Masyarakat di seluruh pelosok Jawa Barat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra seiring dengan rilis peringatan dini cuaca ekstrem yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk periode sepekan ke depan, mulai Senin, 16 Februari hingga Minggu, 22 Februari 2026. Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer terkini, potensi hujan dengan intensitas sedang, lebat, hingga sangat lebat yang disertai sambaran petir dan angin kencang diprediksi akan melanda sebagian besar wilayah Bumi Pasundan akibat kombinasi fenomena global dan lokal yang memicu pertumbuhan awan konvektif secara masif. Kondisi ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia yang membawa massa udara basah serta aktifnya gelombang atmosfer di sekitar wilayah kepulauan Indonesia, sehingga meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang di berbagai kabupaten dan kota.
Prakirawan cuaca dari BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Barat, Leni Jantika, menjelaskan secara mendalam bahwa terdapat sejumlah faktor fundamental yang saling berinteraksi dan mendukung peningkatan suplai uap air di atmosfer secara signifikan. Salah satu faktor utama adalah suhu muka laut di perairan sekitar Indonesia yang terpantau masih relatif hangat. Kondisi suhu laut yang hangat ini berfungsi sebagai “bahan bakar” utama dalam proses penguapan, yang kemudian menyediakan pasokan uap air yang melimpah bagi pembentukan awan-awan hujan di daratan. Selain itu, aktivitas gelombang atmosfer tipe Kelvin dan Low Frequency terpantau masih sangat aktif di wilayah Indonesia bagian barat, yang secara mekanis mendorong pertumbuhan awan konvektif dengan skala yang lebih luas dan intensitas yang lebih kuat.
Lebih lanjut, Leni memaparkan bahwa penguatan Monsun Asia menjadi faktor pendorong lain yang tidak bisa diabaikan. Monsun Asia membawa massa udara basah dari wilayah utara menuju wilayah selatan khatulistiwa, termasuk Jawa Barat. Fenomena ini diperumit dengan terbentuknya daerah belokan angin (shearline) serta daerah pertemuan angin (konvergensi) di atas wilayah Jawa Barat. Keberadaan daerah konvergensi ini menyebabkan massa udara melambat dan berkumpul, sehingga terjadi proses pengangkatan massa udara yang intensif. Didukung oleh kelembapan udara yang sangat tinggi dari lapisan bawah hingga lapisan atas atmosfer, serta kondisi labilitas atmosfer yang berada pada kategori ringan hingga kuat, potensi pembentukan awan konvektif pada skala lokal menjadi sangat tinggi dan sulit diprediksi secara instan tanpa pemantauan radar yang ketat.
Analisis Detail Sebaran Wilayah Terdampak Harian
Berdasarkan data prakiraan berbasis dampak, BMKG merinci wilayah-wilayah yang masuk dalam zona merah atau memiliki potensi cuaca ekstrem setiap harinya. Pada hari Senin, 16 Februari 2026, hujan lebat disertai petir dan angin kencang diprediksi akan mengepung wilayah utara hingga selatan, meliputi Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor, Karawang, Purwakarta, Subang, Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, hingga Pangandaran. Karakteristik hujan pada hari ini diprediksi terjadi pada skala lokal namun dengan durasi yang singkat dan intensitas yang sangat tinggi, yang sering kali menjadi pemicu utama banjir bandang di wilayah aliran sungai.
Memasuki hari Selasa, 17 Februari 2026, cakupan wilayah terdampak sedikit meluas dengan masuknya Kota Depok dan wilayah Bandung Raya secara keseluruhan ke dalam daftar waspada. Wilayah yang harus bersiap meliputi Bekasi, Bogor, Kota Depok, Karawang, Purwakarta, Subang, Cianjur, Sukabumi, Bandung Raya (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Cimahi), Sumedang, Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Kota Banjar, dan Pangandaran. Sementara itu, pada hari Rabu, 18 Februari 2026, konsentrasi awan konvektif diprediksi masih stabil di wilayah yang sama dengan tambahan fokus khusus pada Kota Cimahi dan Kabupaten Sukabumi yang memiliki topografi perbukitan, sehingga potensi longsor perlu diantisipasi lebih dini oleh masyarakat setempat.
