Lonjakan harga emas global yang menembus rekor historis di angka USD 5.000 per troy ons telah memicu gelombang minat yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap logam mulia ini, baik di pasar internasional maupun domestik Indonesia. Fenomena ini mendorong harga emas batangan di Tanah Air melampaui angka Rp 3.000.000 per gram, menjadikannya aset yang semakin menarik perhatian sebagai instrumen lindung nilai (hedging) dan sarana investasi jangka panjang. Pertanyaan krusial yang muncul adalah: apakah tren kenaikan ini akan berlanjut, dan bagaimana masyarakat sebaiknya menyikapi euforia investasi emas di tengah rekor harga ini?
Proyeksi Kenaikan Harga Emas: Peluang Jangka Panjang dan Perubahan Perilaku Investor
Para pengamat pasar keuangan memproyeksikan bahwa tren penguatan harga emas diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang. Ibrahim Assuabi, seorang Pengamat Pasar Uang, secara optimis memperkirakan harga emas domestik, khususnya emas Antam, berpotensi menembus angka Rp 4,2 juta per gram pada tahun 2026. Prediksi ini didukung oleh meningkatnya literasi keuangan masyarakat dan kemudahan akses terhadap instrumen investasi emas. “Masyarakat sudah melek teknologi dan bergegas beli logam mulia baik fisik maupun emas digital di bullion bank yaitu BSI dan pegadaian,” ujar Ibrahim kepada media, menyoroti pergeseran preferensi konsumen ke arah solusi digital.
Peningkatan literasi keuangan dan kemudahan akses pembelian emas secara digital memang menjadi katalisator utama percepatan arus permintaan. Masyarakat kini tidak lagi terbatas pada pembelian emas fisik semata. Mereka secara aktif memanfaatkan layanan emas digital yang ditawarkan oleh perbankan syariah dan lembaga keuangan lainnya. Inovasi ini tidak hanya menyederhanakan proses transaksi, tetapi juga membuka pintu bagi segmen pasar yang lebih luas untuk berinvestasi dalam emas, termasuk mereka yang sebelumnya enggan karena kendala akses atau modal awal yang besar.
Dari perspektif global, Joseph Cavatoni, Senior Markets Strategist & Head of Public Policy (Americas) World Gold Council, memberikan pandangan yang lebih mendalam mengenai akar penyebab lonjakan harga emas. Ia menegaskan bahwa kenaikan harga yang menembus USD 5.000 per troy ons bukanlah sekadar fenomena spekulatif. Sebaliknya, ini mencerminkan perubahan fundamental dalam perilaku investor global yang tengah bereaksi terhadap tingginya ketidakpastian geopolitik dan ekonomi. Cavatoni menjelaskan bahwa lonjakan ini mengindikasikan adanya reposisi strategis investor. Banyak investor yang sebelumnya memiliki alokasi emas yang relatif rendah kini kembali menempatkan emas sebagai instrumen utama untuk memperkuat ketahanan portofolio mereka. Data yang menunjukkan lonjakan harga emas lebih dari USD 500 dalam 30 hari terakhir saja menegaskan betapa cepatnya sentimen pasar dapat bergeser.
Cavatoni lebih lanjut mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat menjadi risiko terbesar bagi kelanjutan penguatan harga emas. “Risiko terbesar bagi emas adalah membaiknya sentimen risiko global secara signifikan, terutama jika pertumbuhan ekonomi menguat tanpa disertai ketegangan geopolitik,” jelasnya. Jika terjadi kepastian jalur pertumbuhan ekonomi global, berkurangnya ketegangan geopolitik, dan pulihnya kepercayaan terhadap koordinasi kebijakan antarnegara, maka urgensi untuk memiliki aset defensif seperti emas dapat berkurang. Namun, selama ketidakpastian global, dinamika kebijakan yang disruptif, serta kebutuhan diversifikasi portofolio masih menjadi perhatian utama, emas diprediksi akan tetap bertahan di level harga tinggi hingga tahun 2026, bahkan terus menguji rekor-rekor baru.
