Jakarta – Ancaman bencana alam seperti banjir dan longsor yang baru saja melanda sebagian wilayah Sumatera, terutama Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, kini beradu dengan prediksi musim kemarau yang semakin dekat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Ketua BMKG, Teuku Faisal Fathani, telah merilis analisis mendalam mengenai pola curah hujan bulanan di ketiga provinsi tersebut. Prediksi ini tidak hanya menyoroti kapan wilayah tersebut akan kembali mengering, tetapi juga mengidentifikasi periode krusial untuk upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Berdasarkan rapat kerja bersama Komisi V DPR RI pada Selasa (27/1), analisis BMKG memberikan gambaran rinci tentang transisi musim yang akan memengaruhi aktivitas masyarakat dan penanganan dampak bencana di wilayah Sumatera.
Transisi Musim di Aceh: Dari Kekeringan Menuju Hujan dan Kembali Kering
Analisis mendalam dari BMKG mengungkapkan bahwa Provinsi Aceh akan mengalami fase pengeringan yang signifikan pada bulan Februari. Namun, pola ini tidak seragam di seluruh wilayah. Menurut Ketua BMKG, Teuku Faisal Fathani, wilayah utara dan timur Aceh diprediksi akan mulai mengering lebih awal, sementara bagian barat provinsi tersebut masih akan menerima curah hujan ringan. “Kami juga membuat prediksi curah hujan bulanan di tiap provinsi yang mengalami bencana. Ini di Aceh kita lihat Februari nanti sudah mulai mengering, terutama di bagian utara dan bagian timur, sedangkan bagian barat masih relatif ada hujan ringan di sana,” papar Faisal.
Memasuki bulan Maret, pola cuaca di Aceh akan kembali berubah. Hujan diprediksi akan meningkat, khususnya di wilayah barat dan selatan provinsi tersebut, dan berlanjut hingga bulan April. Periode hujan di bulan Maret dan April ini merupakan musim hujan pertama bagi Aceh. Setelah melewati fase basah ini, Aceh diperkirakan akan kembali memasuki musim kering pada bulan Mei, Juni, dan Juli. BMKG juga memberikan catatan penting mengenai musim hujan kedua yang diprediksi akan lebih basah, yakni pada periode Oktober, November, hingga Januari. “Kemudian bulan Maret ada hujan, terutama di bagian barat dan selatan, Maret dan April. Kemudian kembali mengering bulan Mei, Juni, dan Juli. Ini yang bulan Maret dan April ini musim hujan yang pertama, nanti yang kedua yang lebih basah adalah di bulan Oktober, November, hingga Januari,” jelas Faisal, menggarisbawahi pentingnya pemahaman terhadap siklus ini untuk mitigasi bencana.
Sumatera Utara: Potensi Hujan di Tapanuli Raya dan Periode Kering yang Spesifik
Beralih ke Provinsi Sumatera Utara, BMKG memprediksi wilayah ini juga akan mengalami periode kering pada bulan Februari, serupa dengan Aceh. Namun, siklus basah di Sumatera Utara akan dimulai sedikit lebih lambat, yakni pada bulan April dan Mei, sebelum kembali mengering pada bulan Juni dan Juli. “Selanjutnya, untuk Sumatera Utara ini juga sama, sekarang masih kering, nanti agak sedikit basah mulai dari April dan Mei, kemudian kering lagi di bulan Juni dan Juli,” ujar Faisal.
Fokus khusus diberikan pada wilayah Tapanuli Raya di Sumatera Utara. BMKG mengidentifikasi adanya potensi hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi pada bulan Maret dan April di daerah ini. Peningkatan curah hujan di Tapanuli Raya ini menjadi perhatian penting mengingat potensi bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi. Setelah periode hujan tersebut, wilayah Tapanuli Raya diperkirakan akan mengering pada bulan Mei, Juni, dan Juli. “Yang kita perlu prioritaskan di sini adalah di Tapanuli Raya, itu bulan Maret dan April itu ada potensi hujan sedang sampai tinggi. Itu di Tapanuli Raya. Nah, ini nanti mengeringnya di bulan Mei dan Juni, Juli,” tambahnya, menekankan perlunya kewaspadaan ekstra di area tersebut.
Rekomendasi Rehabilitasi Pascabencana: Momentum Februari-Maret
Salah satu temuan paling krusial dari analisis BMKG adalah identifikasi periode waktu yang paling ideal untuk melakukan upaya rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana. Berdasarkan pola cuaca yang diprediksi, bulan Februari dan Maret secara umum dianggap sebagai waktu yang sangat tepat untuk mempercepat proses perbaikan infrastruktur dan pemulihan pasca-bencana di wilayah Sumatera yang terdampak.
Ketua BMKG, Teuku Faisal Fathani, secara eksplisit menyatakan bahwa kondisi cuaca pada bulan Februari dan Maret akan mendukung pelaksanaan kegiatan perbaikan. “Sehingga ini bulan Februari dan Maret adalah saat-saat yang sangat tepat untuk mengejar atau mengakselerasi proses perbaikan rehab-rekon di pascabencana ini,” jelasnya. Namun, ia juga memberikan peringatan bahwa kondisi cuaca pada bulan Maret dan April, terutama di akhir periode tersebut, mungkin menjadi kurang mendukung untuk kegiatan konstruksi, yang mengindikasikan potensi peningkatan intensitas hujan yang dapat menghambat pekerjaan lapangan. “karena nanti pada bulan Maret dan April ini cuacanya juga agak kurang mendukung, terutama di bulan Maret dan April ini,” pungkasnya, menggarisbawahi pentingnya memanfaatkan jendela waktu yang tersedia secara optimal.
Sumatera Barat: Pola Musim yang Serupa dengan Jeda Hujan di Pertengahan Tahun
Kondisi cuaca di Provinsi Sumatera Barat juga menunjukkan pola yang hampir serupa dengan prediksi untuk Aceh dan Sumatera Utara. BMKG mengindikasikan bahwa Sumatera Barat akan memasuki musim kering pada bulan Februari. Namun, seperti halnya provinsi tetangganya, Sumatera Barat juga akan mengalami peningkatan curah hujan yang cukup signifikan di beberapa wilayah pada bulan Maret hingga April.
Setelah periode hujan di bulan Maret dan April tersebut, wilayah Sumatera Barat diperkirakan akan kembali mengering pada bulan Juni dan Juli. “Untuk di Sumatera Barat itu juga kondisinya hampir sama, nanti kita musim kering bulan Februari, nanti Maret-April cukup tinggi di beberapa tempat, baru kemudian mengering lagi di bulan Juni dan Juli,” tandas Faisal. Prediksi ini menegaskan adanya pola umum transisi musim di sebagian besar wilayah Sumatera, di mana periode kering di awal tahun diikuti oleh peningkatan curah hujan di bulan-bulan berikutnya, sebelum kembali mengering di pertengahan tahun. Pemahaman terhadap pola ini sangat vital bagi pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, dan masyarakat dalam merencanakan berbagai aktivitas, mulai dari pertanian hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana.


















