- Dunia Jurnalistik (1993-1994): Thomas memulai langkah profesionalnya sebagai wartawan magang di Majalah Tempo pada tahun 1993. Pengalaman ini melatih ketajaman analisisnya terhadap isu-isu sosial dan ekonomi. Setahun kemudian, ia bergabung dengan Indonesia Business Weekly, di mana ia lebih spesifik mendalami pelaporan berita bisnis dan korporasi.
- Analisis Keuangan di Hong Kong: Langkah Thomas ke dunia keuangan formal dimulai saat ia bekerja sebagai analis keuangan di Whetlock NatWest Securities yang berbasis di Hong Kong. Di pusat keuangan Asia ini, ia mengasah kemampuannya dalam melakukan penilaian aset, analisis pasar modal, dan proyeksi ekonomi makro.
- Kepemimpinan Korporasi di Arsari Group (2006): Thomas dipercaya menjabat sebagai Deputy CEO di Arsari Group, sebuah konglomerasi agrobisnis milik pamannya, Hashim Djojohadikusumo. Di sini, ia bertanggung jawab atas manajemen strategis dan pengembangan bisnis perusahaan dalam skala besar.
- Bendahara Umum Partai Gerindra: Dalam ranah politik, Thomas memegang peran krusial sebagai Bendahara Umum Partai Gerindra. Posisi ini menuntut transparansi dan akuntabilitas tinggi dalam pengelolaan dana partai politik besar, sekaligus memperkuat posisinya di lingkaran inti kebijakan nasional.
- Wakil Menteri Keuangan (2024-Sekarang): Puncak karier birokrasinya sebelum menuju Bank Indonesia adalah ketika ia dilantik sebagai Wakil Menteri Keuangan pada 18 Juli 2024. Selama masa jabatannya, ia terlibat langsung dalam penyusunan APBN dan koordinasi kebijakan fiskal yang sinkron dengan kebijakan moneter.
Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia dipandang oleh banyak analis sebagai upaya untuk memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal yang dikelola Kementerian Keuangan dan kebijakan moneter yang dikelola Bank Indonesia. Dengan latar belakangnya sebagai mantan Wakil Menteri Keuangan, Thomas diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pemerintah dalam menjaga pertumbuhan ekonomi dengan independensi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga. Transisi ini juga menandai kembalinya marga Djiwandono ke dalam jajaran elit pimpinan Bank Indonesia, membangkitkan memori kolektif tentang kepemimpinan ayahnya di masa lalu, namun kini dengan tantangan zaman yang jauh berbeda, termasuk digitalisasi keuangan dan ancaman fragmentasi ekonomi global.
Ke depan, tugas berat telah menanti Thomas di Jalan Thamrin. Sebagai Deputi Gubernur, ia akan memikul tanggung jawab besar dalam merumuskan kebijakan suku bunga, mengelola cadangan devisa, serta memastikan sistem pembayaran nasional tetap aman dan efisien. Publik dan pelaku pasar kini menantikan bagaimana Thomas akan menerapkan visi ekonominya dalam rapat-rapat Dewan Gubernur BI nantinya. Kecepatan pengesahan di DPR menunjukkan adanya dukungan politik yang kuat, namun pembuktian sesungguhnya akan terletak pada kemampuannya menjaga integritas Bank Indonesia sebagai lembaga independen yang menjadi jangkar stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak ketidakpastian dunia.


