Tren cuaca ekstrem ini diperkirakan akan sedikit mengalami pergeseran pola pada paruh kedua pekan tersebut. Pada hari Kamis, 19 Februari 2026, wilayah yang diprediksi terdampak meliputi Bekasi, Bogor, Kota Depok, Karawang, Subang, Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Berlanjut pada hari Jumat, 20 Februari 2026, potensi hujan lebat masih akan menghantui Bekasi, Bogor, Karawang, Cianjur, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Majalengka, Garut, Kabupaten Tasikmalaya, dan Pangandaran. Meskipun intensitas di beberapa titik mungkin mulai melandai, kejenuhan tanah akibat hujan berhari-hari sebelumnya meningkatkan risiko pergerakan tanah atau longsor di wilayah pegunungan.
Mitigasi Risiko Bencana Hidrometeorologi dan Imbauan BMKG
Menjelang akhir pekan, tepatnya pada hari Sabtu, 21 Februari 2026, wilayah yang masih berpotensi dilanda cuaca ekstrem mulai menyusut namun tetap signifikan, mencakup Bogor, Purwakarta, Cianjur, Kabupaten Bandung Barat, Sumedang, Majalengka, Kuningan, Garut, Tasikmalaya, dan Pangandaran. Sedangkan pada hari Minggu, 22 Februari 2026, konsentrasi hujan sedang hingga lebat diprediksi akan terfokus di wilayah Priangan Timur, yaitu Kabupaten Tasikmalaya, Ciamis, dan Pangandaran. Meskipun secara administratif jumlah wilayah berkurang, BMKG mengingatkan bahwa intensitas hujan di wilayah-wilayah tersebut tetap bisa mencapai kategori sangat lebat dalam waktu singkat.
BMKG secara tegas mengimbau kepada seluruh lapisan masyarakat dan instansi pemerintah terkait, seperti BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), untuk tetap siaga dan melakukan langkah-langkah mitigasi konkret. Kondisi cuaca yang sangat dinamis ini dapat berubah sewaktu-waktu akibat faktor pemanasan lokal yang kuat. Masyarakat diminta untuk mewaspadai fenomena angin kencang yang dapat merobohkan papan reklame, pohon tua, maupun konstruksi bangunan yang tidak kokoh. Selain itu, bagi warga yang tinggal di daerah bantaran sungai dan lereng tebing, sangat disarankan untuk memiliki rencana evakuasi mandiri jika hujan turun dengan intensitas tinggi selama lebih dari satu jam dengan jarak pandang yang terbatas.
Selain ancaman di daratan, BMKG juga memberikan catatan khusus mengenai potensi gelombang tinggi di perairan selatan Jawa Barat sebagai dampak tidak langsung dari penguatan Monsun Asia dan angin kencang. Para nelayan dan pelaku aktivitas wisata bahari di sepanjang pantai Sukabumi hingga Pangandaran diminta untuk selalu memantau pembaruan informasi cuaca laut. “Kami meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya pada berita hoaks terkait cuaca dan selalu merujuk pada kanal informasi resmi BMKG, baik melalui aplikasi InfoBMKG, media sosial resmi, maupun langsung menghubungi kantor BMKG terdekat,” pungkas Leni Jantika dalam keterangan tertulisnya.
Dengan adanya peringatan dini yang komprehensif ini, diharapkan koordinasi lintas sektor dapat berjalan maksimal untuk meminimalisir dampak kerugian materiil maupun korban jiwa. Pihak berwenang juga disarankan untuk memastikan saluran-saluran drainase di perkotaan tidak tersumbat sampah, mengingat curah hujan yang sangat tinggi dalam waktu singkat sering kali menyebabkan genangan air yang mengganggu arus lalu lintas dan aktivitas ekonomi warga. Kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama dalam menghadapi sepekan penuh tantangan cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat ini.

















