Sebuah warisan budaya tak benda yang berharga, tenun Sumba, kini tengah mengalami revitalisasi melalui program pelatihan wastra warna alam yang digagas oleh PT Bank Central Asia Tbk (BCA) bekerja sama dengan Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI). Inisiatif ini tidak hanya bertujuan untuk melestarikan teknik menenun tradisional yang telah mengakar kuat dalam identitas perempuan Sumba sejak usia dini, tetapi juga untuk meningkatkan nilai ekonomi serta membuka peluang pasar yang lebih luas bagi para pengrajin lokal. Diana Kalera Lena, seorang penenun asli Sumba yang menjadi salah satu penerima manfaat program ini, berbagi pandangannya tentang bagaimana tradisi ini bukan sekadar keterampilan, melainkan sebuah jalan hidup yang sarat makna dan kini berpotensi mendatangkan kesejahteraan.
Diana Kalera Lena, seorang perempuan tangguh dari Nusa Tenggara Timur, menggemakan sebuah pepatah yang begitu meresap dalam benaknya: “Perempuan Sumba tidak bisa disebut perempuan Sumba kalau tidak bisa menenun.” Kalimat ini bukan sekadar ungkapan, melainkan sebuah pengakuan mendalam akan peran sentral seni menenun dalam membentuk identitas dan eksistensi perempuan di tanah Sumba. Ia menyampaikan pandangannya ini pada awal Februari 2026, dalam sebuah sesi siniar yang diselenggarakan di mini studio BCA Expoversary 2026. Pengalamannya sendiri adalah cerminan dari tradisi ini. Sejak usianya baru menginjak enam tahun, Diana sudah terbiasa membantu ibunya dalam berbagai tahapan proses menenun. Baru pada usia 17 tahun, ia mulai menguasai sepenuhnya teknik menenun dan menghasilkan karya-karyanya sendiri. Proses panjang dari menyiapkan bahan baku hingga terwujudnya sehelai kain tenun yang indah, baginya, adalah sebuah perjalanan yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan warisan pengetahuan turun-temurun.
Pelestarian Tradisi Melalui Pelatihan Wastra Warna Alam
Keterikatan mendalam antara tradisi menenun dengan kehidupan dan identitas perempuan di Sumba tidak luput dari perhatian PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Menyadari potensi besar yang dimiliki oleh para penenun Sumba, BCA menggandeng Perkumpulan Warna Alam Indonesia (WARLAMI) untuk menyelenggarakan program pelatihan wastra warna alam. Program ini dirancang secara komprehensif untuk memberdayakan kelompok penenun di Sumba, termasuk Diana Kalera Lena yang menjadi salah satu peserta aktif. Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada pengenalan dan pemanfaatan kembali kekayaan alam Sumba sebagai sumber pewarna tradisional. Tujuannya adalah untuk mengembalikan kejayaan tenun Sumba yang menggunakan pewarna alami, sebuah warisan berharga yang sempat tergerus oleh kemudahan pewarna sintetis.
Program pembinaan ini melibatkan partisipasi aktif dari 50 peserta yang berasal dari empat komunitas penenun yang berbeda, yaitu Kambatatana, Wukukalara, Kawangu, dan Prai Kilimbatu. Rentang usia peserta pun cukup beragam, mulai dari 25 hingga 45 tahun, mencerminkan keberlanjutan tradisi lintas generasi. Mayoritas peserta adalah perempuan penenun yang menjadi tulang punggung kegiatan ini. Namun, program ini juga secara cerdas melibatkan peran laki-laki sebagai pendukung ekosistem tenun, khususnya dalam aspek pengembangan motif-motif baru yang sarat makna filosofis dan dalam proses pengolahan bahan baku pewarna alam. Keterlibatan semua pihak ini menunjukkan bahwa pelestarian tenun Sumba adalah upaya kolektif yang melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Diana Kalera Lena memainkan peran yang sangat krusial dalam menjembatani kolaborasi antara komunitas penenun di daerahnya dengan program pelatihan ini. Beliau adalah penenun pertama dari komunitasnya yang berani mengambil langkah untuk bergabung dalam pelatihan wastra warna alam. Berbekal semangat dan pengetahuan yang diperolehnya, Diana kemudian secara aktif mengajak 13 orang lainnya dari desanya untuk turut serta dalam program yang sama. Upayanya ini menunjukkan kepemimpinan yang kuat dan dedikasi untuk memastikan bahwa pengetahuan dan keterampilan menenun, terutama yang berkaitan dengan pewarna alam, dapat terus diwariskan dan berkembang.
