Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan lonjakan signifikan pada perdagangan sesi pertama Selasa (3/2/2026), di mana indeks berhasil menembus kembali level psikologis 8.000 setelah sempat mengalami tekanan hebat di awal pembukaan. Pergerakan dramatis ini dipicu oleh aksi beli masif yang merespons membaiknya arus dana asing serta sentimen positif dari bursa regional Asia yang mayoritas bergerak di zona hijau. Berdasarkan data RTI Business hingga pukul 10.12 WIB, IHSG tercatat menguat sebesar 1,04 persen atau bertambah 82,106 poin ke posisi 8.004,837, menandakan optimisme investor terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah fluktuasi pasar global yang sempat membayangi pada awal pekan ini.
Kondisi pasar pada pembukaan perdagangan pagi ini sebenarnya diawali dengan suasana yang cukup mencekam bagi para pelaku pasar. IHSG dibuka melemah 0,35 persen ke level 7.894, bahkan sempat terperosok lebih dalam hingga menyentuh titik terendah harian di level 7.712,35. Penurunan tajam di awal sesi ini mencerminkan adanya kekhawatiran sesaat dan tekanan jual yang cukup tinggi, di mana para investor cenderung melakukan aksi ambil untung atau merespons ketidakpastian global. Namun, kondisi tersebut tidak bertahan lama karena daya beli investor, terutama investor institusi dan asing, mulai masuk ke pasar saat harga saham-saham berkapitalisasi besar (blue chip) dinilai sudah cukup terdiskon. Transformasi dari zona merah ke zona hijau ini menunjukkan resiliensi pasar modal Indonesia yang sangat kuat dalam menghadapi volatilitas jangka pendek.
Dinamika Pergerakan Pasar: Dari Tekanan Jual Hingga Rebound Dramatis
Setelah melewati fase kritis di level 7.700-an, grafik pergerakan IHSG menunjukkan kurva pemulihan yang tajam atau yang sering dikenal dengan istilah V-shape recovery. Tekanan jual yang semula mendominasi berangsur-angsur mereda dan berganti menjadi akumulasi beli yang masif. Indeks terus merangkak naik melampaui level pembukaan 7.888,77 hingga akhirnya mencapai level tertinggi harian di 8.018,09 sebelum sedikit berkonsolidasi di atas angka 8.000. Penguatan ini tidak hanya sekadar angka, melainkan simbol kembalinya kepercayaan pasar terhadap fundamental ekonomi nasional. Para analis melihat bahwa keberhasilan IHSG bertahan di atas level 8.000 merupakan sinyal teknikal yang sangat positif, yang berpotensi memicu reli lanjutan pada sesi perdagangan berikutnya apabila volume perdagangan tetap terjaga konsisten.
Kekuatan penguatan IHSG pada sesi I ini ditopang oleh partisipasi pasar yang sangat luas, di mana mayoritas saham bergerak di zona hijau. Tercatat sebanyak 500 saham mengalami kenaikan harga, yang menunjukkan bahwa reli kali ini bersifat sektoral luas dan tidak hanya bertumpu pada satu atau dua sektor tertentu saja. Di sisi lain, terdapat 200 saham yang masih mengalami pelemahan, sementara 110 saham lainnya bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga sama sekali. Dominasi saham yang menguat ini mencerminkan adanya market breadth yang sehat, di mana kepercayaan investor tersebar merata mulai dari sektor perbankan, infrastruktur, hingga sektor konsumsi yang kembali bergairah seiring dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi yang stabil.
Analisis Aktivitas Transaksi dan Kapitalisasi Pasar
Dari sisi aktivitas perdagangan, intensitas transaksi di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan angka yang sangat progresif sepanjang sesi pertama ini. Volume transaksi tercatat mencapai 22,64 miliar lembar saham yang berpindah tangan, dengan total nilai transaksi yang menembus angka Rp 10,56 triliun. Tingginya nilai transaksi dalam waktu setengah hari perdagangan ini mengindikasikan likuiditas pasar yang sangat tinggi dan minat investasi yang besar, baik dari pemodal ritel maupun korporasi. Frekuensi perdagangan pun tercatat sangat aktif dengan total 1,05 juta kali transaksi, sebuah angka yang menunjukkan dinamika jual-beli yang sangat cepat di pasar reguler maupun pasar negosiasi. Pertumbuhan ini secara langsung mengerek kapitalisasi pasar BEI ke angka yang fantastis, yakni mencapai Rp 14.396,96 triliun, memperkuat posisi bursa Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Asia Tenggara.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, turut memberikan pandangan optimis terkait kondisi pasar modal saat ini. Ia mengungkapkan bahwa arus dana asing (foreign flow) mulai menunjukkan tren perbaikan yang signifikan, yang menjadi katalisator utama masuknya IHSG ke jalur hijau. Membaiknya aliran modal masuk ini tidak lepas dari persepsi positif investor global terhadap kebijakan fiskal dan moneter pemerintah yang dinilai cukup pruden. Selain faktor domestik, kondisi bursa Asia yang secara kompak menghijau juga memberikan dorongan psikologis tambahan bagi para trader di dalam negeri. Sinergi antara perbaikan arus modal asing dan sentimen regional yang positif menciptakan momentum yang tepat bagi IHSG untuk memutus tren pelemahan yang sempat terjadi pada beberapa hari sebelumnya.
Secara teknikal, keberhasilan IHSG kembali ke level 8.000 menjadi catatan penting bagi para manajer investasi dalam menyusun strategi portofolio mereka di awal bulan Februari ini. Level 8.000 kini berfungsi sebagai level dukungan (support) psikologis baru yang diharapkan mampu menahan tekanan jika terjadi fluktuasi di masa mendatang. Keberhasilan menembus level tertinggi 8.018,09 pada sesi pertama memberikan harapan bahwa indeks memiliki ruang gerak yang cukup luas untuk menguji level resistensi baru. Para pelaku pasar kini menantikan data-data ekonomi makro terbaru yang akan dirilis pemerintah, serta laporan kinerja keuangan emiten tahun penuh 2025 yang diprediksi akan memberikan hasil yang positif, sehingga dapat terus menjaga momentum penguatan IHSG hingga penutupan perdagangan sore nanti.
Sebagai rangkuman, performa IHSG pada Selasa (3/2) sesi I ini menggambarkan sebuah skenario pemulihan yang ideal di pasar modal. Meskipun sempat dibuka dengan pelemahan dan tekanan jual yang cukup dalam, kekuatan fundamental dan arus modal asing mampu membalikkan keadaan secara dramatis. Dengan nilai transaksi yang mencapai belasan triliun rupiah dan kapitalisasi pasar yang terus membengkak, bursa saham Indonesia menunjukkan kesiapannya untuk bersaing di level global. Investor diharapkan tetap waspada terhadap dinamika pasar, namun dengan melihat data pertumbuhan 500 saham yang menghijau, optimisme tampaknya masih akan mendominasi lantai bursa dalam jangka pendek hingga menengah.

















