BANJARMASINPOST.CO.ID – Kabar pernikahan antara pendakwah muda yang tengah naik daun, Anas Hidayatulloh, yang akrab disapa Gus Anas, dengan Ning Umi Laila, telah menjadi perbincangan hangat dan viral di berbagai platform media sosial. Peristiwa sakral ini tidak hanya menarik perhatian para pengikut setia keduanya, tetapi juga memicu rasa penasaran publik yang lebih luas, terutama di wilayah Jawa Timur, tempat kedua figur ini dikenal luas. Pernikahan yang dilangsungkan pada tanggal 17 Januari 2026 di Surabaya, Jawa Timur, menjadi sorotan utama, mengukuhkan ikatan dua sosok yang sama-sama berdedikasi dalam syiar Islam melalui jalur dakwah modern.
Kabar bahagia ini sontak menyebar dengan cepat, memicu gelombang pertanyaan dan pencarian informasi mengenai profil lengkap Gus Anas. Meskipun Ning Umi Laila telah cukup dikenal sebagai pendakwah asal Surabaya dengan latar belakang keluarga yang kuat dalam dunia pesantren, sosok suaminya, Anas Hidayatulloh, masih relatif minim informasinya di mata publik. Hal ini mendorong banyak warganet untuk menggali lebih dalam tentang latar belakang, pendidikan, dan perjalanan dakwah pria yang kini resmi menjadi pendamping hidup Ning Umi Laila tersebut.
Anas Hidayatulloh, yang lebih populer dengan sebutan Gus Anas, adalah seorang pendakwah muda berkarisma dan vokalis nasyid berbakat yang berasal dari Gresik, Jawa Timur. Lahir pada tahun 2000, Gus Anas telah menempuh perjalanan pendidikan yang solid dalam bidang keilmuan Islam. Ia merupakan alumnus dari Pondok Pesantren Sunan Kalijogo Surabaya, sebuah institusi pendidikan Islam tradisional yang berperan penting dalam membentuk karakter dan pemahaman agamanya. Di pondok pesantren inilah, secara kebetulan atau takdir, Gus Anas dikabarkan pertama kali mengenal Ning Umi Laila, yang kemudian menjadi istrinya. Setelah menyelesaikan pendidikan di pesantren, Gus Anas melanjutkan studinya di jenjang perguruan tinggi, meraih gelar Sarjana Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya. Program studi ini membekalinya dengan pemahaman mendalam tentang Al-Qur’an, tafsir, dan ilmu-ilmu keislaman lainnya, yang menjadi fondasi kuat bagi aktivitas dakwahnya.
Selain kiprahnya sebagai pendakwah, Gus Anas juga dikenal luas sebagai vokalis utama dalam grup nasyid Banjari. Grup ini spesialis dalam melantunkan sholawat dengan iringan musik rebana khas Banjari, yang memiliki daya tarik tersendiri di kalangan masyarakat Muslim Indonesia. Suara merdunya dalam membawakan lantunan sholawat telah mendapatkan popularitas yang signifikan, terutama di dunia maya. Melalui platform media sosial seperti Instagram dengan akun @hidayatullohanas_ dan TikTok dengan akun @anashidayatullohh, Gus Anas tidak hanya membagikan penampilan sholawatnya, tetapi juga secara aktif menyebarkan konten-konten keagamaan yang relevan dan mudah diakses oleh generasi muda. Keterlibatannya yang aktif di media sosial inilah yang turut mempercepat penyebaran kabar pernikahannya dan memicu kehebohan di kalangan netizen. Namun, mengenai latar belakang keluarganya, termasuk apakah ia merupakan putra seorang kyai atau memiliki keterlibatan langsung ayahnya di pesantren, informasi yang tersedia kepada publik masih sangat terbatas, menambah misteri di balik sosok pendakwah muda ini.
Mengurai Jejak Dakwah Ning Umi Laila: Sosok Inspiratif dari Surabaya
Beralih ke sosok mempelai wanita, Ning Umi Laila, yang memiliki nama lengkap Umi Lailatul Rahma Hadi, adalah seorang pendakwah wanita yang lahir di Surabaya pada tanggal 8 Agustus 2000. Ia merupakan anak sulung dari tiga bersaudara, buah hati dari pasangan almarhum KH Edi Rahmatullah, yang dikenal luas dengan julukan Kyai Granat, dan sang ibu, Sulastri. Latar belakang keluarga yang kental dengan dunia dakwah dan pesantren telah membentuk jalan hidup Ning Umi Laila sejak dini. Sebelum namanya melambung tinggi seperti sekarang, Ning Umi Laila telah rajin melantunkan sholawat-sholawat populer seperti “Alamate Anak Sholeh” dan “Walisongo”. Melalui lantunan merdunya yang diunggah ke kanal YouTube, namanya mulai dikenal luas dan mendapatkan sambutan positif dari masyarakat, menjadi titik awal popularitasnya di kancah dakwah digital.
Dedikasi Ning Umi Laila terhadap dakwah tidak hanya terbatas pada panggung-panggung pengajian. Ia dikenal aktif dalam berbagai perjalanan safari dakwah di seluruh Jawa Timur, menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan nilai-nilai Islam kepada masyarakat luas. Sebagaimana dilansir dari Surya, bakat melantunkan sholawat telah diasah Ning Umi Laila sejak ia duduk di bangku kelas 4 sekolah dasar, menunjukkan bakat alami dan bimbingan yang kuat dari keluarganya. Lebih mengesankan lagi, ia telah memulai kiprah berdakwah secara formal sejak masih duduk di bangku kelas 3 Sekolah Menengah Atas (SMA), sebuah usia yang relatif sangat muda untuk memikul tanggung jawab sebesar itu. Hingga saat ini, Ning Umi Laila masih terus menempuh pendidikan di UINSA Surabaya, sebuah bukti komitmennya terhadap ilmu pengetahuan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa, ia juga turut mengelola salah satu pondok pesantren di Surabaya, menunjukkan kapasitasnya dalam memimpin dan mengemban amanah keagamaan.
Estafet Dakwah dari Sang Ayah: Kisah Inspiratif Ning Umi Laila
Kisah perjalanan dakwah Ning Umi Laila tidak dapat dilepaskan dari pengaruh kuat kedua orang tuanya yang juga merupakan penceramah. Ayahnya, almarhum KH Edi Rahmatullah atau Kyai Granat


















