kaliurang di lereng Merapi.
Peringatan Risiko Bencana dan Himbauan Keamanan
Faktor cuaca menjadi variabel paling krusial yang diwaspadai oleh pemerintah provinsi. Memasuki bulan Februari, wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta secara historis sering dilanda cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan intensitas tinggi dan angin kencang. Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DIY, Bagas Senoaji, mengeluarkan peringatan keras bagi warga yang berencana melakukan Padusan di area sungai. Risiko banjir bandang kiriman dari hulu sangat tinggi jika terjadi hujan deras di area pegunungan, yang bisa berakibat fatal bagi warga yang sedang beraktivitas di aliran sungai di bagian bawah. Bagas menekankan bahwa esensi dari Padusan adalah niat penyucian diri, yang sebenarnya bisa dilakukan di mana saja, termasuk di rumah masing-masing jika kondisi alam tidak memungkinkan.
Meskipun prakiraan gelombang laut saat ini masih dalam kategori landai, perubahan cuaca yang mendadak di Samudera Hindia tetap menjadi ancaman nyata. Masyarakat diminta untuk selalu memantau informasi terbaru dari BMKG dan mematuhi setiap instruksi dari petugas di lapangan. Pemerintah DIY berharap tradisi Padusan tahun 1447 H ini dapat berjalan dengan khidmat tanpa adanya insiden kecelakaan air yang merenggut nyawa. Sinergi antara kesadaran masyarakat akan keselamatan dan kesiapsiagaan ratusan personel keamanan menjadi kunci utama dalam menyukseskan tradisi tahunan ini di tengah tantangan cuaca ekstrem dan lonjakan wisatawan yang luar biasa.
Secara keseluruhan, persiapan menyambut Ramadan 1447 H di Yogyakarta mencerminkan keseimbangan antara pelestarian budaya dan manajemen risiko modern. Dengan fasilitas yang lebih baik di Pantai Sundak serta pengamanan berlapis di seluruh pesisir selatan, diharapkan masyarakat dapat menjalankan ritual penyucian diri dengan aman. Tradisi ini tetap menjadi pengingat penting bagi warga Yogyakarta akan pentingnya kebersihan jiwa sebelum menghadap Sang Khalik di bulan yang penuh berkah, sembari tetap waspada terhadap dinamika alam yang tidak menentu.















