Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan performa gemilang sepanjang tahun 2025 dengan membukukan surplus total mencapai USD 41,05 miliar, sebuah pencapaian yang memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional di tengah dinamika pasar global yang fluktuatif. Berdasarkan laporan resmi dari Kementerian Perdagangan (Kemendag), angka surplus ini mengalami kenaikan signifikan sebesar USD 9,72 miliar dibandingkan dengan capaian tahun 2024 yang bertengger di angka USD 31,33 miliar. Fenomena paling menarik dalam peta perdagangan internasional Indonesia tahun ini adalah pergeseran posisi mitra dagang penyumbang surplus terbesar, di mana Amerika Serikat (AS) secara resmi menggeser dominasi India yang selama bertahun-tahun menempati posisi puncak. Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa surplus perdagangan dengan Negeri Paman Sam tersebut menyentuh angka fantastis sebesar USD 18,11 miliar, atau setara dengan Rp 305,69 triliun jika dikonversikan dengan nilai tukar Rp 16.880 per dolar AS. Lonjakan ini didorong oleh peningkatan permintaan komoditas unggulan serta keberhasilan strategi diplomasi ekonomi yang agresif di bawah kepemimpinan nasional yang baru.
Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta Pusat, Menteri Perdagangan Budi Santoso, yang akrab disapa Busan, merinci bahwa dinamika perdagangan tahun 2025 menunjukkan perubahan struktural yang cukup signifikan. Jika pada periode-periode sebelumnya India selalu menjadi motor utama surplus Indonesia, kini negara tersebut harus puas berada di posisi kedua dengan kontribusi surplus sebesar USD 13,49 miliar atau sekitar Rp 227,71 triliun. Di urutan berikutnya, Filipina memberikan kontribusi surplus sebesar USD 8,42 miliar (Rp 142,12 triliun), disusul oleh Belanda dengan nilai USD 4,81 miliar (Rp 81,19 triliun), dan Vietnam yang menyumbangkan surplus sebesar USD 4,47 miliar (Rp 75,45 triliun). Secara kumulatif, nilai ekspor nonmigas Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai USD 269,84 miliar, tumbuh sebesar 7,66 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini mencerminkan daya saing produk manufaktur dan komoditas Indonesia yang tetap kuat di pasar internasional meskipun dibayangi oleh isu proteksionisme di beberapa negara mitra.
Meskipun Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar, China tetap mengukuhkan posisinya sebagai mitra dagang terbesar Indonesia secara keseluruhan (total trade). Nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan China pada tahun 2025 mencapai USD 67,04 miliar, mengalami peningkatan sebesar 6,85 persen dari tahun 2024 yang tercatat sebesar USD 62,74 miliar. Sementara itu, Amerika Serikat menempati posisi kedua mitra dagang terbesar dengan nilai total perdagangan mencapai USD 30,96 miliar, yang mencerminkan pertumbuhan tahunan (year-on-year) sebesar 16,66 persen. Di sisi lain, beberapa mitra tradisional lainnya justru mengalami koreksi; nilai perdagangan dengan India tercatat sebesar USD 18,32 miliar atau turun 10,09 persen, sementara Jepang di posisi keempat mencatat penurunan tajam sebesar 15,01 persen dengan nilai USD 17,61 miliar. Singapura, yang menempati peringkat kelima, menunjukkan tren positif dengan nilai perdagangan USD 13,70 miliar, tumbuh sebesar 12,24 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Diplomasi Ekonomi dan Lonjakan Ekspor Perhiasan ke Swiss
Peningkatan signifikan ekspor Indonesia ke pasar Amerika Serikat tidak lepas dari peran strategis diplomasi internasional yang dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa kemampuan negosiasi dan kiprah Presiden di panggung global memberikan dampak psikologis dan kepercayaan bagi para pelaku usaha internasional. Meskipun Indonesia masih menghadapi tantangan terkait tarif resiprokal dan berbagai kebijakan hambatan teknis, arus ekspor tetap mampu tumbuh secara konsisten. Diplomasi ini dianggap krusial dalam menjaga akses pasar bagi produk-produk Indonesia di tengah kebijakan perdagangan AS yang cenderung lebih selektif. Sinergi antara kebijakan luar negeri yang aktif dan penguatan industri dalam negeri menjadi kunci utama mengapa produk Indonesia mampu menembus pasar negara maju dengan volume yang lebih besar dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Selain pasar Amerika Serikat, lonjakan ekspor yang paling fenomenal terjadi pada pasar Swiss. Kemendag mencatat bahwa ekspor Indonesia ke Swiss meroket hingga 225 persen sepanjang tahun 2025, melonjak dari nilai USD 1,5 miliar pada tahun 2024 menjadi USD 4,9 miliar. Pendorong utama dari kenaikan luar biasa ini adalah komoditas perhiasan dan permata yang mendominasi hampir 92 persen dari total ekspor ke negara tersebut. Kenaikan harga emas dunia serta peningkatan standar kualitas perhiasan buatan Indonesia membuat produk-produk ini sangat diminati di pasar Eropa Barat. Selain Swiss, beberapa negara lain juga mencatatkan pertumbuhan ekspor yang impresif, antara lain Singapura yang tumbuh 31,40 persen, Uni Emirat Arab sebesar 31,28 persen, Thailand sebesar 28,82 persen, dan Bangladesh yang meningkat 28,27 persen. Secara kewilayahan, pertumbuhan ekspor nonmigas tertinggi tercatat menuju Asia Tengah (naik 59,39 persen), Afrika Barat (naik 56,66 persen), dan Eropa Barat (naik 43,95 persen), menunjukkan keberhasilan diversifikasi pasar yang selama ini diupayakan pemerintah.
