Dunia pasar modal Indonesia diguncang krisis kepemimpinan masif setelah empat pejabat teras Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) secara mengejutkan menyatakan pengunduran diri massal pada Jumat, 30 Januari 2026. Langkah dramatis yang diambil di penghujung pekan tersebut merupakan buntut dari guncangan hebat yang melanda Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) selama dua hari perdagangan terakhir, di mana sentimen negatif dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) memicu aksi jual panik (panic selling) yang tidak terbendung. Fenomena pengunduran diri kolektif ini menandai salah satu momen paling krusial dalam sejarah stabilitas sektor jasa keuangan nasional, mengingat para pejabat yang mundur merupakan pilar utama dalam perumusan kebijakan dan pengawasan pasar modal di tanah air. Keputusan ini diawali oleh pengunduran diri Direktur Utama BEI, Iman Rachman, pada Jumat pagi, yang kemudian diikuti oleh empat petinggi OJK sebagai bentuk pertanggungjawaban moral atas gejolak pasar yang terjadi.
Merespons situasi yang berkembang cepat tersebut, Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK, Ismail Riyadi, memberikan klarifikasi resmi untuk meredam spekulasi yang berkembang di kalangan pelaku pasar. Dalam keterangan tertulisnya, Ismail mengonfirmasi bahwa surat pengunduran diri dari keempat pejabat tinggi OJK tersebut telah diterima dan disampaikan secara formal sesuai dengan mekanisme serta ketentuan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia. Meskipun terjadi kekosongan kepemimpinan di level puncak secara mendadak, OJK berupaya meyakinkan publik dan investor bahwa integritas institusi tetap terjaga. OJK menegaskan bahwa proses transisi ini tidak akan mengganggu efektivitas pelaksanaan tugas, fungsi, serta kewenangan lembaga dalam mengatur dan mengawasi sektor jasa keuangan. Fokus utama otoritas saat ini adalah memastikan bahwa stabilitas sistem keuangan nasional tetap kokoh di tengah tekanan eksternal dan internal yang sedang berlangsung.
Eksodus Petinggi OJK: Profil dan Rekam Jejak Para Tokoh Utama
Daftar pejabat OJK yang memutuskan untuk menanggalkan jabatannya mencakup figur-figur senior yang memiliki pengaruh besar dalam ekosistem keuangan Indonesia. Mereka adalah Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, Wakil Ketua Dewan Komisioner OJK Mirza Adityaswara, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Inarno Djajadi, serta Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek, Pemeriksaan Khusus, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Ida Bagus Aditya Jayaantara. Kepergian keempat tokoh ini menciptakan lubang besar dalam struktur pengambilan keputusan OJK, mengingat latar belakang mereka yang sangat kuat di bidang ekonomi makro, diplomasi internasional, hingga teknis pasar modal.
Mahendra Siregar, yang memimpin OJK sejak dilantik pada 20 Juli 2022, dikenal sebagai diplomat ekonomi ulung. Sebelum menakhodai OJK, ia mengemban amanah sebagai Wakil Menteri Luar Negeri (2019-2022) dan pernah menduduki posisi strategis sebagai Duta Besar RI untuk Amerika Serikat. Karier birokrasinya sangat mentereng, mencakup jabatan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Wakil Menteri Keuangan, hingga Wakil Menteri Perdagangan. Dengan latar belakang pendidikan Master of Economics dari Monash University, Mahendra merupakan sosok yang diandalkan dalam menjaga hubungan antara stabilitas pasar domestik dengan dinamika ekonomi global. Pengunduran dirinya menjadi sinyal kuat mengenai beratnya beban tanggung jawab yang dipikul otoritas saat ini.
Di sisi lain, Mirza Adityaswara membawa perspektif moneter yang mendalam ke dalam OJK. Sebelum menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Komisioner, ia adalah Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (2013-2019) dan Direktur Utama Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI). Pengalaman Mirza membentang luas dari sektor perbankan hingga pasar modal, termasuk peran pentingnya di Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Mandiri Sekuritas. Sebagai lulusan Macquarie University dengan gelar Master of Applied Finance, Mirza dianggap sebagai jangkar stabilitas yang memahami seluk-beluk likuiditas dan risiko sistemik. Kepergiannya, bersamaan dengan Mahendra, mengguncang kepercayaan pasar terhadap kesinambungan kebijakan pengawasan terintegrasi.
