PANGKALPINANG, BANGKA BELITUNG – Dalam langkah strategis yang diharapkan akan merevolusi tata kelola industri timah nasional, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia telah mengumumkan rencana penetapan Harga Pokok Minimum (HPM) untuk mineral timah. Kebijakan fundamental ini dirancang untuk menciptakan stabilitas harga yang komprehensif, mencakup seluruh rantai pasok mulai dari sektor hulu, yaitu penambangan dan pengumpulan bijih timah, hingga ke sektor hilir, yang meliputi pengolahan, peleburan, dan distribusi produk timah. Penetapan HPM ini menjadi krusial untuk melindungi para pelaku usaha di tingkat paling dasar, khususnya para penambang rakyat dan pengumpul bijih timah, dari praktik-praktik pembelian dengan harga yang tidak adil atau terlalu rendah yang kerap terjadi di pasar komoditas yang fluktuatif.
Menteri Bahlil secara tegas menyatakan bahwa penetapan HPM dalam industri timah adalah sebuah keharusan untuk memastikan transparansi dan keadilan ekonomi. “Untuk menjaga harga timah kita membaik dan supaya rakyat tidak dibohongi dengan pasir timah yang dibeli murah, maka saya sebagai menteri ESDM akan mengeluarkan yang namanya HPM atau Harga Pokok Minimum untuk timah,” ujar Bahlil dengan nada lugas. Pernyataan penting ini disampaikan dalam sebuah forum resmi yang dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan, yakni saat memberikan sambutan dalam kegiatan Pelantikan Pengurus DPD I Golkar Bangka Belitung. Acara tersebut berlangsung di Aston Emidary Pangkalpinang pada hari Ahad, 25 Januari 2026. Tanggal ini menandai sebuah komitmen pemerintah untuk mengatasi permasalahan kronis dalam rantai nilai timah, yang selama ini seringkali merugikan masyarakat lokal yang bergantung pada sektor pertambangan.
Bahlil menyoroti dinamika yang sangat kompleks dan seringkali bergejolak dalam industri timah saat ini. Fluktuasi harga global, tantangan penambangan ilegal, isu lingkungan, serta disparitas harga di tingkat produsen dan konsumen menjadi beberapa faktor yang menciptakan ketidakpastian. Oleh karena itu, ia menekankan perlunya “perbaikan dan penataan ulang” yang mendalam terhadap seluruh ekosistem industri ini. Tujuan utama dari restrukturisasi ini adalah untuk mengoptimalkan produksi timah nasional, memastikan bahwa sumber daya alam yang melimpah ini dapat dimanfaatkan secara efisien dan berkelanjutan. Lebih dari itu, inisiatif ini juga bertujuan untuk secara signifikan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Bangka Belitung, yang sebagian besar ekonominya sangat bergantung pada sektor pertambangan timah. Penataan ulang ini diharapkan dapat menciptakan sistem yang lebih adil, transparan, dan memberikan nilai tambah maksimal bagi daerah penghasil.
Menata Ulang Industri Timah untuk Kesejahteraan Berkelanjutan
Visi Menteri Bahlil untuk industri timah tidak hanya terbatas pada stabilisasi harga, tetapi juga mencakup penciptaan ekosistem yang kondusif bagi semua pihak. Ia mengungkapkan bahwa komunikasi intensif telah dilakukan dengan Komisi XII DPR RI, sebuah langkah krusial dalam proses legislasi dan harmonisasi kebijakan. Meskipun Komisi XII DPR RI secara tradisional lebih berfokus pada bidang Keuangan, Perencanaan Pembangunan Nasional, Perbankan, dan Lembaga Keuangan Bukan Bank, keterlibatan mereka dalam pembahasan regulasi timah menunjukkan pendekatan lintas sektor yang komprehensif. Tujuan dari komunikasi ini adalah untuk “memantapkan regulasi” yang akan datang, memastikan bahwa kerangka hukum yang baru mampu mengakomodasi kepentingan berbagai pihak secara seimbang. Regulasi yang kuat dan jelas diharapkan dapat menarik investor berkualitas yang berkomitmen pada praktik pertambangan yang bertanggung jawab, sekaligus melindungi hak-hak dan kesejahteraan masyarakat lokal. Pada saat yang sama, pemerintah pusat juga akan merasakan manfaat melalui peningkatan pendapatan negara dari sektor timah. Dengan demikian, Bahlil menegaskan bahwa kebijakan ini dirancang untuk menciptakan situasi “win-win” di mana investor, rakyat, dan negara sama-sama mendapatkan keuntungan optimal dari pengelolaan sumber daya timah.
