Jakarta, 23 Januari 2026 – AMARTHA Financial Group (Amartha), sebuah entitas terkemuka dalam lanskap keuangan inklusif Indonesia, mengumumkan pencapaian monumental dalam penyaluran modal kerja sepanjang tahun 2025. Perusahaan ini berhasil mengalirkan dana sebesar Rp 13,2 triliun, sebuah angka yang mencerminkan komitmen mendalamnya untuk memberdayakan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di seluruh penjuru negeri. Angka ini bukan sekadar akumulasi finansial, melainkan representasi dari ribuan cerita keberhasilan UMKM yang mendapatkan suntikan modal untuk mengembangkan usaha mereka. Jika ditelisik lebih jauh, total penyaluran pembiayaan yang telah digelontorkan Amartha sejak tahun 2010 hingga akhir tahun 2025 mencapai Rp 37 triliun. Dana tersebut telah menjangkau 3,7 juta UMKM yang tersebar di lebih dari 50 ribu desa, menunjukkan jangkauan dan dampak positif yang luar biasa dari platform keuangan ini.
Performa Finansial yang Mengesankan dan Pengelolaan Risiko yang Cermat
Dalam sebuah sesi media gathering yang diselenggarakan di kawasan Jakarta Selatan pada Jumat, 23 Januari 2026, CEO Amartha, Andi Taufan Garuda Putra, memaparkan secara rinci mengenai kinerja perusahaan. Beliau menyoroti pertumbuhan yang signifikan, mencatat bahwa pertumbuhan Amartha di tahun lalu, jika dibandingkan secara year on year (YoY), mencapai angka double digit yang impresif, berkisar di sekitar 20 persen. Pertumbuhan ini tidak hanya mengindikasikan ekspansi bisnis yang solid, tetapi juga kepercayaan yang terus meningkat dari para pelaku UMKM terhadap layanan Amartha. Lebih lanjut, Taufan menekankan keberhasilan Amartha dalam menjaga kualitas portofolio pembiayaannya. Tingkat Non-Performing Loan (NPL) atau kredit macet berhasil dijaga pada level yang sangat rendah, yaitu di kisaran 4 persen. Angka NPL yang terkendali ini menjadi bukti nyata dari strategi pengelolaan risiko yang efektif dan selektif dalam penyaluran dana, memastikan keberlanjutan dan kesehatan finansial perusahaan serta para penerima manfaat.
Diversifikasi Sektor Penerima Dana dan Komposisi Pemberi Dana
Amartha menunjukkan fleksibilitas dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan beragam sektor UMKM di Indonesia. Pendanaan yang disalurkan tidak terkonsentrasi pada satu jenis usaha saja, melainkan merambah ke berbagai lini bisnis yang menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Berdasarkan data yang dipaparkan, sektor perdagangan menjadi penerima terbesar, menyerap 53 persen dari total penyaluran dana. Hal ini menggarisbawahi peran krusial UMKM di sektor ini dalam rantai pasok dan perputaran ekonomi. Sektor pertanian menyusul di posisi kedua dengan 23 persen, menunjukkan dukungan Amartha terhadap ketahanan pangan dan pemberdayaan petani. Sektor peternakan berkontribusi sebesar 9 persen, sementara sektor jasa menyerap 6 persen dari total pembiayaan. Sisa 7 persen dialokasikan untuk UMKM yang bergerak di industri rumah tangga dan sektor lainnya, menunjukkan upaya inklusivitas Amartha dalam menjangkau berbagai skala dan jenis usaha.
Lebih lanjut, Taufan membeberkan komposisi para pemberi dana atau lender yang mendukung operasional Amartha. Mayoritas besar, yaitu lebih dari 90 persen, berasal dari institusi keuangan formal, terutama perbankan. Keterlibatan perbankan ini tidak hanya memberikan validasi atas model bisnis Amartha yang teruji, tetapi juga membuka akses pendanaan yang lebih besar dan berkelanjutan. Sisanya, yaitu sebagian kecil dari lender, berasal dari individu atau lender perorangan. Menariknya, demografi para lender perorangan ini didominasi oleh kaum profesional muda. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran tren di mana generasi muda yang memiliki kelebihan dana mulai melirik investasi yang memberikan dampak sosial positif (impact investing) selain imbal hasil finansial. “Sekarang kami signifikan mayoritasnya di perbankan dan impact investors dari luar,” ungkap Taufan, menegaskan dominasi institusi besar dan investor berdampak dalam struktur pendanaan Amartha.
Komitmen Digitalisasi dan Pemberdayaan Ekonomi Akar Rumput
Amartha tidak hanya berhenti pada penyaluran modal. Perusahaan ini memiliki visi yang lebih luas, yaitu berkontribusi secara signifikan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi di level akar rumput melalui pemanfaatan teknologi digital. Komitmen ini tercermin dalam berbagai inisiatif yang dijalankan. Selain memfasilitasi akses permodalan yang seringkali sulit dijangkau oleh UMKM konvensional, Amartha juga sangat menekankan pentingnya menjaga disiplin dalam penyaluran kredit. Ini berarti proses seleksi yang cermat, pemantauan yang berkelanjutan, dan pendampingan yang memadai untuk memastikan bahwa dana yang disalurkan benar-benar digunakan secara produktif dan efektif. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa usaha masyarakat penerima manfaat dapat berkembang secara berkelanjutan, bukan sekadar bertahan.
Lebih dari sekadar penyedia dana, Amartha berupaya menjadi mitra strategis bagi para pelaku UMKM. Melalui platform digitalnya, Amartha tidak hanya menyalurkan modal kerja, tetapi juga menyediakan berbagai layanan pendukung yang krusial. Ini mencakup edukasi literasi keuangan, pelatihan keterampilan bisnis, hingga akses pasar. Pendekatan holistik ini dirancang untuk memberdayakan UMKM agar tidak hanya mampu mengelola keuangan mereka dengan baik, tetapi juga mampu meningkatkan daya saing dan skala usaha mereka di tengah dinamika ekonomi yang terus berubah. Dengan fokus pada digitalisasi, Amartha berupaya menjangkau UMKM di daerah-daerah terpencil sekalipun, menghubungkan mereka dengan sumber pendanaan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk bertumbuh, sehingga secara kolektif dapat mengangkat perekonomian di tingkat pedesaan dan menciptakan multiplier effect yang luas bagi perekonomian nasional.
Pilihan Editor: Ketidakpastian Ekonomi Global Memicu Kenaikan Harga Emas


















