Di jantung Kota Sumenep, Madura, berdiri megah sebuah masjid bersejarah yang arsitekturnya menyimpan kisah akulturasi budaya mendalam, sebuah mahakarya yang dirancang ratusan tahun lalu oleh seorang arsitek keturunan Tionghoa. Bangunan monumental ini tidak hanya menjadi pusat keagamaan, tetapi juga simbol harmonisasi dan toleransi yang terjalin erat antara masyarakat etnis Tionghoa dan warga Madura, sebuah warisan yang terus hidup hingga kini.
Perjalanan menelusuri jejak sejarah dan budaya di Sumenep, Jawa Timur, membawa kita pada sebuah penemuan yang memukau: Masjid Jamik, sebuah ikon arsitektur yang sarat makna. Keberadaannya bukan sekadar bukti fisik bangunan keagamaan, melainkan cerminan dari interaksi sosial dan budaya yang telah terjalin selama berabad-abad. Di balik kemegahan dan keindahan arsitekturnya, tersimpan narasi tentang bagaimana dua entitas budaya yang berbeda mampu bersatu, berdialog, dan menciptakan sebuah warisan yang tak ternilai harganya. Masjid ini menjadi saksi bisu dari sebuah era di mana perbedaan tidak menjadi penghalang, melainkan justru menjadi sumber kekayaan dan kekuatan.
Kisah ini semakin diperkaya dengan kehadiran Fandi, seorang pria berusia 41 tahun yang tinggal di Desa Dungkek, Sumenep. Dengan perawakan yang sedikit berbeda dari kebanyakan warga Madura pada umumnya, Fandi adalah representasi dari komunitas Tionghoa peranakan yang telah lama berintegrasi dengan masyarakat lokal. Meski memiliki darah keturunan Tionghoa dari ayahnya yang berasal dari Pulau Sapudi dan ibunya asli Dungkek, ia merasa sepenuhnya menjadi bagian dari lingkungan tempat tinggalnya. Fandi, yang kini menjalankan usaha konter sepeda listrik di dekat Pelabuhan Dungkek, menegaskan bahwa baginya, tidak ada perbedaan antara dirinya dengan warga Madura lainnya. Ia hidup dalam harmoni, tanpa merasa perlu menonjolkan identitas etnisnya, sebuah sikap yang mencerminkan kedalaman integrasi dan penerimaan sosial.
Perasaan yang sama juga diungkapkan oleh Herman Susanto, 37 tahun, yang berbisnis jual beli bahan bangunan di kompleks Pasar Dungkek. Herman, yang memiliki marga Teng, juga merasakan ikatan kuat dengan masyarakat Sumenep. Ia dan keluarganya, meskipun memiliki akar Tionghoa, telah lama melebur dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Madura. Bagi Herman, kata kunci yang merekatkan hubungan antarwarga adalah saling menghargai, tanpa memandang latar belakang agama maupun etnis. Pengalaman hidup mereka, Fandi dan Herman, menjadi bukti nyata bahwa akulturasi budaya bukan hanya sekadar teori, tetapi telah terwujud dalam kehidupan nyata masyarakat Sumenep.
Namun, seiring berjalannya waktu, dinamika tradisi mulai mengalami pergeseran. Fandi mengakui bahwa perayaan hari besar Tionghoa seperti Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh perlahan mulai memudar di kalangan generasi mudanya. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk banyaknya generasi tua yang telah tiada dan generasi muda yang kurang memahami atau tidak dapat melanjutkan tradisi leluhur. Upaya untuk merawat tradisi tersebut memang masih ada, namun tantangan untuk mempertahankannya semakin besar. Bahkan, Fandi yang merupakan bagian dari Komunitas Tionghoa Muslim di Desa Dungkek, kini lebih antusias menyambut bulan Ramadan dibandingkan Imlek, menunjukkan pergeseran prioritas dan identitas budaya yang signifikan.
