- Ki Ageng Mataram I: Panembahan Joyobrono, sosok sesepuh yang meletakkan dasar spiritualitas di wilayah tersebut.
- Ki Ageng Mataram II: Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir), meskipun jenazahnya kemudian dipindahkan ke Butuh, Sragen, pengaruhnya tetap melekat kuat pada sejarah awal Mataram.
- Ki Ageng Mataram III: Ki Ageng Pemanahan, tokoh kunci yang membuka Alas Mentaok menjadi pemukiman yang makmur.
- Ki Ageng Mataram IV: Panembahan Senopati, pendiri sekaligus raja pertama Kesultanan Mataram yang secara resmi memegang tampuk kekuasaan.
- Nyi Ageng Henis: Sosok ibu agung yang juga dimakamkan di kompleks suci ini sebagai penghormatan atas peran besarnya dalam keluarga kerajaan.
Menanggapi laporan mengenai pohon beringin yang patah, Panembahan Agung Tedjowulan memberikan dhawuh dalem (perintah) agar area tersebut segera dibersihkan dengan sebaik-baiknya tanpa menghilangkan nilai kesakralannya. Beliau menginstruksikan agar peristiwa alam tersebut didoakan supaya menjadi pertanda kebaikan dan momentum bagi Keluarga Besar Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat untuk melakukan pembenahan diri dan penguatan internal. Sikap tenang Panembahan Agung dalam merespons fenomena ini menunjukkan kematangan spiritual seorang pemimpin dalam membaca tanda-tanda alam sebagai bagian dari kehendak Yang Maha Kuasa.
Meneguhkan Jati Diri Melalui Laku Doa dan Persatuan
Setelah merampungkan ritual di Kotagede, rombongan Panembahan Agung Tedjowulan tidak langsung kembali ke Solo. Mereka melanjutkan perjalanan spiritual menuju Pajimatan Imogiri, yang merupakan kompleks pemakaman agung bagi raja-raja keturunan Pakubuwono dan Hamengkubuwono. Perjalanan maraton ini menunjukkan betapa seriusnya keraton dalam menjaga kesinambungan sejarah. Nyadran di bulan Ruwah bukan hanya ritual musiman, melainkan instrumen penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. Di setiap langkah ziarah, terselip harapan agar persatuan di antara keluarga besar keraton tetap terjaga, menghindari perpecahan, dan memastikan bahwa warisan budaya Jawa tidak tergerus oleh arus modernisasi yang agresif.
















