Dalam upaya strategis untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional, Pertamina Group secara agresif mendorong hilirisasi sektor vital ini. Inisiatif ini diwujudkan melalui PT Polytama Propindo (Polytama), sebuah perusahaan afiliasi yang menjadi tulang punggung dalam transformasi bahan baku menjadi produk bernilai tambah tinggi. Polytama sangat bergantung pada pasokan propylene yang krusial, yang secara konsisten disuplai oleh PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (RU) VI Balongan. Sinergi antara kedua entitas ini tidak hanya memastikan kelancaran produksi polypropylene berkualitas untuk kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga merupakan bukti nyata komitmen Pertamina dalam memaksimalkan nilai dari sumber daya energi nasional dan memperkokoh fondasi ketahanan industri domestik. Lantas, bagaimana kolaborasi ini secara konkret berkontribusi pada pencapaian tujuan hilirisasi petrokimia dan apa saja implikasinya bagi perekonomian nasional?
Sinergi Pertamina Group: Memperkuat Rantai Nilai Petrokimia dari Hulu ke Hilir
Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero), Muhammad Baron, menjelaskan bahwa peran kilang-kilang Pertamina tidak terbatas pada produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) semata. Lebih dari itu, kilang-kilang ini juga menghasilkan berbagai produk antara (intermediary) yang memiliki signifikansi strategis sebagai bahan baku utama bagi industri petrokimia nasional. Baron menekankan bahwa fungsi ini sejalan dengan visi besar Pertamina untuk terus meningkatkan nilai tambah dari sumber daya energi yang dikelola, sekaligus memperkuat daya saing dan ketahanan industri di dalam negeri. Ia menyatakan, “Eksistensi Pertamina melalui Polytama, menjadi bukti peran Pertamina dalam mendorong hilirisasi migas.” Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa keterlibatan Pertamina dalam rantai nilai petrokimia bukan sekadar aktivitas bisnis, melainkan sebuah mandat strategis untuk mengoptimalkan potensi sumber daya alam dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Lebih lanjut, Direktur PT Polytama Propindo, Dwinanto Kurniawan, menegaskan posisinya dalam ekosistem Pertamina Group. Ia menjelaskan bahwa Polytama bukanlah entitas yang beroperasi secara terisolasi, melainkan merupakan bagian integral dari sebuah sistem industri nasional yang terintegrasi secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu hingga hilir. “Polytama tidak berdiri sendiri. Kami merupakan bagian dari sistem industri nasional yang menghubungkan sektor hulu dan hilir, mulai dari kilang hingga ke industri manufaktur. Integrasi ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan industri petrokimia Indonesia,” ungkap Dwinanto. Penegasan ini mengilustrasikan bagaimana Polytama berfungsi sebagai jembatan vital, mengubah produk dasar dari kilang menjadi bahan baku esensial bagi berbagai sektor manufaktur, sehingga menciptakan siklus ekonomi yang saling menguntungkan dan memperkuat kemandirian industri nasional.
Pasokan Propylene dari Balongan: Jantung Produksi Polytama
Kunci utama dari operasional PT Polytama Propindo terletak pada pasokan bahan baku propylene yang stabil dan berkualitas. Sumber utama pasokan ini berasal dari PT Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (RU) VI Balongan. Hubungan antara kedua fasilitas ini diperkuat melalui jaringan pipa sepanjang kurang lebih empat kilometer, yang memastikan aliran propylene yang efisien dan berkelanjutan. Rata-rata pasokan yang diterima Polytama dari Kilang Balongan mencapai angka signifikan, yaitu sekitar 250 ribu ton per tahun. Jumlah ini merupakan fondasi krusial bagi Polytama untuk menjalankan proses produksinya secara optimal. Setelah menerima pasokan propylene, Polytama mengolahnya lebih lanjut menggunakan teknologi canggih Spheripol yang dilisensikan dari LyondellBasell. Teknologi ini memungkinkan Polytama untuk menghasilkan produk polypropylene dengan kualitas yang sangat tinggi, memenuhi standar internasional dan spesifikasi yang dibutuhkan oleh berbagai industri pengguna.
Produk polypropylene yang dihasilkan oleh Polytama memiliki fleksibilitas aplikasi yang sangat luas. Perusahaan ini memasarkan produknya dalam berbagai jenis (grade) yang dirancang khusus untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari beragam sektor industri. Mulai dari industri kemasan yang membutuhkan material kuat dan aman untuk produk pangan, industri peralatan rumah tangga yang menuntut daya tahan dan estetika, hingga sektor industri kesehatan yang memerlukan material higienis dan fungsional, serta industri ritel yang terus berkembang. Polypropylene ini menjadi bahan dasar utama dalam pembuatan berbagai macam produk plastik yang kita gunakan sehari-hari, seperti alat rumah tangga, peralatan makan plastik, hingga komponen-komponen penting lainnya. Selain itu, serat fiber yang dihasilkan dari polypropylene juga berperan vital dalam industri tekstil, khususnya untuk pembuatan benang yang digunakan dalam berbagai aplikasi garmen dan industri.
Saat ini, PT Polytama Propindo memiliki kapasitas produksi maksimal sebesar 300 ribu ton per tahun. Namun, perusahaan ini tidak berpuas diri dengan pencapaian tersebut. Ada rencana ambisius untuk meningkatkan kapasitas produksi secara signifikan hingga mencapai 600 ribu ton per tahun. Peningkatan kapasitas ini akan dicapai melalui pengembangan fasilitas produksi baru yang lebih modern dan efisien. Dukungan pasokan bahan baku dari kilang-kilang Pertamina di seluruh Indonesia menjadi faktor kunci dalam mewujudkan rencana ekspansi ini. Dengan demikian, Polytama tidak hanya berupaya meningkatkan volume produksi, tetapi juga memperluas jangkauan pasokan bahan baku, yang pada akhirnya akan semakin memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional.
Muhammad Baron kembali menegaskan dampak strategis dari pemanfaatan propylene yang bersumber dari kilang Pertamina. Ia menyatakan bahwa inisiatif ini memiliki peran krusial dalam upaya mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku petrokimia. Dengan mengoptimalkan sumber daya domestik, Indonesia dapat meminimalkan aliran devisa keluar dan memperkuat neraca perdagangan. Lebih dari itu, langkah ini secara fundamental memperkuat ketahanan industri petrokimia nasional, menjadikannya lebih tahan terhadap fluktuasi pasar global dan gangguan pasokan internasional. “Ini sekaligus memperkuat nilai tambah sumber daya dalam negeri,” tutur Baron. Pernyataan ini menyimpulkan bahwa sinergi antara Pertamina dan Polytama bukan hanya tentang produksi, melainkan sebuah strategi komprehensif untuk membangun ekosistem industri yang kuat, mandiri, dan berkelanjutan, yang pada akhirnya memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi bangsa Indonesia.

















