Proses produksi film “Tolong Saya (Dowajuseyo)” yang berlatar di Korea Selatan tidak hanya menuntut ketelitian artistik dan naratif, tetapi juga memerlukan pendekatan yang sangat peka terhadap aspek budaya dan spiritualitas lokal. Demi memastikan kelancaran dan keberkahan dalam setiap tahapan syuting, sang produser, Beby, mengambil langkah proaktif yang tidak biasa sebelum kamera mulai merekam. Ia secara pribadi mendatangi satu per satu lokasi syuting yang telah dipilih untuk memohon izin dan restu dari entitas yang dipercaya menghuni tempat tersebut. Pendekatan ini mencerminkan penghormatan mendalam terhadap kepercayaan masyarakat setempat, yang sering kali mengaitkan tempat-tempat tertentu dengan keberadaan roh atau kekuatan spiritual.
“Aku datang ke satu per satu tempat, aku ngomong pakai bahasa Korea, bilang karena di Korea juga banyak dewa-dewa begitu. Jadi, aku izin mau mengangkat ini dan kami enggak punya maksud jahat untuk menceritakan ini,” tutur Beby, menjelaskan filosofi di balik tindakannya. Penggunaan bahasa Korea dalam komunikasinya dengan entitas spiritual setempat bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah upaya untuk membangun koneksi yang lebih personal dan tulus. Ia menekankan bahwa tujuan utama tim produksi adalah untuk mengangkat sebuah cerita, bukan untuk menodai atau merendahkan nilai-nilai spiritual yang ada. Pernyataan ini menegaskan komitmen Beby untuk menjaga integritas budaya dan spiritualitas Korea selama proses pembuatan film.
Menavigasi Birokrasi dan Budaya Lokal
Di luar dimensi spiritual, Beby juga memainkan peran krusial dalam mengatasi kompleksitas birokrasi yang melekat pada produksi film internasional, terutama di negara asing. Tantangan perizinan syuting di Korea Selatan ternyata cukup rumit, dan hal ini menjadi salah satu faktor penentu dalam pemilihan lokasi akhir. Awalnya, rencana produksi terfokus di ibu kota, Seoul. Namun, antrean panjang dan proses administrasi yang padat di Seoul memaksa tim produksi untuk mencari alternatif lain demi efisiensi waktu dan kelancaran operasional. Keputusan strategis ini menunjukkan fleksibilitas dan kemampuan adaptasi tim dalam menghadapi kendala logistik.
Perpindahan lokasi syuting akhirnya mengerucut ke kota pelabuhan Busan. Keputusan ini terbukti menjadi langkah yang tepat, berkat bantuan tak ternilai dari seorang akademisi lokal yang memiliki jaringan luas. Beby berhasil mendapatkan dukungan signifikan dari Profesor Kim Su-il, salah satu dosennya di Korea. Profesor Kim Su-il, dengan pengetahuannya yang mendalam tentang lanskap administratif dan koneksi di Busan, menjadi kunci dalam memfasilitasi pengurusan segala bentuk perizinan lokasi. Bantuan ini tidak hanya mempercepat proses birokrasi, tetapi juga memastikan bahwa semua aspek legal dan administratif terpenuhi sesuai dengan peraturan yang berlaku di Korea Selatan, memungkinkan syuting berjalan tanpa hambatan berarti.
Sinopsis dan Daya Tarik Naratif “Tolong Saya (Dowajuseyo)”
Film “Tolong Saya (Dowajuseyo)”, yang disutradarai oleh Nur Muhammad Taufik dan Sjahfasyat Bianca, menjanjikan sebuah narasi yang memadukan elemen horor, romansa, dan misteri dengan latar belakang budaya Korea Selatan yang kaya. Cerita berpusat pada Tania (diperankan oleh Saskia Chadwick), seorang mahasiswi asal Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di Negeri Ginseng. Kehidupan Tania yang semula normal berubah drastis ketika ia tanpa sengaja terjerat dalam dunia supernatural, berhadapan langsung dengan sosok arwah penasaran bernama Min Yong (diperankan oleh Kim Seoyoung). Hubungan antara Tania dan Min Yong menjadi inti dari konflik cerita, membuka tabir misteri yang kelam.
Dalam usahanya untuk memahami dan mungkin membantu Min Yong, Tania menemukan sekutu tak terduga dalam diri dr. Park Min Jae (diperankan oleh Kim Geba). Sosok dokter tampan ini tidak hanya memberikan dukungan profesional, tetapi juga mengembangkan perasaan romantis terhadap Tania. Bersama-sama, Tania dan dr. Park Min Jae berjuang untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi di balik tragedi yang merenggut nyawa Min Yong. Namun, misteri semakin bertambah pelik dengan kehadiran Dion (diperankan oleh Cinta Brian), seorang pria misterius yang membawa beban masa lalu kelamnya sendiri. Keberadaan Dion menambah lapisan intrik dan ketegangan, menguji batas pemahaman dan keberanian Tania serta dr. Park Min Jae dalam mengungkap kebenaran yang sesungguhnya.
Film “Tolong Saya! (Dowajuseyo)” dijadwalkan untuk tayang di seluruh bioskop Indonesia mulai tanggal 29 Januari 2026. Dengan perpaduan cerita yang menarik, latar belakang budaya yang eksotis, dan potensi penampilan akting yang kuat dari para pemainnya, film ini diharapkan dapat menarik perhatian penonton Indonesia dan memberikan pengalaman sinematik yang berbeda. Produksi yang cermat, termasuk penanganan aspek spiritual dan birokrasi yang mendalam, menjadi fondasi penting bagi kesuksesan film ini dalam menyajikan kisah yang memukau dan berkesan.

