Keberhasilan Advokasi Perdagangan dan Tantangan Global 2026
Di balik angka-angka pertumbuhan ekspor tersebut, Indonesia juga mencatatkan kemenangan penting di meja hijau perdagangan internasional. Sepanjang tahun 2025, pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berhasil memenangkan sederet kasus sengketa dagang global yang berpotensi menghambat akses pasar. Total nilai akses pasar yang berhasil diselamatkan mencapai USD 437,34 juta atau setara dengan Rp 7,38 triliun. Salah satu kemenangan yang paling krusial adalah kasus DS593 yang melibatkan Uni Eropa terkait kebijakan diskriminatif terhadap produk minyak sawit (palm oil) dan biofuel berbasis tanaman pangan. Selain itu, Indonesia juga memenangkan sengketa anti-dumping produk baja tahan karat (Cold Rolled Stainless Flat Steel Products) di Turki senilai USD 60,11 juta, serta kasus serupa untuk produk kertas di Pakistan dengan nilai penyelamatan USD 57,23 juta.
Daftar kemenangan ini terus berlanjut dengan keberhasilan menggagalkan kebijakan safeguard produk baja di India senilai USD 44,31 juta dan hambatan teknis perdagangan (Quality Control Order) untuk produk serat viscose (VSF) senilai USD 110,72 juta. Di Malaysia, Indonesia berhasil memenangkan kasus anti-dumping untuk produk semen serat selulosa senilai USD 2,61 juta dan produk kawat baja (Steel Wire Rods) senilai USD 106,23 juta. Tak ketinggalan, kemenangan di Australia terkait produk kaca (Clear Float Glass) dan produk besi beton (Rebar) di negara mitra lainnya turut memperkuat posisi tawar eksportir nasional. Budi Santoso menekankan bahwa kemenangan-kemenangan ini sangat penting untuk memastikan bahwa produk Indonesia tidak diperlakukan secara tidak adil di pasar global melalui instrumen-instrumen hambatan perdagangan yang seringkali bersifat proteksionis.
Namun demikian, tantangan di masa depan tetap besar. Memasuki Januari 2026, pemerintah mencatat masih terdapat 33 kasus hambatan perdagangan yang menjerat berbagai produk unggulan Indonesia di 13 negara mitra. Hambatan ini mencakup penyelidikan dugaan dumping dan subsidi yang dilakukan oleh Amerika Serikat terhadap produk sel surya (crystalline silicon photovoltaic cells) dan kayu lapis dekoratif (hardwood decorative plywood). Selain itu, Afrika Selatan juga tengah menerapkan kebijakan safeguard untuk produk baja serta menyelidiki dugaan dumping pada produk gypsum plasterboard asal Indonesia. Negara-negara lain seperti Brasil, Kanada, Uni Eropa, hingga Vietnam juga masih memiliki daftar investigasi aktif terhadap produk Indonesia. Menteri Perdagangan menegaskan bahwa fenomena ini adalah hal yang wajar dalam perdagangan internasional yang kompetitif, dan pemerintah berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan hukum serta advokasi bagi para eksportir guna mempertahankan surplus neraca perdagangan di tahun-tahun mendatang.

