“Kalau saya pribadi lebih condong nyambut ke bulan Ramadan ya. Soalnya di sini tradisi Imlek sudah enggak terlalu kuat kayak dulu,” ujar Fandi, mengenang masa kecilnya ketika perayaan Imlek masih menjadi bagian penting dari kehidupannya, serupa dengan perayaan Lebaran. Kini, fokusnya lebih terarah pada kegiatan keagamaan Islam, seperti pengajian dan salawatan, di mana ia berbaur dengan masyarakat setempat tanpa merasa terbebani oleh identitas etnisnya. Pengalaman ini mencerminkan bagaimana identitas budaya dapat berevolusi dan beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dominan, tanpa menghilangkan esensi kemanusiaan.
Warisan Toleransi Melalui Arsitektur Masjid Jamik
Jauh sebelum Fandi dan Herman lahir, Sumenep telah menjadi saksi bisu dari harmoni yang mendalam antara masyarakat Madura dan etnis Tionghoa. Salah satu manifestasi paling menonjol dari harmoni ini adalah Masjid Jamik, yang berdiri kokoh sebagai jantung religiusitas masyarakat muslim di Sumenep. Dibangun antara tahun 1779 hingga 1787, masjid megah ini memiliki kisah unik di balik perancangannya. Arsitek yang bertanggung jawab atas desainnya adalah Lauw Piango, seorang keturunan Tionghoa. Keberadaan arsitek Tionghoa dalam pembangunan masjid ini menjadi simbol kuat bahwa akulturasi etnis Tionghoa dan warga Madura telah terjalin dengan sangat baik pada masa itu.
Menurut Profesor Mohammad Ali Humaidi, seorang guru besar sosiologi politik Islam dari Universitas Islam Negeri (UIN) Madura, Masjid Jamik Sumenep merupakan bukti konkret dari penerimaan dan integrasi yang positif. “Sehingga ketika Raja [Sumenep] menerima konsep Masjid Jamik itu menunjukkan bahwa antara Tionghoa dengan etnis muslim di Sumenep itu enggak ada masalah,” jelas Prof Malhum, sebagaimana dikutip dari BBC News Indonesia. Penilaian ini diperkuat oleh pengamat arsitektur, Freddy Istanto, yang melihat arsitektur Masjid Jamik Sumenep sebagai simbol keseimbangan. Ia berpendapat bahwa tidak ada satu unsur pun yang mendominasi, baik dari sisi Tionghoa maupun Madura. “Unsur-unsurnya saling mengisi bagaimana arsitektur lokal menerima arsitektur luar dan arsitektur luar kemudian menyeimbangi kekayaan arsitektur lokal,” ujar Freddy Istanto saat dihubungi via telepon, menyoroti bagaimana arsitektur luar mampu memperkaya dan berdialog dengan kekayaan arsitektur lokal.
Keberadaan arsitektur Tionghoa yang terlihat jelas pada gerbang utama masjid, seperti yang diungkapkan oleh Budayawan D. Zawawi Imron, semakin memperkuat narasi akulturasi ini. Ia menjelaskan bahwa ornamen-ornamen pada gerbang Masjid Jamik sangat kental dengan nuansa Tionghoa, menunjukkan bagaimana sebuah bangunan keagamaan Islam dapat memadukan elemen-elemen arsitektur dari budaya lain tanpa mengurangi esensinya. Hal ini bukan hanya sekadar keindahan visual, tetapi juga merefleksikan keterbukaan dan kerelaan masyarakat Sumenep pada masa itu untuk menerima dan mengintegrasikan unsur-unsur budaya asing. Keindahan fisik masjid menjadi cerminan dari keindahan hubungan sosial yang terjalin.