Guncangan di Sektor Pasar Modal dan Bursa Efek
Sektor pengawasan pasar modal secara spesifik kehilangan dua motor penggeraknya, yakni Inarno Djajadi dan Ida Bagus Aditya Jayaantara. Inarno Djajadi adalah veteran pasar modal yang telah malang melintang di berbagai institusi kunci seperti KPEI dan BEI sebelum akhirnya bergabung dengan OJK. Kariernya yang dimulai sejak tahun 1989 sebagai Treasury Officer memberinya pemahaman praktis yang luar biasa mengenai mekanisme perdagangan efek. Inarno juga aktif dalam organisasi profesi seperti ISEI Jaya dan IPEI, menjadikannya jembatan komunikasi yang efektif antara regulator dan pelaku industri. Sementara itu, Ida Bagus Aditya Jayaantara merupakan pejabat yang baru saja mendapatkan promosi strategis pada awal Januari 2026. Meskipun baru seumur jagung dalam jabatan barunya sebagai Deputi Komisioner, latar belakangnya di Direktorat Jenderal Kekayaan Negara (DJKN) Kementerian Keuangan memberikan dimensi pengawasan aset negara yang krusial bagi OJK.
Krisis ini mencapai puncaknya ketika Iman Rachman, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), turut menyatakan mundur. Iman, yang menjabat sejak Juni 2022, memiliki rekam jejak panjang di perusahaan pelat merah dan sekuritas, termasuk di Pertamina, Pelindo, dan Danareksa. Di bawah kepemimpinannya, BEI berupaya meningkatkan literasi dan jumlah investor domestik. Namun, polemik mengenai indeks MSCI yang mengidentifikasi adanya praktik “saham gorengan” atau manipulasi harga pada sejumlah emiten di bursa Indonesia menjadi pukulan telak. Hal ini memicu ketidakpercayaan investor global yang berujung pada anjloknya IHSG secara drastis pada akhir Januari 2026. Pengunduran diri Iman dipandang sebagai bentuk pertanggungjawaban profesional atas kegagalan dalam menjaga integritas perdagangan di bursa dari praktik-praktik yang merugikan investor.
Dampak Terhadap Stabilitas Pasar dan Proyeksi ke Depan
Fenomena pengunduran diri massal ini terjadi di tengah situasi pasar yang sangat volatil. Data menunjukkan bahwa IHSG mengalami penurunan tajam pada tanggal 28 dan 29 Januari 2026, yang dipicu oleh evaluasi MSCI terhadap kualitas emiten di Indonesia. Temuan mengenai adanya manipulasi pasar atau “saham gorengan” membuat investor asing melakukan aksi jual besar-besaran karena khawatir akan risiko tata kelola (governance) di pasar modal Indonesia. Kondisi ini menciptakan efek domino; ketika harga saham anjlok, tekanan terhadap regulator dan pengelola bursa meningkat, yang akhirnya bermuara pada keputusan para petinggi tersebut untuk meletakkan jabatan mereka.
Meskipun OJK menyatakan bahwa operasional lembaga tetap berjalan normal, pasar kini menantikan langkah cepat dari pemerintah, khususnya Presiden dan Menteri Keuangan, untuk mengisi kekosongan jabatan tersebut. Ketidakpastian mengenai siapa yang akan menggantikan Mahendra Siregar dan koleganya dapat memperpanjang sentimen negatif di pasar modal. Investor membutuhkan kepastian mengenai langkah-langkah konkret yang akan diambil otoritas baru nantinya untuk membersihkan bursa dari praktik manipulatif dan mengembalikan kredibilitas IHSG di mata internasional. Untuk saat ini, beberapa pejabat tinggi lainnya masih bertahan di OJK, namun tantangan untuk menjaga stabilitas sektor jasa keuangan nasional kini berada pada titik terberatnya sejak pandemi beberapa tahun silam.
Secara keseluruhan, peristiwa pada 30 Januari 2026 ini akan dicatat sebagai sejarah kelam sekaligus titik balik bagi reformasi pasar modal Indonesia. Publik berharap bahwa pengunduran diri para pejabat ini bukan sekadar seremoni pertanggungjawaban, melainkan awal dari pembenahan sistemik yang lebih transparan dan akuntabel. Ke depannya, pengawasan terhadap emiten, transaksi efek, dan perlindungan investor harus diperketat agar kejadian serupa tidak terulang kembali dan kepercayaan pasar dapat dipulihkan sepenuhnya.

















