Keberhasilan Desa Wisata Kampung Prai Ijing di Sumba Barat dalam menyabet penghargaan bergengsi ASEAN Sustainable Tourism Award 2026 di Cebu, Filipina, menandai babak baru bagi wajah pariwisata Indonesia di kancah internasional melalui perpaduan harmonis antara pelestarian budaya megalitikum dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal yang inklusif. Prestasi gemilang ini dicapai berkat kepemimpinan visioner Kepala Desa Tebara, Marthen Ragowino Bira, yang sukses mentransformasi potensi tradisional menjadi sektor industri kreatif mandiri, di mana kolaborasi strategis bersama program Bakti BCA menjadi katalisator utama dalam meningkatkan kesejahteraan warga hingga mampu mendongkrak pendapatan desa secara signifikan pada awal tahun 2026. Pencapaian ini membuktikan bahwa kearifan lokal yang dikelola dengan manajemen profesional mampu menjadi mesin pertumbuhan ekonomi yang tangguh sekaligus menjaga identitas adat di tengah arus modernisasi global.
Ekspresi kebahagiaan dan rasa syukur terpancar jelas dari wajah Marthen Ragowino Bira saat menghadiri perhelatan akbar BCA Expoversary 2026 yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang, Banten. Kehadiran sosok pemimpin desa dari jantung Sumba Barat ini bukan sekadar sebagai tamu undangan, melainkan sebagai duta inspirasi bagi seluruh anak negeri yang ingin memajukan daerahnya masing-masing. Dalam acara tahunan yang berlangsung pada 5-8 Februari 2026 tersebut, Marthen membagikan kisah sukses mengenai bagaimana sebuah desa yang dulunya terpencil kini mampu berdiri tegak di panggung regional ASEAN. Ia menekankan bahwa keberhasilan Desa Wisata Kampung Prai Ijing/Tebara adalah bukti nyata bahwa kekayaan budaya yang diwariskan secara turun-temurun, jika dikelola dengan sentuhan inovasi dan pendampingan yang tepat, dapat menjadi instrumen kuat untuk mengangkat derajat ekonomi warga desa tanpa harus mengorbankan nilai-nilai luhur nenek moyang.
Prestasi internasional yang diraih di Cebu, Filipina, merupakan pengakuan atas dedikasi Desa Tebara dalam mengimplementasikan konsep pariwisata berkelanjutan yang mengintegrasikan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi secara seimbang. Sebagai wakil tunggal Indonesia yang menonjol di ajang ASEAN Sustainable Tourism Award 2026, Desa Wisata Kampung Prai Ijing dinilai berhasil menciptakan ekosistem di mana wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati pemandangan alam dan arsitektur rumah adat “Uma Kelada” yang ikonik, tetapi juga terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi masyarakat. Marthen mengungkapkan rasa bangganya karena penghargaan ini memvalidasi kerja keras seluruh elemen desa dalam merawat tradisi sembari membuka diri terhadap standar pelayanan pariwisata kelas dunia. Model pembangunan yang diterapkan di desa ini mengedepankan kemandirian, di mana setiap jengkal potensi alam dan setiap helai kain tenun yang dihasilkan oleh tangan-tangan pengrajin lokal memiliki nilai ekonomi yang terukur dan berkelanjutan.
Transformasi Ekonomi: Dari Desa Tradisional Menuju Destinasi Mandiri Berpenghasilan Miliaran
Lonjakan ekonomi yang dialami oleh Desa Wisata Kampung Prai Ijing bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari strategi pengembangan yang terstruktur dan terukur. Pada sepanjang tahun 2025, desa ini mencatatkan pencapaian finansial yang sangat impresif dengan membukukan pendapatan mencapai Rp 1,4 miliar hanya dari sektor pariwisata. Angka ini didorong oleh kenaikan jumlah kunjungan wisatawan yang melonjak drastis hingga 67 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini dipicu oleh diversifikasi produk wisata yang ditawarkan, mulai dari penyediaan homestay Prai Ijing yang menyuguhkan pengalaman menginap di tengah perkampungan adat, hingga pengembangan pusat kerajinan tenun Sumba yang kini menjadi buruan kolektor dan turis mancanegara. Selain itu, penataan sejumlah spot foto yang mengeksplorasi pesona alam perbukitan Sumba Barat turut memperkuat daya tarik desa ini di media sosial, yang secara tidak langsung memperluas jangkauan promosi ke tingkat global.
