Denpasar, Bali – Suasana Pasar Badung, jantung perekonomian tradisional Kota Denpasar, mendadak berdenyut lebih kencang pada Jumat (13/2) pagi. Bukan sekadar hiruk pikuk transaksi harian, melainkan persiapan ketat yang mengindikasikan kehadiran sosok penting. Wakil Presiden Republik Indonesia (Wapres RI) Gibran Rakabuming Raka tiba untuk sebuah kunjungan kerja (kunker) blusukan, sebuah tradisi untuk meninjau langsung denyut nadi ekonomi rakyat. Kedatangan Gibran ini bertujuan untuk memastikan stabilitas harga kebutuhan pokok, menyerap aspirasi para pedagang, mengevaluasi efektivitas program subsidi pemerintah, serta mendorong digitalisasi pasar tradisional demi menjaga daya beli masyarakat dan menekan inflasi yang menjadi perhatian nasional. Momen ini menjadi sorotan, di mana Gibran berinteraksi langsung dengan pedagang, mendengar keluhan tentang kenaikan harga, dan memberikan arahan strategis kepada pemerintah daerah untuk respons yang lebih cepat dan merata.
Sejak dini hari, pengamanan ekstra ketat telah terlihat di sekitar Pasar Badung, menandakan agenda penting yang akan berlangsung. Wali Kota Denpasar, I Gusti Ngurah Jaya Negara, hadir lebih awal untuk memastikan segala kesiapan berjalan lancar menjelang kedatangan tamu negara. Tak lama berselang, Gubernur Bali, Wayan Koster, turut menyusul, melengkapi jajaran pejabat daerah yang siap menyambut. Tepat pukul 07.45 WITA, iring-iringan kendaraan rombongan Wapres tiba, dan Gibran Rakabuming Raka turun dari mobil Toyota Kijang Innova Zenix Hybrid putih berplat nomor B 1355 ZZR. Sambutan hangat langsung diberikan oleh Gubernur Koster dan Wali Kota Jaya Negara, menandai dimulainya agenda blusukan yang dinanti. Tanpa membuang waktu, Wapres Gibran langsung melangkah masuk ke lorong-lorong pasar, menunjukkan komitmennya untuk berinteraksi langsung dengan rakyat. Di tengah keramaian, seorang pedagang cabai dengan sigap menyampaikan keluhannya. “Apa Bu yang naik?” tanya Gibran, memulai dialog yang menjadi inti dari kunjungannya.
Respon pedagang itu lugas dan langsung menusuk ke inti permasalahan yang dihadapi banyak rumah tangga: “Naik cabainya Rp 85 ribu sekarang.” Keluhan ini bukan tanpa dasar. Dari data yang dihimpun, harga cabai rawit di Pasar Badung memang mengalami kenaikan signifikan, dari semula Rp 70 ribu per kilogram (kg) melambung menjadi Rp 85 ribu per kg. Meskipun demikian, pemerintah telah berupaya meredam kenaikan ini dengan memberikan subsidi sebesar Rp 3.000 per kg, sehingga harga jual kepada konsumen dapat ditekan menjadi Rp 82 ribu per kg. Gibran menanggapi keluhan ini dengan serius, kemudian mengalihkan perhatiannya kepada Wali Kota Jaya Negara, menanyakan langkah-langkah konkret yang telah diambil pemerintah kota untuk menanggulangi gejolak harga tersebut. Jaya Negara menjelaskan bahwa subsidi saat ini memang difokuskan pada cabai, mengingat komoditas ini menjadi penyumbang utama kenaikan harga. Setelah dari los sembako, Gibran melanjutkan peninjauannya ke los daging ayam dan daging sapi. Di setiap lapak yang disinggahi, ia dengan seksama mendengarkan setiap keluhan dan harapan para pedagang mengenai kondisi harga sembako saat ini. Harga daging ayam, misalnya, juga menunjukkan tren kenaikan, dari Rp 38 ribu menjadi Rp 43 ribu per kg. Beruntungnya, harga daging sapi terpantau stabil di kisaran Rp 110 ribu hingga Rp 120 ribu per kg. Sementara itu, harga bawang merah naik dari Rp 28 ribu menjadi Rp 30 ribu per kg. Untuk komoditas vital lainnya, Minyakita terpantau berada pada Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter, dan harga beras berkisar antara Rp 15 ribu hingga Rp 16 ribu per kg. Di tengah kesibukannya, Gibran tak lupa melayani permintaan swafoto dari pedagang dan pengunjung pasar, menunjukkan keramahan yang disambut antusias. “Senang ketemu bapak Wapres langsung. Terima kasih sudah datang ke pasar melihat rakyat di bawah. Semoga ke depannya lebih bagus,” ujar Made Suarti dengan ekspresi semringah, meskipun ia juga mengeluhkan penurunan pembeli daging sapi akibat faktor musim hujan.
