Kota Solo bersiap menyambut kemeriahan Tahun Baru Imlek 2026 melalui perhelatan kolosal Grebeg Sudiro yang dijadwalkan berlangsung sepanjang bulan Februari mendatang di kawasan Sudiroprajan dan Pasar Gede. Sebagai salah satu agenda budaya paling dinantikan di Jawa Tengah, festival yang memadukan akulturasi harmonis antara budaya Jawa dan Tionghoa ini secara resmi kembali masuk dalam kalender bergengsi Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 serta mengukuhkan posisinya dalam jajaran Top 10 Event Pariwisata Jawa Tengah. Mengusung tema besar “Heritage In Harmony”, rangkaian acara yang akan digelar mulai tanggal 5 hingga 21 Februari 2026 ini tidak hanya bertujuan merayakan pergantian tahun dalam kalender lunar, tetapi juga mempertegas posisi Solo sebagai episentrum toleransi dan keberagaman di Indonesia yang diproyeksikan mampu menyedot perhatian sedikitnya 450.000 wisatawan dari berbagai penjuru.
Ketua Panitia Grebeg Sudiro 2026, Arsatya Putra Utama, dalam keterangannya menekankan bahwa pencapaian festival ini merupakan prestasi luar biasa mengingat Grebeg Sudiro adalah satu-satunya acara setingkat kelurahan yang mampu menembus seleksi ketat Kementerian Pariwisata untuk masuk dalam KEN. Keberhasilan ini menjadi bukti bahwa narasi lokal yang dikelola secara profesional dapat memiliki daya tarik skala nasional bahkan internasional. Dengan target kunjungan yang meningkat signifikan dari angka 434.500 pengunjung pada tahun 2025 menjadi 450.000 orang pada tahun 2026, panitia telah merancang strategi perluasan area dan diversifikasi konten acara guna memastikan kenyamanan serta pengalaman budaya yang lebih mendalam bagi setiap individu yang hadir di jantung kota Solo tersebut.
Filosofi Heritage In Harmony dan Ritual Umbul Mantram
Tema “Heritage In Harmony” yang diusung tahun ini dipilih bukan tanpa alasan. Arsatya menjelaskan bahwa narasi ini merupakan manifestasi dari komitmen masyarakat Sudiroprajan untuk tetap menjaga warisan leluhur di tengah gempuran modernisasi yang masif. Harmoni yang dimaksud mencakup keselarasan hidup antara etnis Jawa dan Tionghoa yang telah terjalin selama berabad-abad di kawasan tersebut. Sebagai pembuka dari seluruh rangkaian kegiatan, ritual budaya Umbul Mantram akan dilaksanakan pada Rabu, 5 Februari 2026, mulai pukul 18.00 hingga 23.00 WIB. Ritual ini merupakan bentuk permohonan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar seluruh rangkaian acara berjalan lancar dan masyarakat diberikan keberkahan serta kesejahteraan di tahun yang baru.
Prosesi Umbul Mantram akan mengambil rute sakral yang melintasi titik-titik bersejarah di Solo. Perjalanan dimulai dari kantor Kelurahan Sudiroprajan, kemudian bergerak menuju Jalan Cut Nyak Dien, Jalan Ir. Djuanda, kawasan ikonik Bok Teko, Jalan Kapten Mulyadi, Jalan Urip Sumoharjo, hingga melintasi area Pasar Gede yang legendaris. Rombongan ritual juga akan berhenti sejenak di Klenteng Tien Kok Sie untuk memberikan penghormatan budaya sebelum akhirnya kembali ke titik awal. Selama prosesi ini, wisatawan akan disuguhi pengalaman autentik berupa ritual makan bersama yang dikenal dengan Umbul Bejono, pertunjukan tari rakyat yang dibawakan oleh warga setempat, kolaborasi kesenian dari berbagai perguruan tinggi, hingga pementasan wayang orang yang sarat akan nilai-nilai filosofis Jawa.
Transformasi Ekonomi Melalui Festival Kuliner dan Wisata Air
Selain aspek ritual, Grebeg Sudiro 2026 juga menjadi ajang pesta pora kuliner yang berlangsung selama 16 hari penuh, terhitung sejak 6 hingga 21 Februari di kawasan Ketandan. Festival kuliner ini akan menjadi magnet bagi para pencinta makanan dengan kehadiran 60 tenant pasar tradisional dan 250 pedagang UMKM yang telah terkurasi. Para pengunjung dapat mengeksplorasi berbagai sajian khas Solo yang sulit ditemukan di tempat lain, mulai dari panganan tradisional hingga inovasi kuliner kreatif yang menggabungkan cita rasa lokal dan modern. Kehadiran ratusan pelaku usaha kecil ini diharapkan dapat menciptakan perputaran uang yang masif, memperkuat ekonomi kerakyatan di wilayah Sudiroprajan dan sekitarnya.
