Dalam lanskap investasi yang dinamis, pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) senantiasa menjadi sorotan utama para pelaku pasar. Proyeksi optimis kini mengemuka, dengan indikasi kuat bahwa IHSG berpotensi menorehkan rekor tertinggi sepanjang 12 bulan mendatang. Analis pasar modal terkemuka, Hans Kwee, selaku Co-Founder PasarDana, memberikan pandangannya yang mendalam mengenai potensi ini, menyoroti pergeseran fokus investor asing yang mulai mengalihkan perhatiannya dari instrumen pendapatan tetap ke pasar saham Indonesia.
Hans Kwee menguraikan bahwa fenomena ini mengindikasikan adanya potensi capital inflow yang signifikan ke dalam pasar saham domestik. Namun, ia juga mengantisipasi kemungkinan terjadinya outflow dari pasar obligasi. “Nah, ini potensi pasar saham. Ini potensi capital inflow di pasar saham. Tapi mungkin bisa outflow di obligasi kita,” ungkapnya dalam sesi Edukasi Wartawan Bursa Efek Indonesia (BEI) yang diselenggarakan secara daring pada Jumat, 23 Januari lalu. Pergeseran alokasi modal ini dipicu oleh sejumlah faktor fundamental yang perlu dicermati lebih lanjut oleh para investor.
Analisis Mendalam Pergeseran Fokus Investor Asing
Kekhawatiran utama yang kini membayangi investor asing, menurut analisis Hans Kwee, adalah potensi pelebaran defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Defisit APBN yang melebar secara inheren akan mendorong pemerintah untuk menerbitkan lebih banyak surat utang negara atau obligasi demi membiayai kebutuhan belanja negara. Implikasi langsung dari peningkatan pasokan obligasi ini adalah potensi kenaikan yield obligasi. Yield yang meningkat secara umum berarti harga obligasi akan turun, yang tentu saja kurang menarik bagi investor yang mencari imbal hasil stabil.
Lebih lanjut, Hans Kwee menjelaskan bahwa kondisi yield obligasi Indonesia sebelumnya berada pada level yang relatif rendah. Tingkat yield yang rendah ini secara teoritis menyisakan ruang yang cukup besar untuk mengalami penyesuaian ke arah atas. Ketika yield obligasi naik, investor yang memegang obligasi lama akan mengalami kerugian unrealized loss, sementara obligasi baru yang diterbitkan akan menawarkan imbal hasil yang lebih menarik. Perubahan dinamika ini menjadi salah satu pendorong utama mengapa investor asing mulai mempertimbangkan kembali alokasi aset mereka, mencari potensi pertumbuhan yang lebih tinggi di pasar saham.
Proyeksi IHSG Menuju 10.000 dengan Volatilitas Tinggi
Menyongsong tahun 2025, Hans Kwee memprediksi bahwa emiten-emiten yang terdaftar di bursa akan menghadapi tekanan terhadap kinerja keuangannya. Tekanan ini dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk potensi perlambatan ekonomi global, ketidakpastian kebijakan, atau perubahan daya beli masyarakat. Namun, pandangan optimis kembali mengemuka ketika melihat proyeksi untuk tahun 2026. Hans Kwee meyakini bahwa situasi pasar saham akan mengalami pemulihan yang signifikan pada tahun 2026, seiring dengan bangkitnya kembali daya beli masyarakat. Pemulihan daya beli ini akan mendorong peningkatan permintaan barang dan jasa, yang pada gilirannya akan berdampak positif pada kinerja fundamental perusahaan.
“Situasi pasar saham akan sangat tinggi di 2026, karena isu-isu yang tadi saya sebutkan,” tegas Hans Kwee, merujuk pada faktor-faktor pemulihan ekonomi dan daya beli yang ia paparkan sebelumnya. Proyeksi ini didasarkan pada analisis siklus ekonomi dan ekspektasi terhadap kebijakan pemerintah yang dapat menstimulasi pertumbuhan.
Dalam proyeksi yang lebih spesifik mengenai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Hans Kwee memberikan gambaran yang cukup ambisius. Ia memperkirakan bahwa IHSG berpotensi menembus level psikologis yang sangat signifikan, yaitu 10.000 dalam kurun waktu 12 bulan ke depan. Namun, ia tidak serta merta mengabaikan potensi risiko dan ketidakpastian yang ada di pasar. Hans Kwee secara eksplisit menyatakan bahwa skenario terburuk atau bear case masih mungkin terjadi, di mana IHSG dapat mengalami koreksi tajam hingga mencapai level 7.500. “Arah IHSG itu menuju 10 ribu, biarpun dengan bear case itu ke 7500 dalam 12 bulan ke depan. Tapi arahnya naik dengan volatilitas yang sangat tinggi,” pungkasnya. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa perjalanan menuju level 10.000 diperkirakan akan diwarnai oleh fluktuasi yang cukup ekstrem, membutuhkan strategi investasi yang cermat dan toleransi risiko yang tinggi dari para investor.

















