| No | Kecamatan | Kabupaten/Kota |
|---|---|---|
| 1 | Kecamatan Kasiman | Bojonegoro |
| 2 | Kecamatan Wonosari | Madiun |
| 3 | Kecamatan Bagor | Nganjuk |
| 4 | Kecamatan Babat | Lamongan |
| 5 | Kecamatan Benowo | Surabaya |
| 6 | Kecamatan Jrengik | Sampang |
| 7 | Kecamatan Rejoso | Nganjuk |
| 8 | Kecamatan Rogojampi | Banyuwangi |
| 9 | Kecamatan Tempeh | Lumajang |
| 10 | Kecamatan Durenan | Trenggalek |
Selain ancaman banjir, masyarakat yang tinggal di wilayah perbukitan dan lereng gunung harus mewaspadai potensi tanah longsor. Curah hujan yang sangat lebat dapat menyebabkan tanah menjadi tidak stabil akibat infiltrasi air yang berlebihan ke dalam pori-pori tanah. Wilayah seperti Pujon di Kabupaten Malang dan Junrejo di Kota Batu merupakan daerah dengan topografi curam yang memerlukan pengawasan ketat. Selain itu, wilayah Binakal di Bondowoso, Klabang di Situbondo, Ledokombo di Jember, serta Arjosari di Pacitan juga masuk dalam daftar waspada longsor. BMKG memperingatkan bahwa pergerakan tanah bisa terjadi secara tiba-tiba, terutama setelah hujan lebat berlangsung lebih dari tiga jam tanpa henti.
Dinamika Atmosfer dan Pemicu Cuaca Ekstrem Global
Terjadinya peningkatan cuaca ekstrem di Jawa Timur pada awal Februari 2026 ini tidak lepas dari pengaruh fenomena atmosfer skala global dan regional. Salah satu faktor utama adalah aktifnya Monsun Asia yang membawa massa udara basah dari Benua Asia menuju wilayah Indonesia. Selain itu, keberadaan fenomena La Nina dengan intensitas lemah turut memberikan kontribusi terhadap peningkatan akumulasi curah hujan bulanan. Kondisi ini diperparah dengan adanya gangguan gelombang atmosfer Madden Julian Oscillation (MJO) yang saat ini sedang melintasi wilayah Jawa Timur. MJO merupakan aktivitas intramusiman yang bergerak ke arah timur di sepanjang wilayah tropis dan sangat berperan dalam memicu pertumbuhan awan hujan yang masif.
Faktor lokal juga turut memperkuat potensi badai di wilayah ini. Suhu muka laut di perairan sekitar Jawa Timur, khususnya di Selat Madura, tercatat masih cukup hangat. Suhu muka laut yang hangat ini memberikan pasokan uap air yang melimpah ke atmosfer, yang kemudian menjadi “bahan bakar” bagi pertumbuhan awan-awan konvektif yang kuat. Adanya pola pertemuan angin atau konvergensi di atas wilayah Jawa Timur menyebabkan massa udara berkumpul dan terangkat ke atas, membentuk sistem cuaca yang tidak stabil. Kombinasi antara faktor global seperti MJO dan faktor lokal seperti suhu laut inilah yang menyebabkan hujan turun dengan intensitas sangat lebat hingga ekstrem di beberapa titik tertentu.
Proyeksi Cuaca 10 Hari ke Depan dan Imbauan Keselamatan
Berdasarkan model prakiraan cuaca numerik, kondisi ekstrem ini diprediksi tidak hanya terjadi dalam waktu singkat, melainkan akan bertahan hingga sepuluh hari ke depan, setidaknya sampai tanggal 10 Februari 2026. BMKG Juanda secara tegas mengimbau instansi terkait, mulai dari BPBD hingga dinas perhubungan, untuk melakukan langkah mitigasi yang diperlukan. Pembersihan saluran air, pemangkasan dahan pohon yang rimbun, serta pengecekan kekuatan papan reklame di area perkotaan menjadi prioritas utama guna meminimalisir dampak kerugian material maupun korban jiwa akibat angin kencang yang menyertai hujan.
Bagi masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan, sangat disarankan untuk selalu memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi BMKG sebelum bepergian. Pengendara kendaraan bermotor diharapkan lebih berhati-hati terhadap jalan yang licin serta berkurangnya jarak pandang (visibility) saat hujan lebat mengguyur. Jika terjadi hujan petir, segera cari tempat berlindung yang aman dan hindari berteduh di bawah pohon atau papan reklame besar. Wilayah dengan topografi curam harus lebih waspada terhadap tanda-tanda awal longsor, seperti munculnya retakan tanah atau air sumur yang tiba-tiba menjadi keruh. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama dalam menghadapi puncak musim hujan yang penuh tantangan ini.
