Salah satu daya tarik yang paling diminati wisatawan setiap tahunnya adalah Wisata Perahu Hias di aliran Sungai Pepe. Dengan harga tiket yang sangat terjangkau, yakni Rp 10.000 per orang, pengunjung dapat menikmati sensasi menyusuri sungai di sore hingga malam hari. Suasana magis tercipta dari pantulan ribuan lampion yang menghiasi sepanjang bantaran sungai serta dekorasi warna-warni yang memberikan nuansa oriental yang kental. Wisata air ini tidak hanya menawarkan aspek hiburan, tetapi juga menjadi kampanye lingkungan untuk mengajak masyarakat mencintai dan menjaga kebersihan sungai yang menjadi urat nadi kehidupan kota Solo sejak masa lampau.
Karnaval Budaya Internasional dan Puncak Perayaan
Kemeriahan akan semakin memuncak dengan diadakannya Bazar UMKM dan pementasan Sendratari Kreasi Baru di kompleks Balai Kota Solo pada 10-16 Februari. Namun, agenda yang paling dinantikan oleh publik adalah Karnaval Budaya Grebeg Sudiro yang akan digelar pada Minggu, 15 Februari 2026, pukul 13.00 hingga 18.00 WIB. Karnaval ini diprediksi akan mengubah jalanan protokol Solo menjadi panggung seni raksasa. Rute karnaval dimulai dari Pasar Gede, menyusuri Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Mayor Sunaryo, Kapten Mulyadi, RE Martadinata, Cut Nyak Dien, dan berakhir di Jalan Ir. Juanda. Yang membedakan tahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya adalah keterlibatan peserta mancanegara yang semakin luas.
Arsatya mengungkapkan bahwa karnaval tahun ini akan dimeriahkan oleh delegasi seni dari berbagai negara, di antaranya adalah Pakistan, Malawi, Tanzania, India, Timor Leste, Syria, Nigeria, Sudan, Jepang, hingga Thailand. Partisipasi internasional ini menunjukkan bahwa Grebeg Sudiro telah diakui sebagai platform pertukaran budaya global. Di tengah hiruk-pikuk karnaval, penonton akan disuguhi mahakarya Sendratari Kolosal “Sudiroprajan Ngumandang”. Karya koreografi dari maestro Nur Diatmoko ini secara khusus dirancang untuk menggambarkan sejarah panjang pemukiman Sudiroprajan, di mana elemen gerak tari Jawa yang luwes berpadu dengan dinamika kesenian Tionghoa, menciptakan sebuah pertunjukan visual yang megah dan emosional.
Dampak Multiplier Effect bagi Masyarakat Sudiroprajan
Lurah Sudiroprajan, Agustinus Deny Khristiawan, menegaskan bahwa esensi dari Grebeg Sudiro jauh melampaui sekadar seremoni tahunan. Festival ini adalah motor penggerak utama bagi ekosistem ekonomi lokal. Keterlibatan warga dimulai jauh sebelum acara berlangsung, yakni dalam proses pembuatan jodang (tandu berisi makanan dan hasil bumi) yang membutuhkan gotong royong tingkat tinggi. “Dampak ekonomi langsung dirasakan oleh masyarakat kami, mulai dari pengrajin lampion, penyedia jasa transportasi, hingga pedagang kecil yang terlibat dalam bazar. Ini adalah bentuk pemberdayaan masyarakat yang nyata melalui jalur kebudayaan,” tegas Deny.
Dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif serta Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Grebeg Sudiro 2026 kini berdiri tegak sebagai destinasi wisata wajib bagi siapa pun yang ingin merasakan denyut nadi toleransi di Indonesia. Perpaduan antara ritual yang sakral, kemeriahan karnaval kelas dunia, dan kehangatan kuliner lokal menjadikan festival ini sebagai pengalaman yang lengkap. Bagi Solo, Grebeg Sudiro bukan sekadar perayaan Imlek, melainkan sebuah pernyataan tegas bahwa dalam perbedaan, terdapat harmoni yang mampu menggerakkan kemajuan dan kesejahteraan bersama.

















