Di tengah lanskap geopolitik global yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, Indonesia menegaskan posisinya sebagai kekuatan menengah (middle power) yang stabil, mampu memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan dan mempromosikan perdamaian. Pernyataan tegas ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dalam forum bergengsi Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang diselenggarakan di Jakarta pada Selasa, 3 Februari 2026. Dalam pidatonya, Airlangga menggarisbawahi pergeseran fundamental dalam tatanan dunia, yang kini lebih didominasi oleh pendekatan realisme, di mana kekuatan dan kepentingan nasional menjadi penentu utama hubungan antarnegara, melampaui perbedaan ideologi politik maupun ekonomi. Forum yang dihadiri oleh perwakilan pemerintah, pelaku usaha, investor global, akademisi, dan organisasi internasional dari 53 negara ini mengangkat tema “Coming Together to Boost Resilient Growth and Shared Prosperity,” sebuah seruan untuk kolaborasi dalam mendorong pertumbuhan yang tangguh dan kemakmuran bersama di era yang penuh tantangan ini.
Airlangga Hartarto secara gamblang menggambarkan pergeseran fokus global ini dengan merujuk pada pengamatannya di Annual Meeting World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. “Di Davos biasanya kita berbicara tentang teknologi baru, kekuatan ekonomi baru. Tapi kali ini sebagian besar peserta hanya berbicara tentang perang, Ukraina dan Gaza,” ungkapnya, mengilustrasikan bagaimana agenda yang sebelumnya didominasi oleh inovasi dan pertumbuhan ekonomi kini terpaksa bergeser untuk membahas konflik yang sedang berlangsung. Ia menekankan bahwa dinamika global saat ini tidak lagi didasarkan pada idealisme ideologi seperti kapitalisme atau sosialisme, melainkan pada prinsip realisme yang seringkali mengacu pada filosofi kekuatan. Ia mengutip pandangan filsuf Yunani kuno, yang menyatakan bahwa yang kuat akan melakukan apa yang mereka bisa, sementara yang lemah harus menerima konsekuensinya, sebuah prinsip yang juga pernah diungkapkan oleh mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat, Antony Blinken. Pandangan ini menegaskan bahwa dalam arena internasional, kekuatan dan kemampuan menjadi faktor penentu utama dalam membentuk kebijakan dan hubungan antarnegara.
Posisi Strategis Indonesia sebagai Middle Power
Dalam konteks pergeseran paradigma global yang mengedepankan realisme dan kekuatan, Airlangga Hartarto menyoroti pentingnya posisi Indonesia sebagai negara non-blok. Ia berpendapat bahwa status ini menempatkan Indonesia, bersama dengan negara-negara seperti Arab Saudi, pada posisi strategis sebagai kekuatan menengah (middle power) yang memiliki mandat untuk menyeimbangkan hubungan dengan berbagai kekuatan besar dunia. Kemampuan untuk menjaga netralitas dan menjalin kemitraan yang seimbang menjadi aset krusial di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan rivalitas antar negara adidaya. Airlangga juga menggarisbawahi peran aktif Presiden Prabowo Subianto dalam kancah geopolitik global yang turut memperkuat posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara. Kepemimpinan Indonesia dinilai berkontribusi signifikan dalam menjaga stabilitas dan perdamaian di ASEAN, sebuah kawasan yang hingga kini relatif terhindar dari konflik terbuka meskipun dihadapkan pada persaingan kekuatan besar yang semakin intensif.
ASEAN sebagai Jangkar Stabilitas di Tengah Fragmentasi Global
Stabilitas kawasan ASEAN, menurut Airlangga, menjadi modal penting bagi Indonesia di tengah fenomena fragmentasi geopolitik global yang semakin nyata. Kawasan ini terus berfungsi sebagai platform kerja sama regional yang vital, menyediakan koridor stabilitas di tengah gelombang persaingan kekuatan besar yang tak henti-hentinya. Di tingkat global, Indonesia secara proaktif terus memperluas jejaring kerja sama internasionalnya. Hal ini diwujudkan melalui penandatanganan perjanjian ekonomi strategis dengan berbagai mitra potensial, termasuk Kanada, Uni Eropa, kawasan Eurasia, dan Amerika Serikat. Airlangga menekankan bahwa kerja sama ini tidak hanya berorientasi pada aspek ekonomi semata, tetapi juga berfungsi untuk memperkuat posisi geopolitik Indonesia dalam arsitektur global yang semakin kompetitif. Dengan memperluas jangkauan kemitraan, Indonesia berupaya untuk tidak hanya menjadi pemain ekonomi yang kuat, tetapi juga aktor geopolitik yang diperhitungkan di panggung dunia.
Menuju Keanggotaan OECD dan Peran dalam Tata Kelola Global
Dalam upayanya meningkatkan kapabilitas dan relevansi di kancah internasional, Airlangga Hartarto juga menyinggung progres signifikan Indonesia dalam proses aksesi menuju keanggotaan Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD). Saat ini, Indonesia berada pada tahap tinjauan teknis yang krusial. Kerja sama Indonesia dengan OECD telah terjalin selama lebih dari satu dekade, di mana Indonesia telah secara konsisten mengadopsi berbagai standar dan praktik terbaik yang ditetapkan oleh organisasi tersebut. Lebih jauh lagi, Indonesia bersama dengan Jepang, aktif mempromosikan nilai, tolok ukur, dan standar OECD di kawasan ASEAN. Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan keseriusan Indonesia dalam mengadopsi standar internasional, tetapi juga posisinya sebagai fasilitator penting dalam penyebaran praktik baik di kawasan regional. Thailand juga disebut sedang menjalani proses serupa menuju keanggotaan OECD setelah menyerahkan memorandum awal, yang secara kolektif menandai peningkatan peran negara-negara ASEAN dalam arena tata kelola global yang lebih luas.
Faktor Penentu Kekuatan Negara dan Pentingnya Sistem Multilateral
Airlangga Hartarto menegaskan bahwa kekuatan sebuah negara ditentukan oleh empat pilar utama: ekonomi, militer, populasi, dan teknologi. Dalam konteks ini, kepemimpinan Indonesia sebagai negara non-blok dan kekuatan menengah menjadi sangat krusial dalam menjaga agar sistem multilateral tetap berfungsi dan relevan di tengah meningkatnya politik kekuatan. Keberlangsungan platform multilateral dianggap sebagai faktor kunci bagi stabilitas global dan menjadi kepentingan fundamental bagi komunitas internasional, termasuk dunia usaha yang sangat bergantung pada lingkungan bisnis yang stabil dan dapat diprediksi. Dengan memainkan peran aktif dalam menjaga integritas sistem multilateral, Indonesia tidak hanya berkontribusi pada perdamaian dan stabilitas global, tetapi juga menciptakan iklim yang kondusif bagi pertumbuhan ekonomi dan kemakmuran bersama.

