Seorang pedagang sembako bernama Erawati turut merasakan kebahagiaan saat lapaknya didatangi langsung oleh Wapres Gibran. Ia pun tak ragu menyampaikan keluhannya terkait kenaikan harga cabai rawit dari Rp 70 ribu menjadi Rp 83 ribu. Erawati menjelaskan bahwa subsidi Rp 3 ribu per kilogram dari Pemerintah Kota Denpasar sangat membantu, sehingga harga jual cabai rawit yang semula Rp 85 ribu dapat diturunkan menjadi Rp 82 ribu. Menariknya, Gibran juga sempat berbelanja di lapak Erawati. “Ada (Wapres belanja). Beli bawang merah, bawang putih dan cabai rawit. Saya diberi amplop, lalu saya beri setengah kilo (bawang merah), setengah kilo (bawang putih), setengah kilo (cabai rawit),” cerita Erawati dengan senyum sumringah, sebuah momen personal yang jarang terjadi dalam kunjungan pejabat tinggi. Erawati juga memberikan detail mengenai mekanisme subsidi, yang ternyata dilakukan setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat, dengan fokus pada komoditas yang mengalami kenaikan signifikan. “Beda-beda biasanya. Kalau misalnya harga bawang yang naik, bawang yang disubsidi. Kalau cabai yang naik, cabai yang disubsidi,” ungkapnya, menunjukkan fleksibilitas program subsidi Pemkot Denpasar yang responsif terhadap dinamika pasar. Sekitar pukul 08.20 WITA, tanpa memberikan keterangan pers kepada awak media, Wapres Gibran bersama rombongan meninggalkan Pasar Badung untuk melanjutkan agenda kunjungan kerja berikutnya, yaitu bertemu dengan pelaku usaha pariwisata di Politeknik Pariwisata Bali.
Kebijakan Subsidi dan Tantangan Inflasi Daerah
Meskipun kunjungan Gibran singkat, dampaknya terasa signifikan. Wali Kota Denpasar, IGN Jaya Negara, mengungkapkan bahwa langkah Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar dalam menjaga inflasi dengan memberikan subsidi sebesar Rp 3 ribu per kg kepada pedagang cabai mendapatkan apresiasi dari Wapres Gibran. Namun, Gibran juga memberikan catatan penting: ia meminta agar jangkauan subsidi ini diperluas agar lebih merata. “Beliau meminta subsidi yang diberikan itu biar merata. Kalau merata Unit Sukajaya tidak mampu. Tapi sekarang kita perhatikan ada dua hal di sana, nanti kita keliling, gantian nanti yang diberikan (subsidi). Sekarang setiap 10 pedagang kita berikan, ini demi menjaga inflasi di Kota Denpasar, di mana inflasi kita tembus 3,6 persen secara tahunan,” jelas Jaya Negara. Angka inflasi 3,6 persen tersebut, menurut Jaya Negara, masih tergolong tinggi, berada di atas rata-rata inflasi nasional yang berada di angka 3,5 persen. Oleh karena itu, langkah-langkah seperti pemberian subsidi kepada pedagang di pasar tradisional diharapkan dapat menjadi instrumen efektif untuk menekan laju inflasi. Ida Bagus Kompyang Wiranata, Direktur Utama Perumda Pasar Sewakadarma Kota Denpasar, memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai arahan Wapres. “Beliau (Wapres Gibran) berpesan hanya masalah subsidi saja yang beliau tekankan. Sama masalah pemeliharaan pasar,” ujarnya. Kompyang Wiranata menambahkan bahwa program subsidi dilakukan setiap pekan, dengan memilih komoditas yang harganya sedang bergejolak, seperti cabai saat ini. Untuk mendukung program ini, anggaran sebesar Rp 500 juta

