Menyikapi Euforia Emas: Antara Peluang dan Risiko FOMO
Di tengah euforia kenaikan harga emas, fenomena fear of missing out (FOMO) atau ketakutan ketinggalan momen mulai merebak di kalangan masyarakat Indonesia. Mike Rini, seorang Perencana Keuangan, mengingatkan agar fenomena ini disikapi dengan hati-hati, terutama bagi investor ritel yang mungkin tergoda untuk berinvestasi tanpa perencanaan keuangan yang matang. Menurut Mike, membeli emas saat harganya berada di level tertinggi bukanlah pilihan ideal jika tujuan utama adalah mengejar keuntungan jangka pendek dari selisih harga jual dan beli. Ia menekankan bahwa emas, meskipun cenderung menguat dalam jangka panjang, bersifat fluktuatif dan berpotensi mengalami koreksi setelah mencapai level tertinggi.
Meskipun demikian, Mike Rini menegaskan bahwa emas tetap relevan sebagai instrumen diversifikasi dan perlindungan nilai dalam jangka menengah hingga panjang. “Jadi, membeli emas saat ini masih bisa menguntungkan jika, ini hanya jika ya, jika tujuannya sebagai bagian dari strategi alokasi aset yang seimbang,” ujarnya. Ia memberikan contoh bahwa pembelian emas masih dapat dianggap logis apabila ditujukan untuk tujuan jangka panjang seperti dana pendidikan anak atau sebagai benteng perlindungan nilai terhadap laju inflasi. Dalam konteks investasi jangka panjang seperti ini, fluktuasi harga jangka pendek tidak menjadi risiko utama karena horizon investasi yang panjang memberikan ruang untuk pemulihan dan pertumbuhan.
Sebaliknya, Mike Rini menyoroti risiko tinggi yang melekat pada pembelian emas dalam jumlah besar untuk tujuan spekulasi jangka pendek, terutama jika dilakukan ketika harga sudah berada di puncak. Risiko utama yang dihadapi oleh masyarakat yang baru masuk ke pasar emas di tengah harga tinggi adalah timing risk, yaitu risiko salah waktu masuk pasar. Upaya untuk menebak waktu terbaik masuk dan keluar pasar seringkali berujung pada kerugian, terutama ketika keputusan investasi didorong oleh emosi FOMO tanpa mempertimbangkan tujuan keuangan pribadi dan profil risiko masing-masing individu. “Jadi, jangan overconfidence bahwa ketika melihat statistik harganya naik terus, kita tunggu-tunggu sampai tinggi, masih ragu-ragu, begitu sudah ketinggian, mulai panik beli, takut ketinggalan, baru yakinnya sekarang. Itu timing market, mencoba untuk masuk ke market pada harga yang paling tepat,” tegas Mike.
Senada dengan itu, Perencana Keuangan Andy Nugroho berpendapat bahwa membeli emas di fase harga tinggi masih berpotensi memberikan keuntungan, terutama jika mempertimbangkan kondisi geopolitik dan ekonomi global yang semakin tidak menentu. “Membeli emas di fase ini masih berpotensi untuk mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga jual kembalinya, mengingat kondisi geopolitik dan ekonomi global yang justru semakin tidak menentu sehingga dapat mendorong harga emas untuk terus naik,” jelas Andy. Ia mengakui adanya risiko bahwa harga emas bisa terkoreksi saat hendak dijual kembali, namun karakteristik emas sebagai aset lindung nilai membuat potensi kerugian tersebut dinilai tidak terlalu fatal dalam jangka panjang.
Terkait dengan waktu pembelian, Andy Nugroho menekankan prinsip dasar investasi yang fundamental: waktu terbaik untuk memulai investasi adalah secepat mungkin. “Salah satu prinsip berinvestasi adalah waktu yang tepat untuk mulai berinvestasi adalah kemarin. Apabila kemarin kita belum berinvestasi maka waktu yang tepat memulainya adalah hari ini,” tuturnya. Dalam kondisi FOMO seperti saat ini, Andy menyarankan agar masyarakat menyesuaikan strategi pembelian dengan kemampuan finansial masing-masing. Pembelian langsung dalam jumlah besar memang berpotensi memberikan keuntungan lebih besar saat harga naik, namun juga membawa risiko kerugian yang lebih besar jika terjadi koreksi harga. Sebaliknya, pembelian secara bertahap, melalui cicilan emas yang ditawarkan oleh bank syariah, marketplace, atau aplikasi investasi, dinilai lebih terjangkau dan dapat secara efektif mengurangi risiko volatilitas harga.

