Sejarah Kedatangan Etnis Tionghoa dan Kepercayaan yang Diberikan
Perjalanan etnis Tionghoa ke Kabupaten Sumenep memiliki akar sejarah yang kuat, berkaitan erat dengan peristiwa Geger Pecinan di pesisir utara Pulau Jawa pada sekitar tahun 1740. Dalam masa-masa sulit tersebut, banyak dari mereka yang mencari perlindungan, dan Pulau Madura, khususnya Sumenep, menjadi salah satu tujuan utama. Pelabuhan Dungkek, yang hingga kini masih dihuni oleh beberapa keturunan etnis Tionghoa, menjadi salah satu pintu masuk penting bagi kedatangan mereka. Dari sana, mereka kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Sumenep, seperti Desa Tamidung, Desa Baban, hingga Kecamatan Pasongsongan.
Budayawan D. Zawawi Imron menekankan bahwa kedatangan etnis Tionghoa ke Sumenep berlangsung secara damai dan penuh permohonan perlindungan. “Mereka datang ke sini baik-baik, tidak mengganggu dan minta perlindungan malah kepada orang Sumenep,” jelas Zawawi Imron. Sikap terbuka dan penerimaan yang luar biasa ditunjukkan oleh Raja Sumenep kala itu, R. Asiruddin, yang lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Sumolo. Keterbukaan raja ini tidak hanya terbatas pada penerimaan masyarakat biasa, tetapi juga meluas hingga kepercayaan yang diberikan kepada arsitek keturunan Tionghoa, Lauw Piango, untuk merancang Masjid Jamik Sumenep. Hal ini menunjukkan adanya tingkat kepercayaan dan penghargaan yang tinggi terhadap kemampuan dan integritas etnis Tionghoa.
Strategi dagang juga menjadi salah satu faktor penting dalam penerimaan etnis Tionghoa di Madura. Menurut penelitian Mohammad Ali Humaidi, cara kedatangan mereka yang baik, salah satunya melalui jalur perdagangan, sangat mirip dengan strategi yang digunakan oleh para wali dan penyebar ajaran Islam di Nusantara. “Sama dengan para wali ataupun para penyebar Islam yang menggunakan perdagangan,” jelas Prof Malhum. Dalam perkembangannya, etnis Tionghoa tidak hanya menjadi pedagang, tetapi juga turut berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan ekonomi warga lokal. Hubungan simbiosis mutualisme ini semakin memperkuat ikatan sosial dan ekonomi antara kedua komunitas, menciptakan fondasi yang kokoh bagi integrasi budaya.
Pertanyaan mengenai mengapa orang Tionghoa dipercaya untuk membangun masjid, sebuah bangunan yang sangat sakral dalam Islam, terjawab melalui beberapa faktor krusial. Budayawan D. Zawawi Imron meyakini bahwa kepercayaan yang diberikan kepada Lauw Piango bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari dialog dan pembuktian. Sebelum dipercaya membangun Masjid Jamik, Lauw Piango telah membuktikan kemampuannya dengan merancang dan membangun Keraton Sumenep yang megah dan masih berdiri kokoh hingga kini. “Raja Sumenep itu menjadi percayalah bahwa ini bukan arsitek yang yang murahan, dari bahan-bahan yang diperlukan itu dan ternyata setelah membangun jadinya bagus dan bertahan sampai sekarang,” ungkap Zawawi Imron. Keberhasilan pembangunan keraton tersebut menjadi testimoni kredibilitas Lauw Piango sebagai seorang arsitek yang andal dan terpercaya.
Lebih jauh lagi, Prof Malhum mengemukakan hipotesis menarik mengenai kesamaan nilai substansial antara ajaran Tionghoa dan Islam. Ia berpendapat bahwa kepercayaan yang diberikan Raja Sumenep kepada Lauw Piango untuk membangun Masjid Jamik didasari oleh adanya pertalian nilai-nilai fundamental yang sama antara kedua ajaran tersebut. “Secara substansial antara ajaran etnis Tionghoa dengan ajaran Islam itu enggak ada pertentangan. Hipotesanya, seandainya itu ada pertentangan maka akan muncul konflik,” tegasnya. Pandangan ini menyiratkan bahwa kesamaan nilai-nilai moral, etika, dan spiritualitas menjadi jembatan yang memungkinkan terjalinnya kepercayaan dan kolaborasi lintas budaya, bahkan dalam pembangunan sebuah institusi keagamaan yang sangat penting.