Implementasi HPM timah diproyeksikan akan membawa dampak positif yang berlapis. Bagi para investor, penetapan harga dasar ini akan mengurangi risiko kerugian akibat anjloknya harga komoditas di pasar internasional, memberikan kepastian investasi jangka panjang, dan mendorong mereka untuk berinvestasi dalam teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Bagi masyarakat, khususnya para penambang skala kecil dan pekerja tambang, HPM akan menjamin pendapatan yang lebih stabil dan layak, mengurangi praktik eksploitasi, serta meningkatkan kualitas hidup mereka. Hal ini juga berpotensi mengurangi praktik penambangan ilegal yang seringkali didorong oleh kebutuhan ekonomi mendesak dan harga jual yang tidak menentu. Sementara itu, bagi negara, HPM akan memastikan penerimaan pajak dan royalti yang lebih konsisten, memungkinkan pemerintah untuk mengalokasikan dana tersebut untuk pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan layanan publik lainnya di daerah penghasil timah, khususnya Bangka Belitung. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah untuk memperkuat kedaulatan atas sumber daya mineral strategis.
Dukungan Pusat Kunci Optimalisasi Potensi Daerah
Dari perspektif daerah, Gubernur Bangka Belitung, Hidayat Arsani, menyampaikan apresiasi sekaligus harapan besar terhadap inisiatif pemerintah pusat. Ia secara eksplisit menyatakan kebutuhan mendesak akan dukungan dan bantuan dari pemerintah pusat dalam mengoptimalkan potensi sumber daya alam timah yang melimpah di wilayahnya. Pengelolaan timah yang baik dan bertanggung jawab, menurut Gubernur Arsani, adalah kunci agar hasilnya dapat dirasakan secara merata oleh seluruh lapisan masyarakat Bangka Belitung. Gubernur menggunakan analogi yang kuat untuk menggambarkan kondisi dan harapannya: “Ibaratnya saya ini diamanahkan sebagai pilot yang membawa pesawat besar dengan penumpang yang banyak. Tapi bahan bakar kita cuma bisa sekali terbang.” Analogi ini secara gamblang mengilustrasikan keterbatasan kapasitas dan sumber daya yang dimiliki pemerintah provinsi dalam mengelola sektor timah yang kompleks dan berisiko tinggi tanpa dukungan substansial dari pemerintah pusat. Pesawat besar dengan banyak penumpang melambangkan potensi besar timah dan jumlah masyarakat yang bergantung padanya, sementara bahan bakar yang hanya cukup untuk sekali terbang merefleksikan keterbatasan anggaran, teknologi, dan kewenangan yang dimiliki pemerintah daerah. Oleh karena itu, Gubernur Arsani sangat mengharapkan dukungan penuh dari pemerintah pusat, terutama Kementerian ESDM, dalam membantu pengelolaan timah untuk mencapai kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.
Dukungan yang diharapkan dari pemerintah pusat mencakup berbagai aspek, mulai dari bantuan teknis dalam eksplorasi dan eksploitasi yang lebih efisien, penguatan kapasitas pengawasan dan penegakan hukum terhadap praktik penambangan ilegal, hingga fasilitasi investasi dalam teknologi pengolahan timah yang lebih maju untuk meningkatkan nilai tambah produk. Selain itu, dukungan dalam pengembangan infrastruktur pendukung, program diversifikasi ekonomi bagi masyarakat pasca-tambang, dan inisiatif konservasi lingkungan juga sangat dibutuhkan. Kemitraan yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah ini akan menjadi fondasi bagi pengelolaan timah yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan. Dengan adanya HPM dan regulasi yang lebih baik, serta dukungan penuh dari pusat, Bangka Belitung dapat melangkah maju menuju masa depan yang lebih cerah, di mana kekayaan timah benar-benar menjadi berkah bagi seluruh warganya.
Langkah Menteri Bahlil Lahadalia untuk menetapkan HPM timah, didukung oleh komitmen untuk menata ulang industri dan mendapatkan dukungan legislatif, merupakan upaya fundamental untuk menciptakan stabilitas dan keadilan dalam salah satu sektor ekonomi terpenting Indonesia. Kebijakan ini tidak hanya akan melindungi penambang kecil dari eksploitasi, tetapi juga akan membentuk fondasi bagi pertumbuhan industri timah yang lebih berkelanjutan, transparan, dan memberikan manfaat maksimal bagi semua pemangku kepentingan, dari investor hingga masyarakat lokal di Bangka Belitung.
Pilihan Editor: Apa Hambatan Produksi Minyak 2026


