Perubahan status desa dari desa berkembang menjadi Desa Maju merupakan manifestasi dari transformasi sosial yang terjadi di dalamnya. Marthen Ragowino Bira menegaskan bahwa pencapaian ini tidak didapatkan secara instan melalui bantuan cuma-cuma, melainkan melalui proses panjang “gotong royong” yang melibatkan seluruh lapisan masyarakat, terutama para pemuda lokal yang kini berperan aktif sebagai penggerak industri kreatif desa. Transformasi ini mencakup perbaikan kelembagaan desa yang lebih profesional, perancangan paket wisata edukatif yang mendalam, serta pemanfaatan teknologi informasi untuk manajemen pemesanan dan pemasaran. Keterlibatan aktif generasi muda dalam mengelola aset wisata desa memastikan bahwa pembangunan yang terjadi bersifat regeneratif, di mana ilmu manajemen pariwisata modern diserap dan diterapkan tanpa menghilangkan esensi budaya lokal yang menjadi jiwa dari Desa Prai Ijing.
Sinergi Bakti BCA: Pilar Utama Pemberdayaan Masyarakat dan Keberlanjutan Pariwisata
Di balik kesuksesan Desa Wisata Kampung Prai Ijing, terdapat peran krusial dari program Bakti BCA yang memberikan pendampingan komprehensif sejak tahap awal pengembangan. Sebagai salah satu dari 28 desa binaan dalam jaringan Desa Bakti BCA, Prai Ijing menerima dukungan yang melampaui sekadar bantuan finansial. Program pemberdayaan ini mencakup berbagai aspek vital, antara lain:
- Peningkatan Kapasitas SDM: Pelatihan bagi warga lokal dalam hal pelayanan prima (hospitality), manajemen homestay, dan kemampuan komunikasi bahasa asing untuk menyambut turis internasional.
- Penguatan Atraksi Wisata: Pendampingan dalam mengemas potensi budaya dan alam menjadi atraksi yang memiliki nilai jual tinggi namun tetap menghormati aturan adat setempat.
- Pembekalan Literasi Keuangan: Edukasi mengenai pengelolaan keuangan bagi para pelaku UMKM dan pengelola desa agar pendapatan yang diterima dapat dialokasikan untuk pembangunan berkelanjutan.
- Perluasan Akses Pasar: Membuka jaringan pemasaran bagi produk kerajinan tenun dan paket wisata desa melalui platform digital dan pameran berskala nasional seperti BCA Expoversary.
- Pemberdayaan UMKM Lokal: Mendorong munculnya unit-unit usaha baru yang dikelola oleh warga, mulai dari kuliner khas Sumba hingga jasa pemandu wisata profesional.
EVP Corporate Communications & Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, dalam pernyataan resminya menekankan pentingnya inklusivitas dalam setiap program pemberdayaan yang dijalankan oleh perusahaan. Menurutnya, pariwisata lokal memiliki potensi yang luar biasa untuk tumbuh menjadi destinasi unggulan jika masyarakat setempat ditempatkan sebagai subjek utama pembangunan, bukan sekadar penonton. Melalui pembinaan yang konsisten, Bakti BCA berkomitmen untuk memperkuat kapasitas masyarakat desa agar mereka mampu menciptakan ekosistem wisata yang tidak hanya memikat secara visual, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan ekonomi dan pelestarian budaya. Pendekatan inklusif ini memastikan bahwa setiap kemajuan yang diraih oleh Desa Prai Ijing dirasakan manfaatnya oleh seluruh warga, menciptakan rasa kepemilikan yang kuat terhadap masa depan desa mereka sendiri.
Sebagai penutup, Marthen Ragowino Bira menyampaikan harapannya agar prestasi yang diraih Desa Tebara dapat menjadi pemantik semangat bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Ia berpegang pada prinsip bahwa kesuksesan sebuah wilayah tidak boleh dirasakan secara eksklusif; “Desa Tebara tidak boleh maju sendiri,” tegasnya. Keberhasilan ini diharapkan menjadi model percontohan bagi kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan sektor swasta dalam membangun ekonomi berbasis kerakyatan. Dengan terus memperbaiki kekurangan, meningkatkan kreativitas, dan menjaga konsistensi dalam berinovasi, Desa Wisata Kampung Prai Ijing optimis dapat terus mempertahankan posisinya sebagai destinasi kelas dunia yang membanggakan Indonesia, sekaligus membuktikan bahwa kearifan lokal adalah modal paling berharga dalam menghadapi persaingan ekonomi di masa depan.

















