Waskita Karya Mengukuhkan Peran dalam Pembangunan Infrastruktur Pendidikan Nasional Melalui Proyek Sekolah Rakyat Tahap II Senilai Rp 3,87 Triliun
PT Waskita Karya (Persero) Tbk., sebuah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memiliki rekam jejak panjang dalam industri konstruksi, kembali menunjukkan komitmennya terhadap pembangunan infrastruktur vital di Indonesia. Kali ini, perusahaan pelat merah tersebut akan mengemban tanggung jawab besar dalam pelaksanaan proyek pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II, sebuah inisiatif strategis yang dirancang untuk memperluas akses pendidikan berkualitas di seluruh penjuru negeri. Nilai total proyek yang dipercayakan kepada Waskita Karya mencapai angka fantastis, yaitu Rp 3,87 triliun. Angka ini mencerminkan skala dan signifikansi dari program yang dicanangkan oleh pemerintah ini. Dalam pelaksanaannya, Waskita Karya akan menggarap empat paket proyek Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai provinsi, menandakan kepercayaan yang diberikan oleh pemerintah terhadap kapabilitas dan pengalaman perusahaan dalam menangani proyek berskala besar dan kompleks.
Corporate Secretary Waskita Karya, Ermy Puspa Yunita, menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas kesempatan yang diberikan kepada perusahaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan Sekolah Rakyat. Beliau menegaskan bahwa keterlibatan Waskita Karya dalam program ini sejalan dengan visi Presiden terpilih, Prabowo Subianto, yang memiliki cita-cita luhur untuk memberantas kemiskinan ekstrem di Indonesia. Lebih lanjut, Ermy menekankan bahwa program pembangunan Sekolah Rakyat ini merupakan salah satu prioritas utama pemerintah saat ini, yang secara fundamental bertujuan untuk mewujudkan pemerataan akses terhadap fasilitas pendidikan yang memadai bagi seluruh lapisan masyarakat. Hal ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan pembangunan sumber daya manusia yang menjadi fondasi kemajuan bangsa.
Distribusi Proyek dan Target Penyelesaian: Fokus pada Sulawesi Selatan dan Jawa Timur
Salah satu pilar utama dari mandat yang diemban oleh Waskita Karya adalah pembangunan Sekolah Rakyat di Provinsi Sulawesi Selatan. Proyek di wilayah ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 1,23 triliun, sebuah angka yang menunjukkan besarnya investasi yang dialokasikan untuk meningkatkan kualitas pendidikan di sana. Pembangunan akan difokuskan pada lima kabupaten yang memiliki potensi dan kebutuhan mendesak akan fasilitas pendidikan yang lebih baik, yaitu Kabupaten Wajo, Sidrap, Tana Toraja, Soppeng, dan Barru. Keberadaan Sekolah Rakyat di kelima kabupaten ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan terhadap peningkatan angka partisipasi sekolah dan kualitas pembelajaran bagi generasi muda di Sulawesi Selatan.
Ermy Puspa Yunita optimis bahwa proyek pembangunan Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan akan dapat diselesaikan sesuai dengan target waktu yang telah ditetapkan, yaitu pada pertengahan tahun 2026. Selain itu, Waskita Karya juga sedang giat mengerjakan paket proyek Sekolah Rakyat lainnya yang berlokasi di Provinsi Jawa Timur. Proyek di Jawa Timur ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 1,16 triliun. Cakupan pembangunan di provinsi ini sangat luas, mencakup beberapa daerah penting seperti Kabupaten Gresik, Jombang, Sampang, Tuban, serta Kota Surabaya. Target penyelesaian untuk seluruh bangunan di Jawa Timur ini adalah dalam kurun waktu delapan bulan, sebuah jadwal yang ambisius namun dapat dicapai dengan manajemen proyek yang efisien dan tenaga kerja yang terampil.
Fasilitas Komprehensif dan Standar Konstruksi Berkelanjutan
Kualitas dan kelengkapan fasilitas pendidikan yang dibangun menjadi salah satu aspek penting yang ditekankan oleh Waskita Karya. Perusahaan tidak hanya membangun ruang kelas semata, melainkan menciptakan ekosistem pendidikan yang holistik. Fasilitas yang akan dibangun mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA). Lebih dari itu, setiap kompleks Sekolah Rakyat akan dilengkapi dengan berbagai sarana pendukung yang krusial untuk menunjang proses belajar mengajar dan kehidupan sehari-hari para siswa serta tenaga pendidik. Fasilitas tersebut meliputi asrama siswa yang nyaman dan aman, asrama khusus untuk para guru, kantin yang menyediakan makanan sehat, sarana olahraga yang memadai untuk menunjang aktivitas fisik, tempat ibadah untuk memenuhi kebutuhan spiritual, serta gedung serbaguna yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan sekolah dan komunitas.
Dalam setiap tahapan pembangunan, Waskita Karya menunjukkan komitmennya terhadap prinsip konstruksi berkelanjutan dan tanggung jawab lingkungan. Ermy Puspa Yunita menjelaskan bahwa seluruh bangunan yang didirikan akan menggunakan material-material ramah lingkungan. Pemilihan material ini tidak hanya bertujuan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, tetapi juga untuk memastikan kualitas dan daya tahan bangunan dalam jangka panjang. Selain itu, metode kerja yang diterapkan akan selalu memperhatikan aspek keselamatan kerja bagi seluruh pekerja dan efisiensi dalam penggunaan sumber daya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip-prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) yang semakin menjadi standar global dalam praktik bisnis modern, menegaskan bahwa Waskita Karya tidak hanya membangun fisik, tetapi juga membangun masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan.
