Pada penghujung bulan pertama tahun 2026, tepatnya tanggal 31 Januari, penanggalan Jawa menunjuk pada sebuah kombinasi istimewa: Sabtu Pon. Bukan sekadar penanda waktu, momen ini sarat makna bagi mereka yang terlahir di bawah naungan weton tersebut, yang dalam tradisi leluhur kerap diibaratkan sebagai ‘rajanya para dewa’. Tanggal 31 Januari 2026 yang bertepatan dengan 12 Ruwah 1959 Dal dalam Kalender Jawa dan 12 Syaban 1447 Hijriah dalam kalender Islam, menjadi penanda penting untuk memahami karakter, potensi diri, serta peruntungan yang melekat pada individu dengan weton Sabtu Pon melalui perhitungan Neptu dan interpretasi filosofi Jawa yang mendalam.
Dalam khazanah budaya Jawa, weton bukanlah sekadar tanggal lahir biasa, melainkan sebuah sistem penanggalan yang kompleks dan filosofis, digunakan untuk mengenali karakteristik dasar seseorang, memprediksi nasib, hingga menentukan kecocokan jodoh. Weton adalah hasil perpaduan antara hari dalam kalender Masehi (Saptawara) dan hari pasaran dalam kalender Jawa (Pancawara). Bagi mereka yang lahir pada tanggal 31 Januari 2026, kombinasi hari Sabtu dengan pasaran Pon secara otomatis menetapkan weton Sabtu Pon sebagai identitas spiritual dan karakteristik mereka. Sistem weton ini, yang sering disebut sebagai ‘ilmu titen’, bukan bertujuan untuk mendorong kepasrahan buta terhadap takdir, melainkan sebagai panduan bijaksana untuk memahami potensi diri, kekuatan, serta kelemahan yang mungkin muncul, sehingga seseorang dapat melangkah lebih hati-hati dan penuh perhitungan dalam menjalani kehidupan.
Kalender Jawa memiliki lima hari pasaran utama: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kelima pasaran ini kemudian dikombinasikan dengan tujuh hari dalam sepekan (Senin hingga Minggu) untuk membentuk 35 siklus weton yang berbeda, masing-masing dengan makna dan karakteristik uniknya. Untuk weton Sabtu Pon, hari jatuh pada Sabtu, sementara pasaran adalah Pon. Lebih dari sekadar kombinasi nama, setiap hari dan pasaran memiliki nilai numerik yang disebut Neptu. Neptu adalah nilai angka dari hari dan pasaran yang menjadi fondasi utama dalam perhitungan primbon Jawa. Angka ini bukan sekadar deretan digit, melainkan representasi energi kosmis yang diyakini mampu membaca sifat, nasib, dan bahkan kecocokan jodoh seseorang. Untuk hari Sabtu, nilai Neptu adalah 9, sedangkan untuk pasaran Pon, nilai Neptu adalah 7. Dengan demikian, weton Sabtu Pon memiliki total Neptu 16 (9 + 7 = 16). Nilai Neptu 16 ini tergolong cukup tinggi, mengindikasikan karakteristik yang kuat dan berpengaruh dalam diri individu yang memilikinya, serta sering digunakan untuk menentukan hari baik untuk berbagai hajat, seperti pernikahan, pindah rumah, atau memulai usaha baru.
Disclaimer:
Perlu diingat, hukum percaya primbon Jawa adalah haram dan dilarang jika diyakini sebagai kebenaran mutlak yang mengatur nasib, jodoh, atau hari sial.
Namun, mempelajari atau menggunakannya sebatas pengetahuan budaya atau adat diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan akidah, tidak mengubah tawakul, dan tetap meyakini hanya Allah yang menentukan takdir.
Filosofi Sabtu Pon: Watak, Kepemimpinan, dan Potensi Rezeki
Dengan Neptu 16 yang kuat, individu dengan weton Sabtu Pon seringkali diasosiasikan dengan sosok Bethara Guru dalam mitologi pewayangan Jawa, sebagaimana diungkap dalam buku Pakuwon Padmasusastra (1903). Bethara Guru adalah rajanya para dewa, pemimpin tertinggi di kahyangan, yang dikenal dengan kebijaksanaan, kekuatan, dan otoritasnya. Simbolisme ini secara langsung merefleksikan sifat kepemimpinan yang melekat pada pemilik weton Sabtu Pon. Mereka cenderung memiliki jiwa pemimpin yang kuat, berkarisma, dan seringkali berada di posisi yang suka memerintah. Namun, di balik kecenderungan untuk memimpin dan mengatur, tersimpan pula sifat apresiasi yang tinggi terhadap kinerja dan usaha orang lain. Karakteristik ini membuat mereka sangat cocok untuk peran sebagai bos atau pemimpin, di mana mereka dapat mengarahkan dan memotivasi timnya dengan efektif. Meskipun demikian, ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dan dikendalikan. Sifat yang suka pamer atau menonjolkan diri perlu dikurangi agar komunikasi dengan bawahan atau rekan kerja tetap harmonis dan tidak menimbulkan kesenjangan. Selain itu, potensi untuk memanfaatkan posisi atau kekuasaan demi keuntungan pribadi juga merupakan godaan yang harus benar-benar diwaspadai dan dikendalikan agar kepemimpinan mereka tetap adil dan dihormati.
Makna mendalam weton Sabtu Pon tidak hanya terbatas pada sifat pribadi, tetapi juga merentang ke ranah spiritual dan keseimbangan hidup, yang menjadi inti dari filosofi Jawa. Memahami weton Sabtu Pon berarti menyelami kearifan lokal yang mengajarkan manusia untuk bijak dalam menjalani kehidupan, menyeimbangkan antara dunia lahir (materi) dan dunia batin (spiritual), serta menghormati tradisi leluhur. Secara spiritual, Sabtu Pon sering dikaitkan dengan energi keteguhan, kekuatan batin, dan ketenangan layaknya air yang mengalir namun memiliki kekuatan tersembunyi. Filosofinya adalah tentang pentingnya menjaga harmoni antara pencapaian materi dan nilai-nilai spiritual, agar hidup tidak hanya sukses secara duniawi tetapi juga bermakna dan berbobot secara batiniah. Dalam tradisi Jawa, Sabtu Pon juga sering dipandang sebagai hari yang baik untuk melakukan tirakat, meditasi, atau doa khusus, karena dipercaya memiliki kekuatan spiritual yang lebih besar dan energi yang mendukung untuk mencapai ketenangan batin serta koneksi spiritual yang lebih dalam. Lebih jauh lagi, beberapa sesepuh Jawa menyebut weton Pon menyimpan “kode rezeki”, sebuah potensi batin yang baru akan aktif sepenuhnya ketika seseorang mencapai fase kedewasaan energi tertentu, menunjukkan bahwa keberuntungan dan kemakmuran bagi pemilik Sabtu Pon sangat terkait dengan kematangan spiritual dan kebijaksanaan mereka dalam memanfaatkan potensi diri.
Dengan demikian, weton Sabtu Pon

















