Jakarta—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), barometer utama kinerja pasar modal Indonesia, mencatat penutupan yang kurang menggembirakan pada sesi perdagangan siang ini, Jumat (23/1). Indeks kebanggaan bursa Tanah Air ini terpaksa mengakhiri paruh pertama hari perdagangan di zona merah, sebuah indikasi sentimen bearish yang cukup dominan di kalangan investor. Secara spesifik, IHSG sesi I terpangkas tajam sebesar 115,28 poin, merepresentasikan penurunan persentase sebesar 1,28 persen, untuk kemudian menetap di level 8.876. Penurunan ini menandai tekanan jual yang signifikan, mencerminkan adanya kekhawatiran atau aksi profit taking yang meluas di pasar domestik, meskipun konteks tanggal 23 Januari tanpa tahun spesifik memerlukan asumsi bahwa ini adalah data historis yang relevan untuk analisis pasar pada hari tersebut.
Tidak hanya IHSG, indeks saham unggulan LQ45 yang berisi 45 saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar juga tidak mampu menghindar dari tekanan jual. Indeks LQ45 tercatat melemah 5,91 poin atau setara dengan 0,68 persen, mengakhiri sesi di level 869,19. Meskipun penurunan LQ45 secara persentase lebih moderat dibandingkan IHSG, hal ini tetap menunjukkan bahwa saham-saham blue-chip yang seringkali dianggap lebih stabil pun terimbas sentimen negatif pasar. Gambaran lebih luas mengenai kondisi pasar terlihat dari perbandingan jumlah saham yang bergerak. Data menunjukkan bahwa hanya 124 saham yang berhasil mencatatkan kenaikan harga, sementara mayoritas, yakni 585 saham, mengalami penurunan. Sebanyak 95 saham lainnya terpantau stagnan atau tidak mengalami perubahan harga. Rasio saham turun yang jauh lebih besar dibandingkan saham naik ini merupakan indikator kuat bahwa sentimen negatif menyelimuti hampir seluruh spektrum pasar, mulai dari saham-saham berkapitalisasi besar hingga menengah dan kecil.
Aktivitas perdagangan pada sesi siang ini juga menunjukkan dinamika yang menarik. Frekuensi transaksi saham tercatat sangat tinggi, mencapai 2.131.434 kali. Angka frekuensi yang masif ini mengindikasikan bahwa banyak investor, baik institusional maupun ritel, aktif melakukan jual beli saham sepanjang sesi. Total volume perdagangan juga membengkak hingga 40,89 miliar saham, dengan nilai transaksi agregat mencapai Rp 18,39 triliun. Volume dan nilai transaksi yang besar di tengah penurunan pasar bisa diinterpretasikan dalam beberapa cara. Pertama, ini bisa menjadi tanda aksi jual panik (panic selling) oleh investor yang ingin mengamankan keuntungan atau membatasi kerugian. Kedua, bisa juga mengindikasikan adanya pergeseran portofolio yang signifikan, di mana investor menjual saham-saham tertentu untuk kemudian masuk ke aset lain yang dianggap lebih aman atau memiliki potensi lebih baik. Tingginya likuiditas ini, meskipun disertai penurunan harga, menunjukkan bahwa pasar tetap aktif dan responsif terhadap berbagai katalis.
Analisis Mendalam Saham-Saham Top Losers
Pada sesi perdagangan siang ini, beberapa saham mencatatkan penurunan harga yang sangat signifikan, menempatkan mereka dalam daftar “top losers”. Penurunan tajam ini seringkali disebabkan oleh kombinasi faktor, mulai dari sentimen pasar sektoral yang negatif, berita spesifik perusahaan yang buruk, hingga aksi jual besar-besaran oleh investor institusional. Memahami saham-saham yang paling tertekan dapat memberikan wawasan mengenai sektor mana yang sedang menghadapi tantangan atau emiten mana yang sedang mengalami gejolak.
-
Petrosea (PTRO): Saham perusahaan kontraktor pertambangan ini mengalami koreksi paling dalam, anjlok 1.550 poin atau setara dengan 14,39 persen, menutup perdagangan di level 9.225. Penurunan drastis PTRO bisa jadi dipengaruhi oleh fluktuasi harga komoditas global, khususnya batu bara dan mineral, yang secara langsung berdampak pada prospek bisnis jasa pertambangan. Selain itu, sentimen negatif terhadap sektor energi atau infrastruktur juga bisa menjadi pemicu.
-
Bersama Zatta Jaya (ZATA): Emiten di sektor ritel atau fesyen ini juga tak luput dari tekanan, turun 16 poin atau 12,90 persen, mengakhiri sesi di harga 108. Penurunan ZATA mungkin mencerminkan kekhawatiran investor terhadap daya beli masyarakat, persaingan ketat di industri ritel, atau laporan keuangan perusahaan yang kurang memuaskan. Saham-saham di sektor konsumen seringkali sensitif terhadap kondisi ekonomi makro.
-
GTS Internasional (GTSI): Perusahaan yang bergerak di bidang transportasi laut ini tergerus 44 poin atau 10,84 persen, menutup perdagangan di level 362. Kinerja GTSI dapat dipengaruhi oleh tarif angkutan, volume perdagangan internasional, atau biaya operasional yang meningkat seperti harga bahan bakar. Sentimen negatif terhadap sektor logistik dan maritim secara umum juga bisa menjadi faktor.
-
Daaz Bara Lestari (DAAZ): Saham perusahaan batu bara ini merosot 470 poin atau 10,28 persen, dengan harga penutupan 4.100. Meskipun harga batu bara global sempat menunjukkan volatilitas, penurunan DAAZ bisa mengindikasikan adanya koreksi setelah kenaikan sebelumnya, atau kekhawatiran terhadap regulasi baru, biaya produksi, maupun permintaan dari pasar utama seperti Tiongkok dan India.
-
Astrindo Nusantara Infrastruktur (BIPI): Emiten di sektor infrastruktur dan energi ini juga mengalami pelemahan signifikan, turun 22 poin atau 9,91 persen, menutup sesi di level 200. Prospek BIPI sangat terkait dengan proyek-proyek infrastruktur pemerintah dan kebutuhan energi. Penurunan ini mungkin mencerminkan kekhawatiran terhadap pendanaan proyek, penundaan, atau perubahan kebijakan yang berdampak pada sektor tersebut.


















