Setelah dua hari berturut-turut mengalami penghentian perdagangan atau trading halt yang dramatis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya menunjukkan sinyal pemulihan yang signifikan pada perdagangan Jumat, 30 Januari. Indeks acuan pasar modal Indonesia ini dibuka menguat sebesar 1,09 persen, mencapai level 8.321,9, menandai respons positif investor setelah periode gejolak ekstrem. Kenaikan ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan dari upaya pasar untuk menstabilkan diri di tengah tekanan jual yang masif, yang sebelumnya sempat membuat IHSG terperosok hingga 8 persen ke level 7.654,66 pada Kamis (29/1), memicu serangkaian trading halt yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam waktu singkat. Pemulihan ini menjadi sorotan utama, menunjukkan resiliensi pasar domestik di tengah sentimen global yang masih cenderung negatif.
Pemulihan yang terjadi pada Jumat pagi tersebut merupakan angin segar setelah pasar modal Indonesia diterpa badai beruntun. Pada Kamis, 29 Januari, IHSG langsung terjun bebas, tersungkur 665,89 poin atau minus 8 persen, mencapai level 7.654,66. Kondisi ini memicu penerapan trading halt oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk kedua kalinya dalam dua hari, setelah sebelumnya juga terjadi penghentian perdagangan. Langkah penghentian sementara perdagangan ini, yang merupakan mekanisme perlindungan investor dari volatilitas ekstrem, diambil ketika indeks turun lebih dari ambang batas tertentu. Tekanan jual yang menguat pada saat itu dipicu oleh berbagai faktor, termasuk pengumuman dari MSCI dan penurunan peringkat saham Indonesia oleh Goldman Sachs, yang secara kolektif memicu sikap risk-off di kalangan investor. Berdasarkan catatan sejarah, penerapan trading halt seperti ini, meskipun jarang, pernah terjadi pada era-era sebelumnya saat pasar menghadapi tekanan luar biasa, menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang dihadapi pada penghujung Januari ini.
Sinyal positif sudah terlihat bahkan sebelum perdagangan resmi dimulai. Pada sesi preopening, IHSG telah menunjukkan kenaikan sebesar 0,93 persen, mencapai level 8.308,7. Kinerja preopening ini seringkali menjadi indikator awal sentimen pasar, dan kenaikan yang solid mengisyaratkan bahwa investor siap untuk kembali mengakumulasi saham setelah penurunan tajam di hari-hari sebelumnya. Ketika perdagangan resmi dibuka, momentum positif ini berlanjut, dengan IHSG berhasil mempertahankan posisinya di zona hijau dan terus bergerak menguat. Analis pasar menilai bahwa kenaikan ini bisa jadi didorong oleh aksi bargain hunting, di mana investor memanfaatkan harga saham yang telah terkoreksi signifikan untuk masuk kembali ke pasar, serta potensi pernyataan resmi dari otoritas pasar modal yang berhasil menenangkan kekhawatiran investor setelah jeda makan siang di hari sebelumnya.
Tidak hanya IHSG, pasar valuta asing juga menunjukkan performa yang mengesankan pada hari yang sama. Nilai tukar rupiah bergerak menguat secara signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengutip data dari Bloomberg, salah satu penyedia data finansial terkemuka di dunia, kurs rupiah terhadap dolar AS pada pukul 8.57 WIB berada di level Rp 16.755. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 33 poin atau setara dengan 0,20 persen. Penguatan rupiah ini menjadi indikator penting lainnya dari pulihnya kepercayaan investor terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Mata uang yang lebih kuat cenderung menarik investasi asing dan mengurangi beban utang luar negeri perusahaan, sehingga memberikan dorongan tambahan bagi pasar saham. Kestabilan dan penguatan nilai tukar rupiah seringkali berkorelasi positif dengan sentimen pasar modal, menciptakan lingkungan yang lebih kondusif untuk investasi.
Kontras di Tengah Gejolak Global: Bursa Asia Mayoritas Melemah
Meskipun pasar saham Indonesia menunjukkan tanda-tanda pemulihan, gambaran di bursa regional Asia secara keseluruhan justru menunjukkan tren yang berbeda. Mayoritas indeks saham utama di Asia kompak bergerak di zona merah, mencerminkan adanya kekhawatiran global yang lebih luas atau faktor-faktor spesifik di masing-masing kawasan. Di Jepang, Indeks Nikkei 225 tercatat turun 0,36 persen, berada di level 53.183. Penurunan ini, meskipun tidak terlalu drastis, menunjukkan adanya kehati-hatian di pasar Jepang yang merupakan salah satu pasar terbesar di Asia. Sementara itu, di Hong Kong, Indeks Hang Seng mengalami penurunan yang lebih signifikan, yakni 1,23 persen, mencapai level 27.623. Penurunan Hang Seng seringkali dikaitkan dengan sentimen terhadap ekonomi Tiongkok dan isu-isu geopolitik yang memengaruhinya.
Kondisi serupa juga terlihat di Tiongkok daratan, di mana Indeks SSE Composite turun 1,09 persen, bertengger di level 4.113. Penurunan ini mengindikasikan adanya tekanan jual di pasar saham Tiongkok, yang mungkin terkait dengan data ekonomi terbaru atau kebijakan domestik. Kontras antara pemulihan IHSG dan pelemahan bursa regional ini menyoroti kompleksitas dinamika pasar global, di mana faktor-faktor domestik dan regional dapat menghasilkan pergerakan yang berbeda. Satu-satunya pengecualian yang mencolok di antara bursa utama Asia adalah Indeks Straits Times di Singapura, yang justru berhasil menguat 0,19 persen ke level 4.920. Kinerja positif Singapura ini bisa jadi disebabkan oleh fundamental ekonomi yang berbeda, eksposur yang lebih rendah terhadap isu-isu yang menekan pasar lain, atau sektor-sektor tertentu yang menunjukkan ketahanan.


















