PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memproyeksikan pertumbuhan kredit yang ambisius sebesar 8-10 persen pada tahun 2026, sebuah target yang didukung oleh optimisme terhadap berbagai inisiatif pemerintah dan masuknya investasi asing yang signifikan, terutama dari Tiongkok. Proyeksi ini disampaikan oleh Presiden Direktur BCA, Hendra Lembong, dalam sebuah konferensi pers yang menggarisbawahi keyakinan bank terhadap potensi pertumbuhan ekonomi nasional, bahkan di tengah ketidakpastian geopolitik global. BCA juga berharap industri perbankan secara keseluruhan dapat mencapai pertumbuhan dua digit di tahun yang sama.
Hendra Lembong secara eksplisit menyatakan pandangannya bahwa potensi pertumbuhan kredit dua digit sangat mungkin tercapai pada tahun 2026. “Saya melihat potensi di dua digit ada, dengan begitu banyak program pemerintah yang berjalan, semoga kita di perbankan bisa berusaha mencapai double digit tahun 2026 ini,” ungkapnya, menandakan keyakinan kuat terhadap momentum positif yang dapat dimanfaatkan oleh sektor perbankan. Dukungan ini diharapkan datang dari berbagai program pemerintah yang dirancang untuk mendorong aktivitas ekonomi dan investasi.
Meskipun tantangan dari situasi geopolitik global yang masih belum stabil memengaruhi keputusan ekspansi bisnis sebagian perusahaan, BCA melihat adanya sinyal positif dari aliran investasi asing yang terus mengalir ke Indonesia. Hendra Lembong menyoroti secara khusus masuknya investasi dari Tiongkok yang kerap kali bermitra dengan nasabah BCA. “Kita lihat investasi dari luar negeri, terutama dari China masih cukup banyak yang masuk dan biasanya mereka partner dengan nasabah-nasabah kita. Ini semoga juga akan membantu pertumbuhan ekonomi dan juga kredit di perbankan,” jelasnya. Kemitraan antara investor asing dan nasabah BCA ini dipandang sebagai katalisator penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan dan, secara langsung, penyaluran kredit perbankan.
Strategi dan Proyeksi Keuangan BCA untuk 2026
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, mengkonfirmasi bahwa Rencana Bisnis Bank (RBB) BCA untuk tahun 2026 mencakup target pertumbuhan penyaluran kredit yang ambisius sebesar 8-10 persen. “Kita upgrade guidance kita untuk pertumbuhan kredit menjadi 8 persen sampai 10 persen. Kita lebih positif melihat perkembangan tahun ini, mudah-mudahan pertumbuhan kredit ini bisa lebih cepat dibanding tahun lalu, dari kuartal I dan seterusnya,” ujar Vera. Peningkatan target ini mencerminkan pandangan positif BCA terhadap prospek ekonomi dan kesiapan perseroan untuk mendukung ekspansi bisnis nasabahnya.
Lebih lanjut, BCA memproyeksikan penurunan Net Interest Margin (NIM) menjadi kisaran 5,4-5,6 persen pada tahun 2026, turun dari posisi 5,7 persen pada tahun 2025. Penyesuaian ini merupakan konsekuensi dari kebijakan penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) yang cukup agresif pada tahun sebelumnya. “Kita perkirakan dengan penurunan bunga BI dari tahun lalu, dampaknya akan terasa di tahun ini. Sehingga guidance kita untuk NIM di tahun ini di kisaran 5,4 sampai 5,6 persen. Jadi menurun NIM-nya, memang kita ekspektasi dampaknya akan lebih terasa tahun ini,” terang Vera. Meskipun NIM diproyeksikan menurun, strategi BCA berfokus pada peningkatan volume transaksi nasabah dan efisiensi operasional untuk menjaga profitabilitas.
Dalam hal kualitas aset, BCA menargetkan rasio kredit macet atau Non-Performing Loan (NPL) tetap stabil pada kisaran 1,8-2 persen, serupa dengan pencapaian tahun sebelumnya. Komitmen untuk menjaga kualitas kredit ini menjadi prioritas utama, seiring dengan upaya ekspansi penyaluran kredit. Kualitas kredit BCA pada tahun 2025 sendiri menunjukkan performa yang solid, dengan rasio Loan at Risk (LAR) yang membaik menjadi 4,8 persen dari 5,3 persen pada tahun sebelumnya. Rasio NPL tercatat terkendali di level 1,7 persen, didukung oleh pencadangan NPL dan LAR yang memadai, masing-masing sebesar 183,8 persen dan 71,6 persen.
Kinerja Keuangan dan Dukungan Pertumbuhan Ekonomi
Kinerja keuangan BCA sepanjang tahun 2025 menunjukkan hasil yang impresif. Laba bersih perusahaan tercatat sebesar Rp 57,5 triliun, mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,9 persen secara tahunan (year-on-year/YoY). Pertumbuhan laba ini didukung oleh peningkatan total penyaluran kredit sebesar 7,7 persen (YoY) yang mencapai Rp 993 triliun per Desember 2025. Rata-rata pertumbuhan kredit BCA sepanjang tahun 2025 bahkan mencapai 10,8 persen, melampaui target awal.
Penyaluran kredit BCA tersebar di berbagai sektor ekonomi vital, termasuk manufaktur, perdagangan, restoran, hotel, dan sektor rumah tangga. Distribusi kredit yang luas ini mencerminkan komitmen BCA untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan bisnis, tetapi juga berkontribusi aktif dalam mendukung pertumbuhan perekonomian Indonesia secara keseluruhan. Dengan terus menjaga kualitas kredit dan berinovasi dalam produk serta layanan, BCA berupaya menjadi mitra strategis bagi para pelaku usaha dan masyarakat dalam mewujudkan tujuan finansial mereka, sekaligus berkontribusi pada stabilitas dan kemajuan ekonomi nasional.


















