| Kategori Sektor | Fokus Utama Kerja Sama |
|---|---|
| Energi & Lingkungan | Energi bersih, transisi energi, dan pembangunan berkelanjutan. |
| Teknologi & Digital | Ekonomi digital, inovasi teknologi, dan penguatan rantai pasok global. |
| Sosial & Kesehatan | Pendidikan tinggi, riset kesehatan, dan industri life sciences. |
| Infrastruktur & Jasa | Transportasi publik, kawasan industri, keuangan, dan jasa profesional. |
| Pangan & Pertanian | Ketahanan pangan, teknologi pertanian, dan perdagangan komoditas. |
Melalui kemitraan yang komprehensif ini, Indonesia dan Inggris diproyeksikan mampu mengoptimalkan potensi ekonomi masing-masing di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global yang terus berubah. Penguatan rantai pasok (supply chain) menjadi poin yang sangat ditekankan oleh Menko Airlangga, mengingat posisi strategis Indonesia dalam peta perdagangan dunia. Dengan dukungan teknologi dan standar kualitas dari Inggris, produk-produk Indonesia diharapkan dapat lebih mudah menembus pasar Eropa dan global secara lebih luas, sementara Inggris mendapatkan akses ke pasar Indonesia yang merupakan ekonomi terbesar di Asia Tenggara.
Analisis Data Perdagangan dan Realisasi Investasi Strategis
Inggris secara historis dan faktual tetap menjadi salah satu mitra dagang paling strategis bagi Indonesia di kawasan Eropa. Berdasarkan data ekonomi terbaru, nilai perdagangan bilateral antara Indonesia dan Inggris pada tahun 2024 telah mencapai angka yang signifikan, yakni sebesar US$ 2,78 miliar. Tren perdagangan ini menunjukkan grafik yang terus meningkat sejak tahun 2020, mencerminkan pola hubungan yang saling melengkapi (komplementer). Indonesia mengekspor berbagai komoditas unggulan dan produk manufaktur, sementara Inggris memasok teknologi tinggi, jasa keuangan, dan produk-produk inovasi lainnya yang dibutuhkan untuk industrialisasi di tanah air.
Di sisi investasi, performa Inggris di Indonesia juga menunjukkan angka yang impresif. Hingga triwulan III tahun 2025, realisasi investasi langsung (Foreign Direct Investment) dari Inggris ke Indonesia tercatat mencapai US$ 402,6 juta. Investasi ini tersebar di berbagai sektor vital yang menjadi mesin pertumbuhan ekonomi nasional, antara lain:
- Sektor Pertambangan: Fokus pada hilirisasi mineral dan praktik pertambangan yang ramah lingkungan.
- Industri Pangan: Pengembangan pabrik pengolahan makanan untuk pasar domestik dan ekspor.
- Sektor Pertanian: Investasi dalam teknologi pertanian modern untuk meningkatkan produktivitas lahan.
- Kawasan Industri dan Jasa: Pembangunan infrastruktur pendukung di kawasan ekonomi khusus serta pengembangan jasa profesional.
Secretary of State for Business and Trade Inggris, Peter Kyle MP, dalam pernyataannya menyampaikan bahwa kerja sama ekonomi strategis ini merupakan cerminan dari komitmen mendalam kedua pemerintahan untuk mempererat hubungan bilateral. Kyle menekankan bahwa EGP akan membuka pintu selebar-lebarnya bagi kolaborasi antara pemerintah dengan pemerintah (G2G) maupun antar pelaku usaha (B2B). Momentum kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Inggris dipandang sebagai titik balik yang menandai semakin kuatnya hubungan strategis kedua negara, yang tidak hanya terbatas pada sektor ekonomi tetapi juga mencakup stabilitas kawasan dan keamanan global.
Sebagai penutup dari rangkaian pertemuan tingkat tinggi tersebut, kedua menteri memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Tim Perunding dari kedua belah pihak. Kerja keras para negosiator dalam merumuskan butir-butir kesepakatan yang kompleks telah membuahkan hasil yang sangat memuaskan dan diprediksi akan memberikan dampak jangka panjang bagi kesejahteraan rakyat di kedua negara. Dengan adanya EGP, Indonesia kini memiliki instrumen baru untuk menavigasi tantangan ekonomi global, sekaligus mempercepat langkah menuju visi Indonesia Emas 2045 melalui kemitraan yang setara dan saling menguntungkan dengan salah satu kekuatan ekonomi terbesar di dunia.


