Manfaat Nyata dan Harapan Masa Depan
Keikutsertaan Diana dalam pelatihan wastra warna alam membawa segudang manfaat yang signifikan, baik secara personal maupun komunal. Salah satu terobosan terpenting adalah terbukanya akses terhadap pengetahuan mendalam mengenai resep dan proses pemanfaatan pewarna alami. Selama ini, meskipun pewarna alam merupakan bagian tak terpisahkan dari warisan leluhur, resep-resepnya tidak selalu diwariskan secara tertulis atau terstruktur, sehingga banyak penenun yang tidak sepenuhnya menguasai rahasia di baliknya. “Tidak semua penenun tahu rahasia ramuan dari nenek moyang karena resep ramuannya tidak dipublikasikan. Sejak bergabung dengan program Bakti BCA kami diajarkan soal pewarna alam ini,” ungkap Diana. Pengetahuan ini menjadi sangat berharga, memungkinkan para penenun untuk kembali memproduksi kain tenun dengan warna-warna alami yang otentik dan kaya makna.
Sebelum mengikuti pelatihan, banyak penenun Sumba yang sebenarnya telah mampu memproduksi kain tenun, namun sebagian besar masih mengandalkan pewarna sintetis. Ketergantungan ini disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan tentang cara meracik dan mengaplikasikan pewarna alami secara efektif. Melalui program Bakti BCA, pengetahuan ini kini dibagikan secara lebih terstruktur dan sistematis. Para penenun diperkenalkan pada berbagai jenis bahan alami yang dapat dijadikan pewarna, diajarkan tahapan pengolahan yang tepat mulai dari ekstraksi hingga pencampuran, serta bagaimana menerapkannya pada benang dan kain. Dengan demikian, para penenun kini mampu menguasai seluruh proses produksi secara lebih utuh, menghasilkan kain tenun yang tidak hanya indah secara visual, tetapi juga memiliki nilai budaya dan keberlanjutan yang tinggi.
Ilmu dan keterampilan yang diperoleh dari program ini tidak hanya meningkatkan kualitas produk tenun, tetapi juga secara langsung berkontribusi pada peningkatan kesejahteraan para penenun. Karya-karya yang dihasilkan kini memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, membuka peluang pendapatan yang lebih besar. Penggunaan pewarna alami tidak hanya memperkuat identitas budaya wastra Sumba yang khas, tetapi juga mendorong praktik produksi yang lebih ramah lingkungan, sejalan dengan kesadaran global akan pentingnya kelestarian alam. Diana mengungkapkan harapannya agar ke depannya, kain tenun Sumba tidak lagi hanya dipandang sebagai cenderamata atau pelengkap upacara adat seperti pernikahan dan kematian, melainkan memiliki nilai ekonomi yang kuat dan diakui secara global. Ia juga berharap komunitas penenun di Sumba dapat menarik perhatian dunia terhadap warisan budaya leluhur yang masih terjaga hingga kini. “Saya sudah merasakan manfaatnya. Sebagai istri, penghasilan dari menenun bisa membantu suami saya, termasuk dalam membiayai sekolah anak. Warisan budaya ini tentunya harus terus dilanjutkan oleh generasi berikutnya,” tuturnya penuh keyakinan.
Menanggapi dampak positif program ini, EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA, Hera F Haryn, menyatakan komitmen BCA untuk terus memfasilitasi akses produk-produk tenun Sumba agar semakin dikenal luas dan menjangkau pasar yang lebih besar. Beliau menekankan bahwa para penenun Sumba, sebagai penjaga warisan budaya bangsa, layak mendapatkan dukungan penuh. Harapannya adalah agar keahlian mereka tidak hanya terjaga dan berkesinambungan, tetapi juga mampu bersaing di pasar modern yang semakin dinamis. “Inisiatif ini diharapkan memperkuat posisi tenun Sumba sebagai simbol budaya yang lestari sekaligus membuka peluang ekonomi lebih luas bagi para pengrajin lokal,” pungkas Hera, menegaskan visi BCA dalam melestarikan budaya sembari memberdayakan masyarakat.

















