Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, memanfaatkan panggung prestisius World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, untuk memaparkan visi besar transformatif nasional melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di hadapan para pemimpin dunia, CEO korporasi global, dan pakar ekonomi internasional, Presiden Prabowo menegaskan bahwa inisiatif MBG bukan sekadar kebijakan bantuan sosial konvensional, melainkan sebuah instrumen strategis ganda yang dirancang untuk memperkuat fondasi kualitas sumber daya manusia sekaligus menjadi mesin penggerak roda ekonomi nasional yang masif. Dalam pidatonya pada Kamis, 22 Januari 2026, ia menekankan bahwa investasi pada gizi anak-anak adalah investasi jangka panjang yang akan menentukan daya saing bangsa di masa depan, sembari memberikan stimulus instan bagi sektor riil di tingkat akar rumput.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo menguraikan secara mendalam bagaimana ekosistem MBG telah mengintegrasikan berbagai lapisan pelaku usaha ke dalam satu rantai pasok yang solid dan berkelanjutan. Berdasarkan data yang dipaparkannya, terdapat lebih dari 61.000 entitas yang terlibat aktif, mulai dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) hingga perusahaan-perusahaan besar yang berperan sebagai penyedia bahan baku dan pendukung logistik. Keterlibatan puluhan ribu unit usaha ini menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang luar biasa bagi perekonomian lokal di berbagai daerah. Prabowo mengungkapkan bahwa pemerintah telah berhasil menciptakan lebih dari 600.000 lapangan pekerjaan baru yang terkonsentrasi langsung pada unit-unit dapur atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Angka ini mencerminkan penyerapan tenaga kerja yang signifikan dalam waktu singkat, memberikan penghidupan baru bagi masyarakat di sekitar lokasi pelayanan gizi tersebut.
Transformasi Ekonomi Melalui Skala Produksi Massal dan Penyerapan Tenaga Kerja
Optimisme Presiden Prabowo terhadap potensi ekonomi program ini tidak berhenti pada angka saat ini. Ia memproyeksikan bahwa pada masa puncak implementasinya, program Makan Bergizi Gratis akan mampu menyerap hingga 1,5 juta tenaga kerja secara langsung di seluruh pelosok Indonesia. Jika dikombinasikan dengan ekosistem pendukungnya, seperti vendor, pemasok bahan pangan dari sektor pertanian, peternakan, hingga jasa distribusi, Presiden meyakini akan ada lebih dari satu juta tambahan penghidupan yang dirangkul dan ditingkatkan taraf hidupnya. Struktur ekonomi baru ini diharapkan mampu menggerakkan kemandirian pangan di tingkat desa, di mana hasil bumi petani lokal diserap langsung oleh unit-unit dapur terdekat untuk diolah menjadi sajian bergizi bagi anak-anak sekolah dan kelompok rentan lainnya.
Strategi pendanaan program ini juga menjadi sorotan dalam pidato tersebut. Presiden Prabowo secara tegas mengklaim bahwa pemerintahannya telah melakukan reformasi birokrasi dan anggaran yang ketat dengan menghentikan berbagai program yang dinilai tidak efisien, tumpang tindih, atau tidak memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat. Pengalihan dana dari pos-pos anggaran yang tidak produktif tersebut dialokasikan secara penuh untuk proyek MBG yang dimulai secara resmi pada 6 Januari 2025. Program ini memiliki cakupan penerima manfaat yang luas dan spesifik, meliputi ibu hamil untuk mencegah stunting sejak dalam kandungan, ibu menyusui, balita, hingga seluruh anak-anak sekolah di Indonesia, guna memastikan pertumbuhan fisik dan kecerdasan kognitif mereka terjaga secara optimal.
Melampaui Raksasa Global: Perbandingan Signifikan dengan Skala Operasional McDonald’s
Salah satu poin paling mencolok dalam pidato Presiden Prabowo di Davos adalah keberaniannya membandingkan skala operasional program MBG dengan raksasa industri makanan cepat saji dunia, McDonald’s. Presiden memaparkan data bahwa pada hari pertama peluncurannya, Indonesia telah mengoperasikan 190 dapur penyedia atau SPPG yang mampu menjangkau sekitar 570.000 penerima manfaat. Namun, angka tersebut melonjak drastis dalam waktu singkat. Hingga malam sebelum pidatonya disampaikan, total produksi telah mencapai 59,8 juta porsi makanan yang didistribusikan setiap hari kepada anak-anak, ibu, dan warga lanjut usia yang tinggal sendirian. Volume produksi harian ini hampir mendekati rekor dunia yang dipegang oleh McDonald’s, yang secara global melayani sekitar 68 juta pelanggan setiap harinya.
Presiden Prabowo dengan penuh keyakinan menyatakan bahwa dalam kurun waktu sekitar satu bulan ke depan, kapasitas produksi harian MBG di Indonesia akan melampaui angka 68 juta porsi milik McDonald’s. Perbandingan ini digunakan untuk memberikan konteks kepada audiens internasional mengenai betapa masifnya logistik dan manajemen rantai pasok yang sedang dijalankan oleh pemerintah Indonesia. Prabowo juga memberikan catatan sejarah bahwa McDonald’s membutuhkan waktu puluhan tahun sejak memulai dapur pertamanya pada era 1940-an untuk mencapai skala global saat ini. Sebaliknya, Indonesia menargetkan untuk mencapai angka produksi 82,9 juta porsi per hari dalam kurun waktu kurang dari dua tahun sejak program dimulai.
Target ambisius untuk menyajikan 82,9 juta porsi makanan setiap hari dipatok untuk tercapai pada akhir Desember 2026. Namun, Presiden Prabowo mengungkapkan adanya dorongan internal yang kuat dari tim pelaksananya yang merasa optimis bahwa angka tersebut dapat diraih lebih cepat dari jadwal semula. “Orang-orang saya mengatakan, ‘Tidak, Pak, kita akan mencapai 82,9 juta sebelum Desember’,” ujar Prabowo, menirukan semangat para pelaksana di lapangan. Keberhasilan program ini diharapkan menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan yang berorientasi pada hasil dapat mengubah wajah sebuah bangsa, memastikan tidak ada rakyat yang tertinggal dalam pemenuhan kebutuhan dasar gizi, dan pada akhirnya menciptakan masyarakat yang lebih sehat, cerdas, dan produktif demi masa depan Indonesia yang lebih cerah.
Melalui narasi ini, Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisinya sebagai pemimpin yang bekerja keras demi senyum rakyatnya. Dengan mengintegrasikan kebijakan sosial ke dalam kerangka pertumbuhan ekonomi makro, program Makan Bergizi Gratis diposisikan sebagai “game changer” dalam lanskap pembangunan nasional. Kehadiran program ini di panggung dunia seperti WEF bertujuan untuk menarik perhatian investor dan mitra internasional bahwa Indonesia sedang membangun fondasi manusia yang kuat, yang merupakan prasyarat utama bagi stabilitas ekonomi dan politik jangka panjang di kawasan Asia Tenggara dan dunia.
| Indikator Program MBG | Capaian / Target |
|---|---|
| Jumlah UMKM & Vendor Terlibat | > 61.000 Unit |
| Lapangan Kerja Langsung (Dapur) | 600.000 (Saat Ini) / 1,5 Juta (Puncak) |
| Produksi Harian Saat Ini | 59,8 Juta Porsi |
| Target Produksi Akhir 2026 | 82,9 Juta Porsi |
| Jumlah Dapur Awal (SPPG) | 190 Unit |


