Komunitas Tionghoa Muslim dan Pelestarian Identitas
Fenomena akulturasi budaya antara etnis Tionghoa dan budaya lokal Madura di Sumenep tidak berhenti pada arsitektur masjid. Hal ini juga termanifestasi dalam munculnya komunitas Tionghoa Muslim yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Dungkek, Batang-Batang, dan Pasongsongan. Fandi dan Herman Susanto adalah contoh generasi Tionghoa Muslim di Dungkek yang telah memeluk agama Islam sejak lahir. Mereka hidup berdampingan dengan warga Madura lainnya, aktif dalam kegiatan keagamaan seperti pengajian dan acara salawatan, serta berbaur tanpa merasa dicurigai atau berbeda karena status keturunan Tionghoanya. Keikutsertaan Fandi dalam acara salawatan, misalnya, bersifat fleksibel, tergantung pada ketersediaan waktu luangnya, menunjukkan integrasi yang natural dalam kehidupan sosial keagamaan.
Bagi Herman Susanto, menjadi Tionghoa Muslim justru memberikan keuntungan tersendiri. Ia merasa bahwa identitas ini memberikannya kemudahan dan kepercayaan yang lebih besar dari masyarakat sekitar. Fenomena munculnya komunitas Tionghoa Muslim di Sumenep, menurut Prof Malhum, terjadi secara alami, terutama melalui perkawinan silang antara etnis Tionghoa dengan warga lokal yang beragama Islam. Penelitiannya juga menunjukkan bahwa tidak ada jejak diskriminasi atau paksaan yang mendorong keturunan Tionghoa untuk memilih agama Islam. Hal ini menegaskan bahwa konversi dan integrasi yang terjadi bersifat sukarela dan didasari oleh penerimaan serta adaptasi sosial yang positif.
Meskipun telah memeluk agama Islam dan berintegrasi penuh dengan masyarakat Madura, keturunan Tionghoa di Sumenep tidak sepenuhnya meninggalkan tradisi nenek moyang mereka. Mereka tetap berusaha merayakan hari-hari besar Tionghoa, meskipun diakui bahwa tradisi tersebut semakin pudar seiring berjalannya waktu. Herman Susanto, misalnya, bersama keluarganya masih merayakan Imlek atau Cap Go Meh, namun tidak dalam skala besar. Perayaan ini lebih bersifat sebagai bentuk penghormatan kepada saudara-saudara mereka sesama keturunan Tionghoa yang masih beragama non-Muslim. “Biarpun menjalankan tapi artinya sebatas menghargai saja. Saudara-saudara kan banyak juga yang non-muslim itu, saudara sepupu,” jelasnya, menunjukkan upaya menjaga hubungan kekeluargaan lintas keyakinan.
Fandi menambahkan bahwa lunturnya tradisi Imlek dan Cap Go Meh merupakan tantangan yang dihadapi oleh generasi mudanya. “Soalnya generasi-generasi di atas saya sudah banyak yang meninggal. Terus yang muda-muda ini enggak bisa melanjutkan,” keluhnya. Meskipun demikian, upaya untuk merawat tradisi leluhur tetap terus diupayakan, mencerminkan keinginan untuk menjaga akar budaya di tengah arus modernisasi dan integrasi sosial yang terus berjalan. Kisah Fandi dan Herman, serta jejak arsitektur Masjid Jamik Sumenep, menjadi pengingat berharga tentang bagaimana keragaman budaya dapat bersatu, menciptakan harmoni yang indah, dan mewariskan toleransi yang kuat bagi generasi mendatang.

