Ekspansi Proyek ke Sumatera Selatan dan Aceh: Memperluas Jangkauan Pembangunan
Selain fokus pada proyek di Sulawesi Selatan dan Jawa Timur, Waskita Karya juga memperluas jangkauan kontribusinya ke wilayah lain di Indonesia. Salah satu paket proyek signifikan lainnya yang sedang digarap adalah pembangunan Sekolah Rakyat di Provinsi Sumatera Selatan. Proyek di provinsi ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 719,5 miliar. Lokasi pembangunan di Sumatera Selatan tersebar di beberapa kabupaten yang membutuhkan peningkatan infrastruktur pendidikan, yaitu Kabupaten Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, dan Empat Lawang. Keberadaan Sekolah Rakyat di daerah-daerah ini diharapkan dapat membuka peluang pendidikan yang lebih luas bagi anak-anak di wilayah tersebut.
Selanjutnya, Waskita Karya juga mendapatkan mandat untuk membangun Sekolah Rakyat di Provinsi Aceh. Proyek di Serambi Mekkah ini memiliki nilai kontrak sebesar Rp 757,05 miliar. Pembangunan akan dilaksanakan di tiga lokasi strategis, yaitu Kabupaten Nagan Raya, Aceh Singkil, dan Kota Subulussalam. Penandatanganan kontrak untuk proyek di Aceh ini telah dilakukan pada bulan Desember 2025, bertempat di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) di Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa proses administrasi dan legalitas proyek telah rampung, dan Waskita Karya siap untuk memulai tahap konstruksi demi mewujudkan fasilitas pendidikan yang memadai di wilayah tersebut.
Ermy Puspa Yunita kembali menegaskan dedikasi Waskita Karya sebagai BUMN konstruksi yang memiliki pengalaman lebih dari 65 tahun. Beliau menyatakan bahwa perusahaan senantiasa siap untuk terus mendukung berbagai program pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Pembangunan Sekolah Rakyat ini dipandang sebagai salah satu bentuk konkret dari upaya tersebut, yang secara langsung berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui akses pendidikan yang lebih baik. Pengalaman panjang Waskita Karya menjadi jaminan bahwa proyek-proyek ini akan dilaksanakan dengan standar kualitas, keamanan, dan efisiensi yang tinggi.
Visi Kementerian Pekerjaan Umum: Sekolah Rakyat sebagai Investasi Jangka Panjang
Kementerian Pekerjaan Umum (Kementerian PU) memainkan peran sentral dalam menginisiasi dan mengawal program pembangunan Sekolah Rakyat. Menteri PU, Dody Hanggodo, dalam keterangannya pada Sabtu, 10 Januari 2026, mengumumkan rencana Kementerian PU untuk melanjutkan pembangunan Sekolah Rakyat Tahap II di 104 lokasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Beliau memandang Sekolah Rakyat bukan sekadar bangunan fisik, melainkan sebuah investasi jangka panjang yang sangat strategis dalam pembangunan sumber daya manusia. Dengan menyediakan fasilitas pendidikan yang memadai, pemerintah berinvestasi pada potensi generasi penerus bangsa, yang kelak akan menjadi tulang punggung pembangunan nasional.
Dody Hanggodo menekankan bahwa pembangunan Sekolah Rakyat merupakan manifestasi nyata dari komitmen pemerintah untuk menciptakan sumber daya manusia yang unggul. Beliau menegaskan pentingnya memastikan bahwa setiap fasilitas pendidikan yang dibangun tidak hanya cepat selesai, tetapi juga memiliki kualitas yang terjamin. Kualitas ini mencakup aspek struktural, fungsional, hingga estetika, sehingga tercipta lingkungan belajar yang kondusif dan inspiratif. Pemerintah berupaya keras untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam program ini memberikan manfaat maksimal bagi peningkatan kualitas pendidikan di tanah air.
Data rinci mengenai kapasitas Sekolah Rakyat Tahap II menunjukkan skala ambisi program ini. Secara keseluruhan, Sekolah Rakyat Tahap II dirancang untuk dapat menampung sebanyak 112.320 siswa. Kapasitas ini akan terdistribusi dalam 3.744 rombongan belajar (rombel). Rinciannya adalah 1.872 rombel untuk jenjang SD, 936 rombel untuk jenjang SMP, dan 936 rombel untuk jenjang SMA. Setiap lokasi pembangunan Sekolah Rakyat memiliki kapasitas ideal untuk menampung 1.080 siswa, dengan total pembagian menjadi 36 rombongan belajar di setiap lokasi. Distribusi geografis Tahap II mencakup 26 lokasi di wilayah Sumatera, 40 lokasi di wilayah Jawa, 12 lokasi di wilayah Kalimantan, dan 16 lokasi di wilayah Sulawesi, menunjukkan upaya pemerataan pembangunan di seluruh nusantara.


















